RADARBONANG.ID - Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali masuk jajaran 10 besar nasional dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Kafilah NTB menempati peringkat ke-9 dengan mengumpulkan 34 poin.
Hasil tersebut menjadi peningkatan dibandingkan MTQ Nasional sebelumnya. Pada gelaran sebelumnya, NTB hanya berada di peringkat ke-18.
Kembalinya NTB ke 10 besar tidak terjadi secara instan.
Salah satu perubahan penting dalam persiapan tahun ini adalah pembinaan yang dilakukan lebih intensif melalui Training Center (TC) selama 38 hari.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTB sekaligus Ketua Kafilah NTB, H. Amir, S.Pd., M.M., mengatakan persiapan tahun ini memang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Keturunan Keraton, Freya JKT48 Pernah Ungkap Pengalaman Melihat Makhluk Halus
Menurutnya, pembinaan yang lebih serius menjadi bagian dari upaya mengembalikan NTB ke jajaran atas MTQ Nasional setelah prestasinya sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Pernah Berjaya, Sempat Mengalami Penurunan
NTB sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam ajang MTQ Nasional.
Sebelum memasuki era 2000-an, daerah tersebut dikenal sebagai salah satu provinsi yang cukup sering berada di jajaran atas.
Prestasi tersebut kembali terlihat ketika NTB menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 2016. Saat itu, NTB mampu menempati peringkat keempat.
Namun, setelah penyelenggaraan tersebut, posisi NTB dalam klasemen nasional mengalami penurunan.
Karena itu, keberhasilan kembali masuk 10 besar pada 2026 menjadi catatan penting bagi pembinaan MTQ di NTB.
“Terakhir tahun 2016 ketika NTB menjadi tuan rumah, kita berada di peringkat empat. Setelah itu prestasi kita menurun.
Alhamdulillah pada MTQ Nasional ke-31 ini NTB mampu kembali masuk 10 besar dengan berada di peringkat sembilan,” kata Amir.
38 Hari Digembleng Sebelum Bertanding
Salah satu perbedaan utama dalam persiapan NTB tahun ini adalah pelaksanaan Training Center selama 38 hari.
Program tersebut dilakukan untuk mematangkan kemampuan peserta sebelum menghadapi persaingan di tingkat nasional.
Amir mengatakan pelaksanaan TC tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat kembali pembinaan qari-qariah serta hafiz-hafizah NTB.
Pembinaan dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) bersama pemerintah kabupaten dan kota.
“Tahun ini persiapannya berbeda. Komitmen Pak Gubernur untuk memajukan MTQ dan memperkuat kembali pembinaan qari-qariah serta hafiz-hafizah kita begitu kuat. Untuk kali pertama, kita adakan TC. Tak tanggung-tanggung, TC berlangsung selama 38 hari,” ujar Amir.
Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal memang mendorong agar tradisi prestasi daerah dalam MTQ Nasional kembali dibangun.
Saat meninjau pemusatan latihan pada Juli 2026, Iqbal menyampaikan pentingnya pembinaan yang berkelanjutan.
Ketika itu, TC diikuti 58 peserta yang dibimbing 16 pelatih untuk delapan cabang dan 21 golongan musabaqah.
Delapan Peserta Berhasil Raih Prestasi
Pembinaan intensif tersebut menghasilkan sejumlah capaian individu bagi kafilah NTB.
Khairunnisa menjadi peraih prestasi tertinggi setelah meraih Juara I Qira’at Mujawwad Dewasa Putri.
Kemudian Ahmad Masyhun memperoleh Juara II Tafsir Bahasa Arab.
Maesarah meraih Juara III Tilawah Dewasa Putri, sedangkan Nihla Hudya Alnaisa meraih Juara III Tilawah Anak-Anak Putri.
Empat peserta lainnya juga membawa pulang penghargaan pada kategori harapan.
Taqwa Hikmatullah meraih Harapan I Hafalan Al-Qur’an 10 Juz. M. Haikal Afad memperoleh Harapan II Hafalan 30 Juz.
Sementara Ahmad Kodri mendapatkan Harapan III Qira’at Mujawwad Al-Qur’an Dewasa Putra dan Holis Susabri meraih Harapan III Tilawah Remaja Putra.
Total terdapat delapan peserta NTB yang berhasil mencatatkan prestasi dari berbagai cabang dan golongan.
Seleksi Dimulai dari Tingkat Desa
Menurut Amir, pembinaan tidak hanya dilakukan ketika MTQ Nasional sudah semakin dekat.
Proses pencarian bibit dan pengembangan kemampuan peserta dilakukan secara berjenjang. Seleksi dimulai dari tingkat desa, kemudian kecamatan, kabupaten atau kota, hingga tingkat provinsi.
Pola tersebut memungkinkan daerah memiliki waktu lebih panjang untuk menemukan peserta dengan kemampuan terbaik.
Setelah terpilih, peserta kemudian mendapatkan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan sesuai cabang yang diikuti.
“Prestasi ini tidak lepas dari pembinaan yang semakin baik dan kontinu dalam menyiapkan qari-qariah dan hafiz-hafizah oleh LPTQ dan pemerintah kabupaten/kota, serta seleksi yang ketat secara berjenjang mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan seterusnya,” kata Amir.
NTB Mulai Menatap MTQ Berikutnya
Capaian peringkat ke-9 menjadi pijakan baru bagi NTB untuk kembali membangun tradisi prestasi di MTQ Nasional.
Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa pembinaan jangka panjang menjadi bagian penting dalam menyiapkan peserta untuk menghadapi kompetisi nasional.
NTB sebelumnya menargetkan masuk lima besar pada MTQ Nasional 2026.
Target tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan MTQ dan menjadi bagian dari upaya mengembalikan posisi NTB di jajaran atas.
Baca Juga: Bukan Cuma Keturunan Keraton, Freya JKT48 Pernah Ungkap Pengalaman Melihat Makhluk Halus
Meski belum mencapai target lima besar, posisi kesembilan membuat NTB kembali berada dalam 10 besar setelah sebelumnya menempati peringkat ke-18.
Dengan capaian tersebut, pembinaan yang telah dilakukan selama 2026 dapat menjadi dasar untuk mempersiapkan kafilah menghadapi MTQ Nasional berikutnya.
Bagi NTB, pekerjaan berikutnya bukan hanya mempertahankan posisi 10 besar, tetapi memastikan proses pembinaan tetap berjalan setelah kompetisi berakhir.
Sebab, prestasi di MTQ Nasional tidak hanya ditentukan oleh persiapan menjelang perlombaan.
Proses menemukan, membina, dan mengembangkan qari-qariah serta hafiz-hafizah sejak tingkat daerah menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan prestasi.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com