RADARBONANG.ID — Harga minyak mentah dunia justru kembali bergerak turun pada awal perdagangan Senin (21/9/2026), meski ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Riyadh, Arab Saudi.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena pasar minyak biasanya sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Gangguan terhadap negara produsen minyak maupun jalur distribusi energi dapat memunculkan kekhawatiran mengenai pasokan global.
Namun, pada perdagangan Senin pagi, harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) justru sama-sama melemah.
Mengutip data Investing pada pukul 07.55 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,33 poin atau 0,32 persen ke level USD102,41 per barel.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perdagangan Jumat (18/9) pagi yang berada di level USD103,77 per barel.
Sementara itu, minyak mentah WTI Amerika Serikat mengalami penurunan yang lebih besar. Harga WTI turun 1,03 poin atau 1,01 persen menjadi USD94,64 per barel.
Pada Jumat pagi, harga WTI masih berada di level USD100,86 per barel.
Baca Juga: Sidang Kasus Kuota Haji, Eks Pejabat Kemenag Sebut Tak Ada Nama Usulan Langsung Yaqut
Serangan Houthi Jadi Perhatian Pasar
Penurunan harga minyak tersebut terjadi ketika situasi keamanan di Arab Saudi kembali menjadi sorotan.
Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman disebut meningkatkan serangan menggunakan rudal dan drone.
Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi adanya upaya serangan terhadap Riyadh menggunakan rudal balistik.
Serangan tersebut disebut sebagai upaya pertama Houthi menargetkan ibu kota Arab Saudi sejak eskalasi perang Iran.
Sistem pertahanan Arab Saudi berhasil mencegat rudal tersebut. Sejumlah warga Riyadh dilaporkan sempat mendengar ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar kawasan bandara.
Meski demikian, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut dalam laporan yang dikutip JawaPos.com.
Perkembangan ini tetap menjadi perhatian karena Riyadh merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi Arab Saudi.
Gangguan keamanan di ibu kota juga dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan.
Bukan Hanya Riyadh yang Jadi Sasaran
Serangan yang dikaitkan dengan Houthi tidak hanya mengarah ke Riyadh. Upaya serangan juga disebut menyasar sejumlah wilayah lain di Arab Saudi.
Infrastruktur sipil di kota pelabuhan Laut Merah Yanbu turut menjadi sasaran.
Wilayah tersebut memiliki jaringan pipa utama yang berkaitan dengan distribusi minyak Arab Saudi.
Selain Yanbu, serangan juga dilaporkan mengincar Taif, Baysh, dan Farasan. Namun, seluruh upaya tersebut disebut berhasil digagalkan.
Houthi sebelumnya mengklaim telah menargetkan sejumlah lokasi sensitif di Riyadh serta fasilitas raksasa minyak Saudi Aramco di Yanbu.
Kelompok tersebut juga mengklaim serangan ke fasilitas minyak tersebut menyebabkan kebakaran besar.
Harga Minyak Justru Bergerak Turun
Di tengah perkembangan tersebut, pasar minyak justru menunjukkan respons yang berbeda.
Brent masih berada di atas USD100 per barel, tetapi bergerak turun dibandingkan perdagangan sebelumnya.
WTI bahkan kembali berada di bawah USD100 per barel berdasarkan data pada Senin pagi.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga minyak tidak hanya ditentukan oleh satu faktor geopolitik.
\Pelaku pasar juga mempertimbangkan kondisi pasokan, permintaan, jalur distribusi, serta perkembangan konflik secara keseluruhan.
Situasi ini menjadi semakin kompleks karena ketegangan di kawasan Timur Tengah masih berlangsung.
Sebelumnya, konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran juga telah memberikan tekanan terhadap pasar energi global.
Pasar kemudian harus menimbang antara risiko gangguan pasokan dengan kondisi aktual distribusi minyak.
Risiko Gangguan Pasokan Tetap Menghantui
Meski harga minyak turun pada awal perdagangan, ancaman terhadap infrastruktur energi tetap menjadi perhatian.
Arab Saudi merupakan salah satu pemain penting dalam pasar minyak global.
Setiap gangguan terhadap fasilitas produksi, jaringan pipa, pelabuhan, maupun jalur pelayaran dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap ketersediaan pasokan.
Yanbu menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian karena berada di kawasan Laut Merah dan memiliki jaringan pipa penting.
Jika eskalasi konflik semakin meluas dan mengganggu fasilitas energi atau jalur transportasi minyak, pasar dapat kembali menghadapi tekanan dari sisi pasokan.
Namun, sejauh laporan perdagangan Senin pagi, kondisi tersebut belum mendorong kenaikan harga minyak.
Brent dan WTI justru tercatat mengalami penurunan.
Ketegangan Timur Tengah Belum Reda
Perkembangan di Riyadh juga terjadi setelah dalam beberapa hari terakhir Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman serangan udara.
Sebelumnya, otoritas Arab Saudi mengeluarkan sejumlah peringatan keamanan di Riyadh dan beberapa wilayah lainnya setelah adanya aktivitas drone dan rudal yang dikaitkan dengan Houthi.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan pasar energi.
Namun, respons harga minyak dapat berubah dengan cepat apabila muncul perkembangan baru yang berdampak langsung terhadap produksi maupun distribusi minyak.
Karena itu, penurunan harga pada awal perdagangan Senin belum dapat menjadi gambaran bahwa risiko pasokan telah hilang.
Pasar Minyak Masih Menunggu Perkembangan
Harga minyak dunia kini berada dalam situasi yang menarik. Di satu sisi, ketegangan geopolitik meningkat setelah serangan Houthi ke sejumlah wilayah Arab Saudi.
Di sisi lain, harga Brent dan WTI justru bergerak turun pada awal perdagangan.
Baca Juga: Sibuk Bukan Alasan Mengabaikan Kesehatan, Ini Kebiasaan Sederhana yang Bisa Jadi Investasi Diri
Brent tercatat USD102,41 per barel, sedangkan WTI berada di USD94,64 per barel pada data pukul 07.55 WIB.
Pergerakan tersebut masih dapat berubah sepanjang sesi perdagangan karena pasar minyak sangat responsif terhadap perkembangan terbaru.
Bagi negara konsumen minyak seperti Indonesia, perubahan harga minyak dunia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Pergerakan harga komoditas energi dapat berkaitan dengan berbagai aspek ekonomi, termasuk biaya energi dan tekanan inflasi.
Untuk saat ini, pasar masih harus mencermati apakah eskalasi serangan di Timur Tengah hanya meningkatkan risiko keamanan atau mulai berdampak langsung terhadap pasokan minyak dunia.
Jika gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur distribusi semakin nyata, tekanan terhadap harga minyak dapat kembali berubah.
Sebaliknya, selama aliran pasokan tetap berjalan dan tidak terjadi gangguan besar terhadap produksi maupun distribusi, pasar masih memiliki ruang untuk merespons perkembangan geopolitik dengan lebih terbatas.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com