Robot Sudah Dipakai di Pabrik Toyota, tapi Manusia Tetap Dibutuhkan, Ini Alasan di Baliknya

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:04 WIB
Kenapa pabrik Toyota Indonesia tidak mengganti semua pekerja dengan robot?. Ternyata, jawabannya bukan karena Toyota tertinggal teknologi. Robot tetap digunakan dalam sejumlah proses produksi, tetapi manusia masih memegang peran penting dalam menjaga kualitas, memecahkan masalah, hingga melakukan perbaikan. (toyota)
Kenapa pabrik Toyota Indonesia tidak mengganti semua pekerja dengan robot?. Ternyata, jawabannya bukan karena Toyota tertinggal teknologi. Robot tetap digunakan dalam sejumlah proses produksi, tetapi manusia masih memegang peran penting dalam menjaga kualitas, memecahkan masalah, hingga melakukan perbaikan. (toyota)

RADARBONANG.ID - Pabrik mobil modern identik dengan robot dan mesin otomatis yang bekerja dengan presisi tinggi.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh proses produksi kendaraan harus diserahkan kepada mesin.

Hal itu juga berlaku di Indonesia. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih mempertahankan peran tenaga manusia dalam berbagai tahapan produksi kendaraan.

Keputusan tersebut bukan berarti Toyota Indonesia menolak perkembangan teknologi.

Sebaliknya, perusahaan menerapkan otomatisasi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan masing-masing proses produksi.

Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya mengatakan pengembangan kemampuan pekerja menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan teknologi di industri otomotif.

Baca Juga: Sering Cek Ponsel Setiap Ada Notifikasi? Kebiasaan Sepele Ini Bisa Membuat Fokusmu Terpecah

"Kami melakukan otomatisasi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan proses produksi," kata Nyoman di Karawang, Selasa.

Bukan Semua Pekerjaan Harus Digantikan Robot

Perkembangan teknologi membuat robot semakin banyak digunakan dalam industri manufaktur.

Mesin otomatis dapat mengerjakan pekerjaan tertentu dengan tingkat presisi dan konsistensi yang tinggi.

Namun, Toyota memiliki pendekatan berbeda dalam menentukan proses yang perlu diotomatisasi.

Otomatisasi tidak ditempatkan sebagai tujuan utama.

Teknologi digunakan ketika memang dapat memberikan manfaat terhadap kualitas, keselamatan, efisiensi, atau membantu pekerja dalam menjalankan tugas yang sulit.

Pendekatan tersebut sejalan dengan Toyota Production System atau TPS yang diterapkan TMMIN.

Toyota menjelaskan TPS memiliki konsep Jidoka, yakni otomatisasi dengan sentuhan manusia.

Ketika terjadi masalah dalam proses produksi, sistem dapat menghentikan peralatan untuk mencegah munculnya produk cacat.

Dengan konsep tersebut, teknologi dan manusia tidak ditempatkan sebagai dua hal yang harus saling menggantikan.

Keduanya justru digunakan untuk saling melengkapi dalam menjaga kualitas kendaraan.

Manusia Tetap Punya Peran Penting

Salah satu alasan tenaga manusia masih dipertahankan adalah kemampuan pekerja untuk melakukan perbaikan terhadap proses produksi.

Robot memang dapat menjalankan pekerjaan yang telah diprogram.

Namun, manusia tetap dibutuhkan untuk memahami kondisi di lapangan, menemukan masalah, melakukan evaluasi, serta mengembangkan proses agar menjadi lebih baik.

Toyota bahkan memiliki prinsip perbaikan berkelanjutan atau Kaizen.

Melalui pendekatan tersebut, pekerja tidak hanya menjalankan pekerjaan secara berulang.

Mereka juga didorong untuk menemukan cara agar proses produksi menjadi lebih aman, efisien, dan menghasilkan kualitas yang lebih baik.

Karena itu, kemampuan pekerja justru ikut dikembangkan seiring meningkatnya penggunaan teknologi.

Toyota Pilih Otomatisasi Secara Bertahap

Nyoman mengatakan TMMIN terus mengembangkan kompetensi karyawan agar sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

Pekerja tidak hanya dibekali keterampilan yang berkaitan dengan proses produksi.

Mereka juga diarahkan untuk memiliki kemampuan di bidang teknologi, termasuk pemrograman.

Langkah tersebut menjadi semakin penting ketika industri otomotif memasuki era elektrifikasi.

Sebelum memproduksi kendaraan elektrifikasi, Toyota tidak hanya perlu menyiapkan teknologi dan fasilitas manufaktur.

Perusahaan juga harus memastikan sumber daya manusia memahami teknologi yang digunakan.

