RADARBONANG.ID - Bagaimana kalau suatu hari nanti ada anak Indonesia yang bukan hanya melihat Bulan dari Bumi, tetapi justru bersiap tinggal di sana?
Gagasan tersebut terdengar seperti cerita fiksi ilmiah.
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai membicarakan kemungkinan kehidupan manusia di luar Bumi sekaligus pentingnya menyiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk menghadapi masa depan tersebut.
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyampaikan hal itu dalam Science Festival Indonesia 2026 yang digelar bersama Rosatom Rusia di Graha Widya Bakti, Puspiptek, Tangerang Selatan, Selasa, 22 September 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Amarulla mengajak anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan akademik tinggi, kondisi fisik sehat dan kuat, serta ketertarikan pada sains untuk menekuni bidang nuklir dan antariksa.
Sejumlah laporan mengenai acara tersebut menyebut target anak muda dengan IQ 120 ke atas.
Talenta tersebut diproyeksikan untuk mendapatkan pendidikan dan pembinaan agar dapat berkembang menjadi ilmuwan serta ahli di bidang nuklir dan antariksa.
Baca Juga: Ricko Saputra Gagal Raih Medali di Asian Games 2026, Taufik Hidayat Soroti Persaingan Ketat
Negara Lain Mulai Membayangkan Kehidupan di Luar Bumi
Menurut Amarulla, perkembangan teknologi global membuat kehidupan manusia di luar Bumi bukan lagi sekadar pembahasan dalam film fiksi ilmiah.
Ia menyebut sejumlah negara telah mulai mempersiapkan berbagai skenario terkait kehidupan manusia di Bulan maupun Mars.
Karena itu, Indonesia dinilai perlu mempersiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan untuk ikut mengambil bagian dalam perkembangan teknologi tersebut.
“Negara-negara lain sudah menyiapkan bagaimana tinggal di bulan, tinggal di mars, kehidupan sana. Jadi kita juga mencari anak-anak Indonesia yang brilian, pintar, badannya sehat, kuat, ya nanti untuk bisa mungkin tinggal di luar angkasa,” ujar Amarulla.
Pernyataan tersebut menggambarkan visi jangka panjang BRIN dalam menyiapkan talenta Indonesia menghadapi perkembangan teknologi antariksa.
Artinya, pembicaraan mengenai ruang angkasa tidak hanya berhenti pada satelit atau penelitian dari Bumi.
Indonesia juga mulai membicarakan sumber daya manusia yang suatu saat dapat berperan dalam eksplorasi luar angkasa.
IQ 120+ Jadi Salah Satu Sasaran
Dalam pemberitaan mengenai program tersebut, angka IQ 120 ke atas disebut sebagai salah satu kriteria talenta muda yang ingin dijaring.
Namun, kemampuan akademik bukan satu-satunya hal yang ditekankan.
Kondisi fisik yang sehat dan kuat serta semangat untuk mempelajari sains juga menjadi bagian dari gambaran talenta yang dicari.
Hal tersebut cukup masuk akal mengingat bidang antariksa membutuhkan kombinasi berbagai kemampuan.
Seorang ilmuwan atau ahli antariksa tidak hanya dituntut memahami teori.
Mereka juga harus memiliki kemampuan teknis, kemampuan memecahkan masalah, ketahanan menghadapi lingkungan kerja yang kompleks, serta penguasaan bidang ilmu tertentu.
Karena itu, pencarian talenta tidak berhenti pada angka IQ.
BRIN juga mendorong generasi muda untuk mendapatkan pengalaman pendidikan, riset, dan pembinaan yang dapat mengembangkan potensi mereka.
Anak dari Desa Juga Bisa Jadi Ilmuwan
Hal menarik lainnya dari pernyataan Amarulla adalah soal pemerataan kesempatan.
BRIN menyatakan dukungan terhadap pengembangan talenta tidak hanya ditujukan bagi anak muda yang berasal dari kota besar atau lingkungan akademik tertentu.
Anak-anak dari daerah terpencil juga disebut memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi ilmuwan apabila mendapatkan akses pendidikan dan dukungan yang memadai.
