Harga Kambing Turun di Sejumlah Daerah, Ada yang Anjlok Ratusan Ribu Rupiah, Ini Penyebabnya

Defy Maulida Puspaaji • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 10:36 WIB
Harga kambing di sejumlah daerah dilaporkan mengalami penurunan. Pembeli bisa mendapat peluang harga lebih rendah, tetapi kondisi ternak tetap wajib diperiksa. (ilustrasi)
Harga kambing di sejumlah daerah dilaporkan mengalami penurunan. Pembeli bisa mendapat peluang harga lebih rendah, tetapi kondisi ternak tetap wajib diperiksa. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Harga kambing belakangan menjadi perhatian setelah sejumlah daerah melaporkan penurunan harga di pasar.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat yang sedang mencari kambing, tetapi sekaligus menjadi kabar kurang menggembirakan bagi peternak.

Penurunan harga tidak terjadi dengan besaran yang sama di setiap wilayah.

Kondisi pasar, jumlah stok, permintaan, bobot, jenis kambing, hingga biaya pemeliharaan ikut memengaruhi harga di tingkat peternak dan pedagang.

Di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, harga kambing dilaporkan turun sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per ekor dalam dua bulan terakhir.

Kambing yang sebelumnya berada di kisaran Rp1 juta kini disebut hanya sekitar Rp700 ribu hingga Rp750 ribu. Salah satu faktor yang disebut berpengaruh adalah kemarau panjang yang membuat air dan pakan rumput lebih sulit diperoleh.

Sementara di Ponorogo, Jawa Timur, peternak melaporkan kondisi yang lebih berat.

Harga yang sebelumnya sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,3 juta per ekor disebut turun menjadi Rp500 ribu sampai Rp600 ribu.

Baca Juga: Ramalan Weton Selasa Wage di Akhir September 2026: Ada Fase Rezeki Seret hingga Sangat Baik

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga kambing tidak bisa dilihat hanya dari satu angka.

Harga di satu daerah belum tentu sama dengan wilayah lainnya.

Harga Kambing Turun, Pembeli Mulai Punya Pilihan

Bagi calon pembeli, penurunan harga tentu menjadi kabar yang menarik.

Masyarakat yang sedang mencari kambing untuk dipelihara, konsumsi, pengembangan usaha, maupun kebutuhan lainnya berpeluang mendapatkan ternak dengan harga lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, harga murah sebaiknya tidak langsung menjadi alasan untuk membeli.

Kondisi fisik kambing tetap perlu diperiksa. Bobot, usia, jenis kelamin, kondisi tubuh, kesehatan, hingga tujuan pembelian perlu diperhitungkan sebelum transaksi dilakukan.

Kambing dengan harga Rp700 ribu, misalnya, tentu tidak bisa langsung dibandingkan dengan kambing seharga Rp1,5 juta apabila ukuran, usia, dan kondisi fisiknya berbeda.

Karena itu, calon pembeli perlu melihat kambing secara keseluruhan, bukan hanya nominal yang tercantum di lapak.

Kemarau Ikut Memengaruhi Kondisi Pasar

Penurunan harga kambing di sejumlah daerah juga terjadi ketika peternak menghadapi tantangan mendapatkan pakan.

Di Temanggung, pedagang melaporkan harga kambing turun setelah kondisi kemarau membuat air dan rumput lebih sulit diperoleh.

Penurunan tersebut terjadi dalam kurun sekitar dua bulan.

Situasi serupa juga dilaporkan di Ponorogo. Salah seorang peternak menyebut banyak peternak memilih menjual kambing karena kesulitan mendapatkan pakan hijauan selama musim kemarau.

Bagi peternak, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri.

Kambing yang terus dipelihara tetap membutuhkan pakan dan perawatan.

Ketika biaya pemeliharaan berjalan sementara harga jual turun, keuntungan peternak ikut tertekan.

Karena itu, turunnya harga kambing tidak selalu berarti seluruh pihak mendapatkan keuntungan.

Pembeli memang memiliki kesempatan mendapatkan harga lebih murah, tetapi peternak justru harus menghadapi tekanan dari sisi pendapatan.

Jangan Hanya Terpaku Harga per Ekor

Salah satu kesalahan yang bisa terjadi ketika membeli kambing adalah membandingkan harga tanpa melihat bobotnya.

