RADARBONANG.ID – Pengambilalihan kepemilikan Narasi disebut telah mendapatkan persetujuan dari seluruh pemegang saham dan tercatat di Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Meski nilai transaksi tidak diumumkan kepada publik, masuknya kelompok usaha besar ke dalam struktur kepemilikan media yang didirikan Najwa Shihab itu menjadi sorotan.
Narasi selama ini memiliki identitas yang cukup kuat sebagai media digital dengan pendekatan jurnalistik independen.
Sejak berdiri pada 2018, Narasi berkembang dari sebuah platform media menjadi salah satu pemain yang cukup diperhitungkan dalam ekosistem media digital Indonesia.
Nama Najwa Shihab juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan tersebut.
Lewat berbagai program seperti Mata Najwa dan Narasi Talks, sejumlah isu publik yang sensitif dan kontroversial pernah dibicarakan secara terbuka.
Dari persoalan korupsi, demokrasi, kebijakan pemerintah hingga kebebasan pers, Narasi membangun citra sebagai media yang tidak segan membawa isu-isu kritis ke ruang publik.
Karena karakter tersebut, perubahan pemilik menjadi perhatian yang cukup besar.
Baca Juga: Ingin Jadi Dancer Sound Horeg? Ini Skill, Gaya Joget, hingga Cara Mendapat Job dan Saweran
Ketika Media Independen Masuk ke Grup Konglomerasi
Grup Djarum sendiri bukan pemain baru dalam dunia bisnis Indonesia. Kelompok usaha tersebut memiliki kepentingan di berbagai sektor, mulai dari industri rokok, perbankan hingga teknologi digital.
Melalui ekosistem digital dan investasi yang dimilikinya, masuknya Grup Djarum ke Narasi dapat dilihat sebagai bagian dari strategi memperkuat portofolio bisnis di sektor media dan teknologi.
Bagi Narasi, perubahan kepemilikan tersebut sebenarnya juga bisa memberikan sejumlah keuntungan.
Dukungan modal dari kelompok usaha besar berpotensi memperkuat infrastruktur teknologi, memperluas distribusi konten, hingga mengembangkan sumber pendapatan baru.
Industri media digital saat ini menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
Persaingan mendapatkan perhatian audiens semakin ketat, sementara pendapatan dari iklan digital harus berhadapan dengan dominasi platform teknologi global.
Dalam situasi seperti itu, dukungan investor besar bisa menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis media.
Jaringan bisnis dan investasi teknologi yang berada di sekitar GDP Venture juga berpotensi membuka akses terhadap ekosistem digital yang lebih luas.
Narasi dapat memiliki kesempatan mengembangkan produk baru, memperkuat distribusi konten, serta menjangkau kelompok audiens yang lebih beragam.
Namun, persoalan bisnis bukan satu-satunya hal yang muncul setelah akuisisi tersebut.
Kekhawatiran terhadap Independensi Editorial
Perubahan pemilik media hampir selalu diikuti pertanyaan mengenai independensi pemberitaan.
Apalagi Narasi selama ini memiliki karakter editorial yang cukup kritis terhadap berbagai persoalan publik.
Kekhawatiran yang muncul bukan semata-mata karena adanya pemilik baru, melainkan mengenai kemungkinan perubahan prioritas perusahaan setelah berada dalam sebuah kelompok usaha besar.
Publik tentu ingin mengetahui apakah Narasi tetap memiliki ruang yang cukup untuk menjalankan fungsi kontrol sosial, termasuk ketika pemberitaannya bersinggungan dengan kepentingan kelompok bisnis atau kekuasaan.
Independensi media pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa pemiliknya.
Struktur redaksi, mekanisme pengambilan keputusan editorial, transparansi perusahaan, serta komitmen terhadap kode etik jurnalistik juga menjadi faktor penting.
Karena itu, perubahan kepemilikan tidak otomatis berarti karakter pemberitaan akan berubah.
Namun, perhatian publik terhadap potensi konflik kepentingan tetap menjadi sesuatu yang wajar.
Bukan Fenomena Baru di Industri Media Indonesia
Masuknya konglomerasi besar ke sektor media sebenarnya bukan fenomena baru.
Dalam lebih dari satu dekade terakhir, sejumlah kelompok bisnis besar telah memperluas portofolio mereka ke industri media daring.
CT Corp, misalnya, mengambil alih Detikcom pada periode 2011–2012.
Langkah tersebut kemudian memperkuat posisi kelompok usaha Chairul Tanjung dalam industri media online.
Perkembangan serupa juga terjadi ketika EMTEK Group mengambil alih KapanLagi Networks pada periode 2014–2016. Portofolio digital kelompok tersebut kemudian semakin kuat dengan keberadaan Liputan6.com.
Di periode berikutnya, Kumparan memperoleh investasi besar dari Emtek Digital Ventures.
Sementara itu, IDN Media mendapatkan dukungan pendanaan dari sejumlah investor, termasuk Northstar Group.
Rangkaian transaksi tersebut menunjukkan bahwa media digital semakin dipandang sebagai bagian penting dari industri teknologi dan ekonomi kreatif.
Media tidak lagi hanya berdiri sebagai perusahaan penerbitan, tetapi juga berkembang menjadi perusahaan berbasis platform, data, teknologi, komunitas, dan distribusi digital.
Dalam konteks tersebut, masuknya Narasi ke dalam ekosistem Grup Djarum melalui GDI atau GDP Venture menjadi bagian dari tren konsolidasi industri media yang lebih luas.
Dua Sisi di Balik Akuisisi Narasi
Akuisisi Narasi akhirnya memiliki dua sisi yang sama-sama penting untuk diperhatikan.
Dari perspektif bisnis, perubahan kepemilikan dapat memberikan ruang bagi Narasi untuk tumbuh lebih besar.
Modal, teknologi, jaringan bisnis, dan kemampuan investasi dapat membantu perusahaan menghadapi persaingan media digital yang semakin ketat.
Namun dari perspektif publik, independensi editorial tetap menjadi hal yang harus dijaga.
Media memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan keuntungan karena pemberitaan turut memengaruhi cara masyarakat memahami berbagai persoalan.
Baca Juga: Jarang Disadari, 9 Kebiasaan Sehari-hari Ini Ternyata Bisa Menunjukkan Seseorang Cerdas
Kekhawatiran lain yang juga patut diperhatikan adalah semakin terkonsentrasinya kepemilikan media pada kelompok usaha besar.
Jika semakin banyak media berada dalam ekosistem konglomerasi, keberagaman sudut pandang dalam ruang publik dikhawatirkan ikut menyempit.
Pada akhirnya, perhatian terhadap Narasi setelah akuisisi bukan hanya soal siapa pemiliknya.
Yang akan menjadi perhatian publik adalah bagaimana media tersebut menjalankan praktik jurnalistik setelah perubahan kepemilikan.
Jika Narasi mampu mempertahankan standar jurnalistik, keberanian mengangkat isu publik, serta memberikan ruang bagi beragam perspektif, akuisisi tersebut bisa menjadi momentum untuk memperkuat perusahaan tanpa menghilangkan karakter editorialnya.
Sebaliknya, apabila kepentingan bisnis mulai terlalu dominan dalam menentukan arah pemberitaan, pertanyaan mengenai independensi tentu akan semakin besar.
Perubahan kepemilikan dengan demikian bukan akhir dari perjalanan Narasi, melainkan awal dari fase baru yang akan terus diamati oleh publik, terutama dalam melihat sejauh mana media tersebut mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis dan tanggung jawab jurnalistik.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang