RADARBONANG.ID - Ancaman gempa megathrust masih membayangi Indonesia yang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.
Meski wilayah berisiko tinggi telah dipetakan, para ilmuwan hingga kini belum mampu memastikan kapan gempa besar tersebut akan terjadi.
Karena itu, upaya menghadapi potensi gempa megathrust lebih difokuskan pada kesiapsiagaan masyarakat dan penguatan infrastruktur, bukan pada upaya menebak waktu terjadinya bencana.
"Potensi tidak sama dengan penetapan waktu kejadian," dikutip dari kanal YouTube Kamar Film.
Baca Juga: Frankie MacDonald Ramal Gempa M 9 Guncang Jakarta Sebelum 2026 Berakhir, Siapa Sebenarnya Sosok Ini?
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peta potensi megathrust bukanlah prediksi mengenai waktu terjadinya gempa.
Informasi itu justru menjadi landasan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempersiapkan langkah mitigasi.
Indonesia berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik utama, yakni Indo-Australia, Eurasia atau Sunda, dan Pasifik.
Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas seismik di Tanah Air tergolong tinggi sehingga sejumlah wilayah rawan mengalami gempa bumi dan tsunami.
Pemetaan Megathrust Jadi Dasar Mitigasi Bencana
Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) telah memetakan sejumlah segmen megathrust di sepanjang zona subduksi Indonesia.
Pemetaan ini membantu para peneliti memahami potensi sumber gempa sekaligus menjadi acuan dalam menentukan tingkat risiko di berbagai daerah.
Informasi mengenai sumber dan bahaya gempa juga dimanfaatkan untuk mendukung perencanaan pembangunan, terutama dalam menentukan standar konstruksi bangunan dan infrastruktur.
"Peta sumber dan bahaya gempa Indonesia digunakan dalam perencanaan bangunan dan infrastruktur," lanjut narasi tersebut.
Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan parameter desain bangunan berdasarkan kondisi geologi dan karakteristik tanah di suatu wilayah.
Dengan begitu, bangunan diharapkan memiliki ketahanan lebih baik ketika terjadi guncangan.
Secara ilmiah, gempa megathrust berkaitan dengan proses penunjaman lempeng di zona subduksi. Pergerakan lempeng yang berlangsung beberapa sentimeter setiap tahun dapat mengalami penguncian atau locking.
Kondisi ini membuat energi terus terkumpul selama puluhan hingga ratusan tahun.
Ketika bagian lempeng yang terkunci akhirnya bergeser atau mengalami keretakan secara tiba-tiba, energi yang tersimpan dilepaskan dalam jumlah besar dan memicu gempa bumi.
Jika gempa terjadi di dasar laut dan menyebabkan perubahan dasar laut secara signifikan, peristiwa tersebut juga berpotensi memicu tsunami.
Teknologi Belum Bisa Memastikan Waktu Gempa
Sejumlah peristiwa besar dalam sejarah menunjukkan dampak aktivitas subduksi di Indonesia. Gempa Mentawai pada 1797 dan 1833 diperkirakan memiliki magnitudo lebih dari 8.
Sementara itu, gempa Aceh pada 2004 memicu tsunami Samudra Hindia, disusul gempa Pangandaran pada 2006 yang dikenal sebagai tsunami earthquake.
Untuk mengkaji potensi gempa pada masa mendatang, para peneliti menggunakan berbagai metode, termasuk pengukuran geodesi dengan teknologi GPS.
Analisis terhadap pertumbuhan terumbu karang mikroatol juga dimanfaatkan untuk merekonstruksi perubahan permukaan tanah yang terjadi selama ratusan tahun.
Meski teknologi dan metode penelitian terus berkembang, para ilmuwan belum dapat menentukan tanggal, jam, maupun lokasi pasti terjadinya gempa.
Pemetaan hanya membantu mengidentifikasi wilayah dan sumber gempa yang berpotensi menimbulkan bahaya.
Oleh sebab itu, mitigasi menjadi langkah penting untuk menekan dampak bencana.
Upaya tersebut meliputi penerapan standar bangunan tahan gempa, pemetaan kawasan rawan likuifaksi dan penguatan guncangan, serta peningkatan edukasi kebencanaan.
Masyarakat juga perlu memahami prosedur keselamatan saat gempa, termasuk langkah drop, cover, and hold on atau merunduk, berlindung, dan berpegangan.
Latihan evakuasi secara berkala turut membantu meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Potensi megathrust merupakan bagian dari kondisi geologis Indonesia yang tidak dapat dihilangkan.
Namun, pembangunan infrastruktur yang tangguh, perencanaan mitigasi yang matang, dan kesiapsiagaan masyarakat dapat membantu mengurangi risiko kerusakan maupun korban jiwa. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari