RADARBONANG.ID - Nama Madiun selama ini lekat dengan industri kereta api Indonesia.
Di kota tersebut berdiri PT Industri Kereta Api (INKA), perusahaan BUMN yang menjadi salah satu penggerak utama industri perkeretaapian nasional.
Namun, produk yang lahir dari pabrik di Madiun ternyata tidak hanya digunakan di dalam negeri.
Kereta, gerbong, lokomotif, hingga berbagai komponen buatan Indonesia telah dikirim ke sejumlah negara dan digunakan untuk mendukung sistem transportasi di berbagai belahan dunia.
PT INKA merupakan perusahaan manufaktur kereta api terintegrasi pertama di Asia Tenggara yang didirikan pada 1981.
Perusahaan ini memproduksi berbagai sarana perkeretaapian, mulai dari kereta penumpang, gerbong barang, lokomotif, hingga kereta dengan teknologi penggerak.
Baca Juga: Lima Bulan Berselang, Indonesia Kembali Bertemu Taiwan di Asian Games 2026, Skuad Kini Berbeda
Jejak ekspor tersebut membuat produk buatan Madiun tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia.
Sejumlah negara di Asia hingga kawasan Oseania juga pernah menjadi tujuan produk INKA.
Berawal dari Negara-Negara Asia
Perjalanan INKA ke pasar internasional sebenarnya sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Salah satu pasar yang menjadi bagian dari sejarah ekspor perusahaan adalah Thailand.
Berdasarkan catatan perusahaan, INKA mengekspor 70 unit ballast hopper wagon ke Thailand pada 1998.
Dua tahun kemudian, kembali dikirim 20 unit produk serupa.
Filipina juga menjadi salah satu negara tujuan ekspor. Pada 1996, INKA mengirim lokomotif ke negara tersebut.
Ekspor kemudian berlanjut dengan berbagai produk perkeretaapian pada tahun-tahun berikutnya.
Sementara itu, Malaysia menerima produk INKA dalam bentuk power generating car dan bogie reefer flat wagon pada 2002.
Produk lainnya juga dikirim ke negara tersebut dalam periode berikutnya.
Jejak ekspor tersebut menunjukkan bahwa kemampuan industri perkeretaapian Indonesia di pasar internasional bukan sesuatu yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir.
Bangladesh Jadi Salah Satu Pasar Penting
Salah satu kisah ekspor terbesar INKA datang dari Bangladesh.
Negara di Asia Selatan tersebut telah menjadi pelanggan produk kereta buatan Indonesia sejak pertengahan 2000-an.
Pada 2005, INKA mengekspor 50 unit kereta penumpang broad gauge ke Bangladesh.
Pengiriman kembali dilakukan dalam jumlah lebih besar pada periode berikutnya.
Pada 2014, misalnya, INKA mendapatkan kontrak pengadaan 150 kereta penumpang untuk Bangladesh.
Proyek tersebut terdiri atas 50 kereta broad gauge dan 100 kereta meter gauge.
Pengiriman terus berlanjut. Pada 2019, INKA bahkan mengirim puluhan gerbong tambahan ke Bangladesh.
Saat itu, perusahaan menyebut total kereta yang telah dikirim mencapai 116 unit dari pesanan 250 kereta.
Kereta yang dikirim menggunakan dua jenis ukuran lebar rel.
Kereta broad gauge dirancang untuk lintasan dengan lebar 1.676 milimeter, sedangkan meter gauge digunakan pada lintasan selebar 1.000 milimeter.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa produksi INKA tidak sekadar membuat kereta, tetapi juga menyesuaikan produk dengan kebutuhan teknis negara tujuan.
Dari Australia hingga Selandia Baru
Pasar ekspor INKA kemudian semakin luas.
Australia menjadi salah satu negara yang menggunakan komponen hasil produksi perusahaan asal Madiun tersebut.
Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, INKA mengekspor ratusan unit freight wagon under frame ke Australia pada 2004 dan 2005.
Jejak tersebut berlanjut ke Selandia Baru.
Pada 2021, INKA mengekspor ratusan container flat wagon dan platform lokomotif.
Pada 2022, sebanyak 262 gerbong barang kembali diekspor ke Selandia Baru.
Pengiriman produk untuk pasar negara tersebut juga berlanjut pada tahun berikutnya dengan berbagai jenis wagon dan platform lokomotif.
Produk-produk tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan industri Indonesia tidak berhenti pada kereta penumpang.
Sarana angkutan barang dan komponen pendukung juga menjadi bagian penting dari pasar internasional INKA.
Bukan Hanya Kereta Utuh
Menariknya, jejak INKA di luar negeri tidak selalu berbentuk rangkaian kereta lengkap.
Dalam sejumlah proyek, produk yang dikirim berupa komponen atau bagian tertentu dari sarana perkeretaapian.
Produk tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem kereta yang beroperasi di negara tujuan.
INKA mencatat produknya telah diekspor ke Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Australia.
Laporan perusahaan juga mencatat ekspor ke Selandia Baru.
Karena itu, ketika melihat kereta yang beroperasi di luar negeri, kontribusi industri Indonesia tidak selalu terlihat dari identitas keretanya.
Ada pula komponen buatan Indonesia yang menjadi bagian dari sarana transportasi tersebut.
Madiun dan Industri Kereta Indonesia
Pabrik INKA di Madiun menjadi salah satu pusat penting manufaktur perkeretaapian Indonesia.
Hingga akhir 2024, perusahaan memiliki kantor pusat sekaligus pabrik di Kota Madiun, selain fasilitas produksi di Banyuwangi dan kantor perwakilan di Jakarta.
Kebutuhan produksi yang terus berkembang bahkan mendorong pengembangan kapasitas manufaktur.
Dalam beberapa tahun terakhir, INKA juga mengembangkan fasilitas produksi di Banyuwangi untuk mendukung kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
Baca Juga: WELO Harus Menunggu Lebih Lama, Fanmeeting Ong Seong Wu Jakarta Pindah ke 15 November
Dari Madiun, industri kereta Indonesia kemudian berkembang menjadi bagian dari rantai pasok perkeretaapian internasional.
Jejak tersebut juga memperlihatkan perjalanan panjang industri manufaktur nasional.
Produk yang dibuat oleh pekerja Indonesia tidak hanya berakhir di jalur kereta dalam negeri, tetapi telah menempuh perjalanan menuju Asia, Australia hingga Selandia Baru.
Bagi Madiun, keberadaan INKA bukan sekadar soal sebuah pabrik kereta.
Kota ini menjadi salah satu titik penting yang menghubungkan kemampuan manufaktur Indonesia dengan kebutuhan transportasi dunia.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : goodnewsfromindonesia.id