Kambing berukuran kecil dan kambing berukuran besar tentu memiliki nilai yang berbeda.

Begitu pula dengan kambing muda dan kambing dewasa. Jenis kelamin, kondisi tubuh, serta tujuan pemeliharaan juga dapat membuat harga berbeda.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya membandingkan beberapa pilihan sebelum menentukan kambing yang akan dibawa pulang.

Jika memungkinkan, pembeli dapat menanyakan usia, bobot perkiraan, riwayat pemeliharaan, serta kondisi kesehatan kambing kepada penjual.

Langkah tersebut membantu pembeli mengetahui apakah harga yang ditawarkan memang sebanding dengan kondisi ternak.

Jenis dan Tujuan Pembelian Ikut Menentukan

Harga kambing juga tidak bisa disamaratakan berdasarkan nama komoditasnya saja.

Kambing lokal, kambing pedaging, kambing untuk dikembangkan sebagai indukan, maupun kambing untuk kebutuhan tertentu memiliki pertimbangan berbeda.

Peternak yang ingin mengembangkan usaha tentu akan memperhatikan kualitas calon indukan dan potensi ternak.

Sementara pembeli yang mencari kambing untuk konsumsi akan lebih memperhatikan bobot serta kondisi fisiknya.

Perbedaan tujuan tersebut membuat harga yang dianggap murah oleh satu orang belum tentu menjadi pilihan yang sama bagi pembeli lainnya.

Ada Harga Murah, tetapi Jangan Terburu-buru

Penurunan harga memang dapat menjadi momentum bagi masyarakat yang sudah memiliki rencana membeli kambing.

Namun, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya didasarkan pada informasi bahwa harga sedang turun.

Pembeli tetap perlu melihat langsung kondisi hewan dan membandingkan beberapa penawaran.

Terlebih, harga kambing di pasar dapat berubah mengikuti kondisi pasokan dan permintaan. Data harga juga menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar antarwilayah.

Sebagai gambaran, data harga kambing jantan Bligon di Kulon Progo pada 28 September 2026 menunjukkan kisaran harga jual Rp1,15 juta hingga Rp3,85 juta, tergantung kategori dan usia ternak. Kambing jantan Bligon dewasa tercatat Rp3,65 juta hingga Rp3,85 juta, sedangkan kategori cempe berada di kisaran Rp1,15 juta hingga Rp1,45 juta.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa istilah “harga kambing” sebenarnya mencakup banyak kategori.

Ukuran, usia, jenis, dan kondisi ternak membuat harga per ekor bisa berbeda cukup jauh.

Peternak Perlu Menghitung Ulang Biaya

Di sisi lain, penurunan harga menjadi perhatian serius bagi peternak.

Ketika harga jual turun, peternak perlu menghitung kembali biaya pakan, perawatan, tenaga, serta waktu yang sudah dikeluarkan selama memelihara ternak.

Kondisi kemarau membuat persoalan pakan semakin penting diperhatikan.

Jika rumput sulit diperoleh, biaya untuk memenuhi kebutuhan pakan bisa bertambah.

Ketika pada saat yang sama harga jual kambing justru turun, margin yang diterima peternak semakin sempit.

Baca Juga: Bukan Cuma Outfit, Cincin hingga Phone Charm Kini Jadi Cara Gen Z Tunjukkan Personal Style

Karena itu, perubahan harga kambing tidak hanya menjadi cerita mengenai peluang membeli ternak dengan harga murah.

Di baliknya terdapat dinamika antara stok, permintaan, daya beli, biaya pemeliharaan, dan kondisi lingkungan.

Bagi calon pembeli, penurunan harga bisa menjadi kesempatan untuk mencari kambing sesuai kebutuhan.

Namun, kondisi fisik dan nilai ternak tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Sementara bagi peternak, perubahan harga menjadi pengingat bahwa pengelolaan biaya dan strategi penjualan semakin penting ketika pasar sedang bergerak turun.

Dengan begitu, harga murah bukan berarti semua kambing memiliki nilai yang sama. Pembeli tetap perlu jeli sebelum bertransaksi, sementara peternak perlu menghitung kembali biaya agar tidak semakin tertekan oleh penurunan harga.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
harga kambing terbaru harga kambing 2026 harga kambing turun harga kambing hari ini pasar kambing