Kompetensi tersebut mencakup keselamatan, proses produksi, proses pengiriman hingga pengendalian kualitas kendaraan elektrifikasi.

Ada Filosofi "Make People Before Make Product"

Pendekatan Toyota terhadap pekerja juga tercermin dalam filosofi yang disebut "Make People before Make Product".

Filosofi tersebut menempatkan pengembangan manusia sebagai bagian penting dari kegiatan perusahaan.

Artinya, perkembangan teknologi tidak hanya dilihat dari seberapa banyak pekerjaan yang bisa dilakukan mesin.

Toyota juga memperhatikan bagaimana pekerja dapat berkembang dan memiliki keterampilan baru sesuai perubahan industri.

Konsep tersebut menjadi relevan ketika otomatisasi semakin berkembang di industri otomotif.

Alih-alih hanya melihat robot sebagai pengganti manusia, Toyota juga membutuhkan pekerja yang mampu mengoperasikan, memahami, memprogram, serta merawat teknologi tersebut.

Pekerja Perlu Naik Level

Perubahan teknologi membuat jenis keterampilan yang dibutuhkan industri ikut berubah.

Pekerja di lini produksi tidak cukup hanya memahami pekerjaan manual.

Mereka juga perlu memahami teknologi yang digunakan dalam proses manufaktur.

Karena itu, Toyota terus mendorong pengembangan kompetensi karyawan.

Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa otomatisasi tidak selalu berarti berkurangnya peran manusia dalam industri.

Dalam beberapa kondisi, otomatisasi justru membuat pekerja harus memiliki kemampuan yang lebih tinggi.

Mesin dapat mengambil alih pekerjaan tertentu yang bersifat berat, berulang, atau membutuhkan tingkat konsistensi tinggi.

Sementara itu, manusia dapat diarahkan untuk mengawasi proses, melakukan pemecahan masalah, menjaga kualitas, serta mengembangkan sistem produksi.

Ada Konsep All Member All Process

Toyota Indonesia juga menerapkan prinsip AMAP atau All Member All Process.

Melalui prinsip tersebut, perusahaan berupaya memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk terlibat dalam berbagai proses sesuai kompetensi masing-masing.

Pendekatan itu mencakup keberagaman usia, kondisi fisik tertentu hingga kesetaraan gender.

Nyoman menyebut perusahaan juga menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Salah satunya melalui penggunaan alat bantu produksi seperti karakuri yang dapat membantu meringankan pekerjaan.

Saat ini, jumlah pekerja perempuan di fasilitas produksi TMMIN disebut telah mencapai lebih dari 200 orang.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi di pabrik Toyota tidak semata-mata diarahkan untuk menggantikan tenaga kerja.

Robot Tetap Digunakan di Pabrik Toyota

Meski masih mengandalkan manusia, bukan berarti pabrik Toyota Indonesia tidak menggunakan robot.

Teknologi otomatisasi telah digunakan dalam sejumlah proses produksi.

Pada proses pengelasan, misalnya, robot dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan presisi tinggi.

Toyota juga menggunakan teknologi dalam proses pemindahan komponen dan tahapan manufaktur lainnya.

Laman resmi Toyota Indonesia menjelaskan bahwa dalam proses perakitan, komponen kendaraan dapat dibawa oleh robot kepada operator yang memiliki keahlian di bidangnya.

Operator kemudian melakukan pemasangan berbagai komponen seperti mesin, interior, dan eksterior.

Dengan pola tersebut, robot dan manusia bekerja dalam satu rangkaian produksi.

Teknologi Bukan Sekadar Mengurangi Tenaga Kerja

Pendekatan Toyota memberikan gambaran bahwa otomatisasi di industri otomotif tidak selalu identik dengan menggantikan manusia.

Teknologi dapat digunakan untuk membantu pekerja melakukan pekerjaan yang sulit, menjaga konsistensi kualitas, serta meningkatkan keselamatan.

Sementara itu, manusia tetap memegang peranan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, pengembangan proses, dan pengawasan kualitas.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 30 September 2026 di Pegadaian: Antam, Galeri24 dan UBS Bergerak Berbeda

Karena itu, Toyota Indonesia memilih menerapkan otomatisasi secara bertahap berdasarkan kebutuhan.

Bagi perusahaan, pertanyaannya bukan sekadar apakah sebuah pekerjaan bisa dilakukan robot.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah penggunaan robot benar-benar memberikan manfaat terhadap kualitas, efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan proses produksi.

Pada akhirnya, pabrik mobil masa depan bukan hanya tentang seberapa banyak robot yang digunakan.

Kemampuan manusia untuk memahami teknologi dan terus melakukan perbaikan tetap menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
Toyota Indonesia pabrik Toyota Indonesia robot produksi mobil TMMIN produksi mobil Toyota