Kenapa Rupiah Punya Banyak Angka Nol? Bukan Cuma Soal Inflasi, Ada Masalah Ekonomi Struktural

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:17 WIB
Kenapa Rupiah punya banyak angka nol? Ternyata nominal uang, daya beli, dan nilai tukar adalah tiga hal berbeda. Persoalannya bukan sekadar jumlah nol, tetapi juga produktivitas, teknologi, nilai tambah, dan posisi Indonesia dalam perdagangan global. (youtube.com/@ferryirwandi)
Kenapa Rupiah punya banyak angka nol? Ternyata nominal uang, daya beli, dan nilai tukar adalah tiga hal berbeda. Persoalannya bukan sekadar jumlah nol, tetapi juga produktivitas, teknologi, nilai tambah, dan posisi Indonesia dalam perdagangan global. (youtube.com/@ferryirwandi)

RADARBONANG.ID – Melihat harga barang dalam Rupiah, jumlah angka nol yang digunakan memang terlihat cukup banyak.

Rp10 ribu, Rp100 ribu, hingga Rp1 juta menjadi nominal yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, banyaknya angka nol tersebut tidak bisa langsung dijadikan ukuran bahwa perekonomian Indonesia lemah.

Ada persoalan yang jauh lebih kompleks di balik nominal Rupiah.

Mulai dari perjalanan inflasi selama puluhan tahun hingga struktur ekonomi yang menentukan seberapa besar sebuah negara memiliki pengaruh dalam perdagangan internasional.

Hal tersebut dibahas Ferry Irwandi melalui video di kanal YouTube miliknya.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat sering mencampuradukkan tiga hal berbeda ketika membicarakan nilai sebuah mata uang.

Baca Juga: Resep Tumis Kacang Kapri Gurih dan Renyah, Menu Rumahan Praktis yang Masaknya Tidak Ribet

Nominal, Daya Beli, dan Nilai Tukar Itu Berbeda

Menurut Ferry, memahami posisi Rupiah perlu dimulai dengan membedakan satuan uang, daya beli, dan nilai tukar.

“Untuk memahami persoalan ini kita perlu memisahkan tiga hal yang sering tercampur: satu ukuran satuan unit uang, kedua daya belinya, dan ketiga perubahan nilai tukarnya,” ujar Ferry.

Nominal hanya menunjukkan satuan yang digunakan dalam transaksi.

Banyaknya angka pada nominal tidak otomatis menggambarkan seberapa kuat perekonomian suatu negara.

Hal yang lebih penting adalah apa yang dapat dibeli dengan uang tersebut dan bagaimana nilai mata uang itu dibandingkan dengan mata uang negara lain.

Karena itu, Rupiah dengan banyak angka nol tidak serta-merta berarti memiliki daya beli yang buruk.

Begitu pula mata uang dengan nominal kecil tidak otomatis menunjukkan bahwa ekonomi negara tersebut lebih kuat.

Inflasi Membuat Angka Nol Terus Bertambah

Salah satu alasan utama mengapa nominal Rupiah memiliki banyak angka nol adalah akumulasi inflasi dalam jangka panjang.

Inflasi membuat harga barang dan jasa cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Ketika kenaikan harga berlangsung selama puluhan tahun, angka yang digunakan dalam transaksi juga ikut menjadi semakin besar.

Sejarah ekonomi Indonesia memiliki sejumlah periode inflasi tinggi yang ikut memengaruhi perjalanan Rupiah.

Ferry menyinggung kondisi hiperinflasi pada 1965 yang disebut mencapai 650 persen.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah moneter Indonesia.

Gejolak ekonomi kembali terjadi pada krisis moneter 1997–1998.

Pada periode tersebut, Rupiah mengalami pelemahan tajam terhadap mata uang asing.

Rangkaian peristiwa ekonomi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk kondisi nominal Rupiah saat ini.

Redenominasi Tidak Membuat Ekonomi Mendadak Kuat

Banyaknya angka nol terkadang membuat redenominasi dianggap sebagai solusi sederhana.

