RADARBONANG.ID – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Letaknya di kawasan cincin api serta kondisi geografis yang beragam membuat ancaman gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor hingga cuaca ekstrem terus membayangi berbagai wilayah.
Namun, ancaman bencana di masa depan dinilai tidak hanya datang dalam bentuk satu peristiwa.
Kombinasi antara bencana geologi dan hidrometeorologi berpotensi menciptakan situasi yang jauh lebih kompleks.
Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan pentingnya memperkuat sistem mitigasi untuk menghadapi ancaman tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 September 2026 Bergerak Berbeda, Antam Naik Rp15 Ribu, UBS Terjun
Peringatan itu menjadi semakin relevan di tengah pembahasan mengenai penguatan koordinasi antara BMKG dan Badan Geologi.
Dwikorita sebelumnya bahkan mengusulkan agar Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dapat diintegrasikan ke dalam BMKG untuk memperlancar pertukaran data secara real-time.
Bencana Tak Lagi Berdiri Sendiri
Ancaman bencana pada dasarnya bisa saling berkaitan.
Sebuah peristiwa geologi dapat memicu dampak lanjutan yang diperparah oleh kondisi cuaca maupun lingkungan.
Misalnya, gempa bumi dapat menyebabkan longsor.
Jika kemudian hujan deras terjadi di kawasan tersebut, material longsoran dapat terbawa aliran air dan berkembang menjadi banjir bandang.
Begitu pula dengan aktivitas gunung api.
Erupsi tidak hanya menghasilkan abu vulkanik, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman lahar ketika material vulkanik bercampur dengan air hujan.
Kondisi seperti ini membuat penanganan bencana membutuhkan sistem pemantauan yang tidak berjalan sendiri-sendiri.
Informasi mengenai aktivitas gempa, gunung api, cuaca, curah hujan dan kondisi lingkungan perlu dapat dibaca secara terintegrasi sehingga peringatan dini bisa diberikan lebih cepat.
Kombinasi Bencana Bisa Sangat Kompleks
Ancaman yang menjadi perhatian bukan sekadar jumlah bencana yang terjadi, melainkan efek berantai yang muncul setelahnya.
Ketika beberapa ancaman hadir dalam waktu berdekatan, kapasitas masyarakat maupun pemerintah dalam melakukan evakuasi dan penanganan dapat ikut tertekan.
Bayangkan ketika sebuah wilayah menghadapi gempa dan longsor, kemudian hujan ekstrem datang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Infrastruktur yang sudah rusak akibat gempa dapat semakin sulit digunakan karena akses jalan tertutup material longsor atau banjir.
Situasi semacam itu membuat mitigasi tidak cukup hanya mengandalkan respons setelah bencana terjadi.
Sistem peringatan dini, pemetaan risiko, kesiapan jalur evakuasi serta koordinasi antarinstansi harus disiapkan sebelum kondisi darurat muncul.
Data Real-Time Jadi Hal Penting
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Dwikorita adalah pertukaran data antarlembaga.
BMKG memiliki mandat dalam pemantauan meteorologi, klimatologi dan geofisika serta penyampaian informasi peringatan dini.
Sementara itu, berbagai instrumen pemantauan gunung api berada dalam kewenangan PVMBG.
Menurut Dwikorita, integrasi tersebut diperlukan agar data dapat dipertukarkan secara lebih cepat.
Ia menyebut usulan untuk menyatukan PVMBG dengan BMKG bahkan sudah disampaikan ketika dirinya masih menjabat.
Dengan sistem yang lebih terintegrasi, informasi mengenai aktivitas gunung api dapat dikombinasikan dengan data cuaca dan kondisi atmosfer.
Hal ini penting terutama ketika masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api juga menghadapi ancaman hujan deras yang dapat meningkatkan potensi lahar.
Indonesia Berada di Wilayah Rawan
Indonesia memiliki karakter geografis yang membuat potensi bencana geologi dan hidrometeorologi sama-sama tinggi.
Gempa bumi dan aktivitas vulkanik berkaitan dengan posisi Indonesia di kawasan pertemuan lempeng tektonik.
Di sisi lain, kondisi tropis membuat sejumlah wilayah juga rentan terhadap hujan ekstrem, banjir, longsor, kekeringan dan berbagai fenomena cuaca lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap bencana yang bersifat majemuk semakin penting.
Sebab, perubahan kondisi lingkungan dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dapat memperbesar dampak dari bencana yang sudah ada.
Karena itu, sistem mitigasi harus mampu melihat ancaman secara menyeluruh, bukan berdasarkan satu jenis bencana saja.
Wacana Integrasi BMKG dan Badan Geologi
Peringatan tersebut muncul bersamaan dengan wacana pengintegrasian Badan Geologi dengan BMKG.
Ketua DPR RI Puan Maharani sebelumnya meminta pemerintah tidak terburu-buru merealisasikan rencana tersebut.
Menurutnya, Badan Geologi dan BMKG memiliki tugas serta kewenangan yang berbeda sehingga penggabungan harus dikaji secara menyeluruh.
Sementara itu, Dwikorita memiliki pandangan berbeda mengenai bentuk integrasi yang dibutuhkan.
Ia tidak mendorong seluruh Badan Geologi dilebur ke dalam BMKG.
Menurutnya, bagian yang lebih relevan untuk diintegrasikan adalah PVMBG karena berkaitan langsung dengan pemantauan aktivitas gunung api dan mitigasi bencana geologi.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan semata-mata soal perubahan struktur kelembagaan, tetapi bagaimana data dan informasi kebencanaan dapat bergerak lebih cepat.
Mitigasi Harus Dipersiapkan Sebelum Bencana Datang
Ancaman bencana gabungan menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Pemerintah perlu memastikan sistem pemantauan bekerja optimal, sementara masyarakat juga harus memahami risiko di wilayah tempat tinggalnya.
Baca Juga: Bunga Bangkai Terancam Punah, Indonesia Siapkan Bank Polen demi Menjaga Generasi Tanaman
Jalur evakuasi, informasi peringatan dini, edukasi kebencanaan dan koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak ketika bencana terjadi.
Apalagi, Indonesia tidak hanya menghadapi satu jenis ancaman. Gempa, tsunami, erupsi, banjir, longsor dan cuaca ekstrem dapat muncul dengan karakter serta waktu yang berbeda.
Jika berbagai ancaman tersebut terjadi secara beruntun atau bersamaan, dampaknya bisa jauh lebih besar dibandingkan ketika bencana berdiri sendiri.
Peringatan mengenai skenario bencana gabungan yang disebut memiliki gambaran seperti kondisi ekstrem pada masa lalu tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini harus terus diperkuat.
Bukan hanya untuk mengetahui bencana yang sedang terjadi, tetapi juga membaca kemungkinan ancaman berikutnya sebelum rangkaian dampaknya meluas.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com