“Semuanya nanti akan kita biayai, kita dorong menjadi ahli-ahli nuklir ya. Dari desa yang terpencil bisa lahir ya mimpi kita, saintis kita ya tidak hanya menguasai nuklir, tapi juga menguasai ruang angkasa,” kata Amarulla.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan talenta antariksa yang dibayangkan BRIN tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknologi.
Akses terhadap pendidikan juga menjadi bagian penting.
Pasalnya, potensi anak muda dapat muncul dari berbagai wilayah.
Persoalannya adalah apakah mereka memiliki kesempatan untuk menemukan bidang yang diminati dan memperoleh pendidikan yang sesuai.
Dari Nuklir hingga Teknologi Antariksa
Science Festival Indonesia 2026 tidak hanya membahas antariksa.
Kegiatan yang diikuti sekitar 1.200 siswa SMA dan mahasiswa tersebut juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi nuklir kepada generasi muda.
BRIN menggelar kegiatan itu bersama Rosatom Rusia sebagai bagian dari upaya memperkenalkan perkembangan teknologi nuklir dan membangun minat terhadap sains.
Dalam konteks masa depan, teknologi nuklir juga memiliki keterkaitan dengan pengembangan teknologi antariksa.
Namun, visi mengenai manusia Indonesia yang dapat hidup atau bekerja di luar Bumi tentu bukan sesuatu yang dapat diwujudkan dalam waktu singkat.
Diperlukan riset bertahun-tahun, pengembangan teknologi, pendidikan, pendanaan, serta kerja sama dengan berbagai pihak.
Indonesia juga masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam membangun ekosistem riset dan teknologi antariksa.
Salah satunya adalah memastikan talenta muda memiliki ruang untuk berkembang setelah mendapatkan pendidikan.
Bukan Sekadar Mencari Anak Pintar
Mencari anak dengan IQ tinggi mungkin terdengar menarik. Namun, kemampuan manusia tidak hanya dapat dilihat dari satu angka.
Talenta ilmuwan membutuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, ketekunan, kemampuan bekerja sama, serta kesempatan untuk melakukan riset.
Karena itu, apabila visi BRIN mengenai ilmuwan antariksa masa depan benar-benar ingin diwujudkan, prosesnya tentu akan jauh lebih panjang daripada sekadar melakukan tes kecerdasan.
Anak-anak tersebut perlu menemukan bidang yang mereka minati.
Setelah itu, mereka membutuhkan pendidikan, mentor, fasilitas laboratorium, kesempatan melakukan penelitian, serta akses terhadap jaringan ilmuwan dan institusi riset.
BRIN sendiri juga tengah mendorong pengembangan talenta riset secara lebih luas.
Kepala BRIN Arif Satria sebelumnya menekankan bahwa talenta riset tidak lahir secara instan, melainkan perlu ditemukan sejak dini dan dikembangkan melalui pembinaan, pengalaman riset, pendampingan, jejaring, serta ekosistem yang mendukung.
Kalau Suatu Hari Indonesia Sampai ke Bulan
Untuk saat ini, gagasan anak Indonesia tinggal di Bulan atau Mars masih merupakan visi jangka panjang.
Baca Juga: Plastic Beauty di Era Media Sosial, Saat Standar Cantik Membuat Banyak Orang Mulai Membandingkan Dir
Belum berarti Indonesia dalam waktu dekat akan mengirim anak muda untuk membangun permukiman di Bulan.
Namun, pernyataan BRIN tersebut menunjukkan adanya upaya untuk mulai memikirkan kebutuhan sumber daya manusia apabila eksplorasi antariksa semakin berkembang.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang nantinya mampu pergi ke luar angkasa.
Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Indonesia mampu menyiapkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tidak hanya menjadi pengguna teknologi buatan negara lain.
Dari ruang kelas di sekolah, laboratorium kampus, hingga pusat riset, perjalanan menuju visi tersebut harus dimulai jauh sebelum manusia benar-benar tinggal di luar Bumi.
Dan bisa jadi, ilmuwan Indonesia pertama yang suatu hari bekerja di Bulan saat ini masih duduk di bangku sekolah, menunggu kesempatan untuk menemukan bahwa dirinya punya potensi di bidang sains.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : youtube.com/@TERBITX