Hariko Wibowo Satria: Mau Cetak Pemain dengan FIsik Seperti Lamine Yamal?, 'MBG' Solusinya!

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 23:06 WIB
Pernyataan Hariko Wibowo Satria soal Lamine Yamal dan MBG memunculkan pertanyaan. Di tengah persoalan keamanan pangan, benarkah MBG menjadi solusi untuk mencetak talenta sepak bola? (x.com/suporter_media)
Pernyataan Hariko Wibowo Satria soal Lamine Yamal dan MBG memunculkan pertanyaan. Di tengah persoalan keamanan pangan, benarkah MBG menjadi solusi untuk mencetak talenta sepak bola? (x.com/suporter_media)

RADARBONANG.ID - Lamine Yamal disebut-sebut. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut dibawa-bawa.

Pernyataan Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Nasional (Bakom) RI, Hariko Wibowo Satria, dalam dialog di Kompas TV Digital ini cukup menggelitik.

Saat membahas sulitnya Indonesia mencari anak-anak dengan kelincahan dan kegesitan fisik seperti bintang Timnas Spanyol Lamine Yamal, Hariko kemudian mengaitkannya dengan pentingnya implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sekilas, kaitan antara gizi anak dan pertumbuhan fisik memang dapat dipahami. Namun, pertanyaan lain kemudian muncul.

Benarkah jalan menuju lahirnya pemain seperti Lamine Yamal harus dibawa ke MBG?

Apalagi, pada saat pernyataan tersebut muncul, program MBG sendiri masih menghadapi persoalan serius mengenai keamanan pangan.

Baca Juga: Google Mulai Uji Project Suncatcher, Bisakah Pusat Data AI Dipindahkan dari Bumi ke Luar Angkasa?

Sedikit-Sedikit Solusinya MBG?

Pernyataan Hariko menarik perhatian karena MBG seolah ditempatkan sebagai jawaban untuk persoalan yang jauh lebih luas.

Mulai dari kualitas gizi anak, pembentukan generasi, hingga potensi lahirnya atlet berprestasi.

Kini, sepak bola dan Lamine Yamal pun ikut masuk dalam pembahasan.

Padahal, mencetak pemain sepak bola kelas dunia jelas bukan perkara makanan bergizi semata.

Ada pembinaan usia dini, pencarian bakat, kualitas pelatih, fasilitas latihan, kompetisi, pendidikan olahraga, lingkungan keluarga, hingga sistem pembinaan yang berjalan dalam jangka panjang.

Gizi memang menjadi salah satu bagian penting dalam tumbuh kembang anak.

Namun, menggeser pembahasan dari “bagaimana mencetak pemain seperti Yamal” menjadi “solusinya MBG” terasa seperti lompatan yang terlalu jauh jika tidak disertai penjelasan mengenai mekanisme dan bukti yang mendukung hubungan tersebut.

Di Sisi Lain, Kasus Keracunan Masih Jadi Sorotan

Yang membuat pernyataan tersebut semakin menggelitik adalah situasi MBG sendiri.

Program tersebut masih menghadapi sejumlah kasus gangguan kesehatan dan dugaan keracunan yang menimpa penerima manfaat di berbagai daerah.

Di Sidoarjo, misalnya, kasus keracunan MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, berdampak pada 512 siswa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono bahkan mengakui kasus tersebut terjadi karena kelalaian petugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

SPPG terkait kemudian dikenai suspend berat selama 30 hari.

Kasus lain terjadi di SMA Negeri 1 Lasem, Rembang.

Sebanyak 777 siswa dan guru dilaporkan terdampak dugaan keracunan MBG.

Anggota DPD RI Muhdi bahkan menegaskan bahwa kejadian seperti itu seharusnya tidak terjadi, terlebih ketika jumlah penerimanya mencapai ratusan hingga ribuan orang.

Di Tulungagung, Dinas Kesehatan juga pada September 2026 melakukan investigasi setelah lebih dari 100 siswa SMKN 1 Boyolangu mengalami keluhan gangguan pencernaan usai mengonsumsi menu MBG.

Namun, dalam kasus tersebut, Dinkes belum menyimpulkan penyebabnya karena hasil pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk memastikan keterkaitannya dengan makanan yang dikonsumsi.

Artinya, persoalan MBG saat ini bukan hanya soal bagaimana program tersebut mampu memenuhi kebutuhan gizi anak.

Keamanan pangan juga menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan.

Lamine Yamal Tidak Lahir dari Satu Program

Lamine Yamal tentu bukan sekadar produk dari makanan bergizi.

Perjalanan seorang pemain menuju level elite membutuhkan proses panjang.

Gizi merupakan bagian dari kondisi dasar seorang anak. Tetapi setelah itu masih ada latihan, pembinaan, lingkungan, kompetisi, pendidikan, kemampuan teknis, mental bertanding, serta sistem yang mampu mengembangkan bakat tersebut.

Karena itu, ketika nama Yamal digunakan untuk menjelaskan pentingnya MBG, publik wajar mempertanyakan seberapa jauh hubungan langsung antara keduanya.

Apalagi, jika pembahasannya sampai pada kesan bahwa MBG merupakan salah satu kunci utama untuk menghasilkan pemain seperti Yamal.

Pertanyaannya kemudian sederhana.

Kalau memang ingin mencetak pemain seperti Lamine Yamal, apakah yang perlu diperbaiki hanya soal makanan?

Atau justru sistem pencarian dan pembinaan bakat sepak bola sejak usia dini yang harus dibenahi secara menyeluruh?

Gizi Penting, Tetapi Jangan Berhenti di MBG

Pemenuhan gizi anak tetap merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang.

Namun, menjadikan satu program sebagai jawaban untuk hampir semua persoalan generasi muda tentu membutuhkan penjelasan yang lebih konkret.

Terlebih ketika program tersebut sendiri masih menghadapi pekerjaan rumah dalam pelaksanaan di lapangan.

Kasus Sidoarjo menunjukkan adanya kelalaian yang diakui BGN. Sementara di berbagai daerah lain, investigasi terhadap dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG juga masih berlangsung.

Karena itu, pembicaraan mengenai masa depan anak seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah mereka mendapat makanan gratis.

Baca Juga: Ricko Saputra Gagal Raih Medali di Asian Games 2026, Taufik Hidayat Soroti Persaingan Ketat

Yang tidak kalah penting adalah apakah makanan tersebut aman, memenuhi standar gizi, dikelola dengan baik, dan benar-benar mendukung kebutuhan penerima manfaat.

Begitu pula ketika bicara tentang mimpi memiliki pemain seperti Lamine Yamal.

Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Tantangannya adalah bagaimana menemukan, menjaga, melatih, dan mengembangkan bakat tersebut secara konsisten.

MBG mungkin dapat ditempatkan dalam pembahasan mengenai pemenuhan gizi anak.

Tetapi menjadikannya seolah jawaban untuk lahirnya pemain seperti Lamine Yamal tentu membutuhkan argumentasi yang jauh lebih kuat.

Sebab, kalau setiap persoalan generasi akhirnya kembali pada satu jawaban yang sama, publik juga berhak bertanya:

Benarkah semua jalan menuju generasi emas harus melewati MBG?

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : x.com/suporter_media
kasus keracunan mbg Hariko Wibowo Satria Lamine Yamal MBG Program Makan Bergizi Gratis sepak bola indonesia