Padahal, mengurangi angka nol tidak sama dengan meningkatkan kekuatan ekonomi.

Misalnya, pemerintah melakukan redenominasi dengan memangkas tiga angka nol. Perubahan tersebut hanya mengubah satuan nominal.

Harga barang, gaji, tabungan, utang, serta berbagai kewajiban keuangan akan disesuaikan menggunakan satuan baru.

Dengan kata lain, mengurangi angka nol tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih kaya atau meningkatkan kemampuan ekonomi suatu negara.

“Kalau menghapus tiga nol cukup untuk membuat ekonomi kita 1000 kali lebih kuat, pekerjaan meningkatkan kesejahteraan tinggal mengedit angka aja,” lanjutnya.

Karena itu, redenominasi lebih berkaitan dengan penyederhanaan sistem nominal daripada menciptakan kekuatan ekonomi baru.

Persoalannya Ada pada Struktur Ekonomi

Menurut Ferry, pembahasan mengenai kekuatan Rupiah justru perlu diarahkan pada struktur ekonomi Indonesia.

Produktivitas, penguasaan teknologi, serta kemampuan menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi menjadi sejumlah faktor yang berkaitan dengan posisi ekonomi sebuah negara.

Semakin tinggi nilai tambah suatu produk, semakin besar pula potensi nilai ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas produksi dan perdagangan.

Persoalannya, Indonesia masih membutuhkan berbagai barang modal, mesin, dan teknologi dari luar negeri.

Dalam perdagangan internasional, transaksi tersebut umumnya membutuhkan valuta asing.

Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap mata uang asing tetap tinggi.

Mengapa Dunia Tidak Banyak Menggunakan Rupiah?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kebutuhan terhadap Rupiah di tingkat internasional tidak sebesar kebutuhan Indonesia terhadap mata uang asing tertentu?

Ferry menjelaskan persoalan tersebut berkaitan dengan posisi Indonesia dalam perdagangan global.

“Kenapa dunia tidak membutuhkan Rupiah sebanyak kita membutuhkan Dolar? Karena dunia belum cukup bergantung pada Indonesia,” ujar Ferry.

Sederhananya, sebuah mata uang akan memiliki permintaan lebih besar apabila banyak pihak membutuhkan mata uang tersebut untuk melakukan transaksi.

Jika produk, jasa, teknologi, atau komoditas suatu negara banyak dibutuhkan oleh negara lain, kebutuhan terhadap mata uang negara tersebut juga dapat ikut meningkat dalam transaksi tertentu.

Karena itu, kekuatan mata uang tidak hanya berbicara tentang berapa banyak angka nol yang tercetak pada uang.

Nol Banyak Bukan Berarti Ekonomi Lemah

Pada akhirnya, jumlah angka nol pada Rupiah tidak dapat digunakan sebagai ukuran tunggal untuk menentukan kuat atau lemahnya perekonomian Indonesia.

Nominal Rupiah yang besar merupakan hasil dari perjalanan sejarah moneter dan akumulasi inflasi.

Baca Juga: Layangan Sowangan, Permainan Khas Musim Kemarau dengan Suara Unik yang Terdengar dari Kejauhan

Sementara posisi Rupiah dalam perdagangan internasional berkaitan dengan kondisi ekonomi yang lebih luas.

Produktivitas, teknologi, nilai tambah produk, kebutuhan terhadap barang dari Indonesia, serta posisi Indonesia dalam rantai nilai global menjadi persoalan yang jauh lebih mendasar.

“Jumlah nol itu bukan ukuran lemah atau kuat. Tapi walaupun enggak pakai nol pun, kondisi Rupiah kita di perdagangan global memang masih sangat lemah,” pungkas Ferry.

Dengan demikian, menghapus angka nol mungkin dapat membuat penulisan nominal menjadi lebih sederhana.

Namun, kekuatan ekonomi tidak dapat dibangun hanya dengan mengubah angka yang tertulis pada lembar uang.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@ferryirwandi
ekonomi Indonesia inflasi Indonesia Rupiah banyak nol penyebab Rupiah lemah nilai tukar rupiah