Dentuman Keras Terdengar hingga Bandung, Badan Geologi Ungkap Kaitannya dengan Anak Krakatau

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 22:22 WIB
Dentuman keras terdengar di Bandung Raya hingga sejumlah wilayah Jawa Barat pada Jumat malam. Kaca dan pintu rumah warga bahkan dilaporkan ikut bergetar. Setelah dilakukan pencocokan data, Badan Geologi mengungkap dugaan kuat sumber dentuman tersebut berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. (Kompas.com/Yefta Christopherus Asia Sanjaya)
Dentuman keras terdengar di Bandung Raya hingga sejumlah wilayah Jawa Barat pada Jumat malam. Kaca dan pintu rumah warga bahkan dilaporkan ikut bergetar. Setelah dilakukan pencocokan data, Badan Geologi mengungkap dugaan kuat sumber dentuman tersebut berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. (Kompas.com/Yefta Christopherus Asia Sanjaya)

RADARBONANG.ID – Suara dentuman keras yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten hingga Lampung pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari sempat membuat warga bertanya-tanya.

Dentuman tersebut terdengar berulang dan di sejumlah lokasi bahkan disertai getaran yang membuat kaca maupun pintu rumah ikut bergetar.

Bandung Raya menjadi salah satu wilayah yang paling ramai melaporkan fenomena tersebut. Sejumlah warga mengaku mendengar suara seperti ledakan dari kejauhan sejak tengah malam hingga menjelang pagi.

Fenomena ini kemudian dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang pada waktu hampir bersamaan tengah mengalami erupsi menerus.

Setelah dilakukan pencocokan dengan data pemantauan, Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan dentuman dan getaran tersebut kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi gunung api di Selat Sunda.

Baca Juga: 4 Gunung Api Indonesia Erupsi Bersamaan, Anak Krakatau Paling Disorot karena Abu Vulkanik

Dentuman Terjadi Bersamaan dengan Erupsi Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut masih berlangsung hingga Sabtu dini hari dan disertai suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

Pada rentang waktu yang hampir sama, laporan mengenai dentuman mulai bermunculan dari berbagai wilayah Jawa Barat.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan bahwa kesesuaian waktu antara aktivitas erupsi dan munculnya dentuman, ditambah data dari stasiun pemantauan di Jawa Barat, menjadi dasar kuat dugaan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau.

Artinya, suara yang membuat warga Bandung dan daerah sekitarnya terkejut bukan berasal dari aktivitas gempa bumi di Bandung.

Mengapa Suara Erupsi Bisa Terdengar hingga Bandung?

Jarak Gunung Anak Krakatau dengan Bandung terbilang sangat jauh.

Namun, suara dari aktivitas vulkanik tertentu ternyata dapat merambat hingga ratusan kilometer.

Badan Geologi menjelaskan bahwa erupsi dapat menghasilkan gelombang suara atau tekanan udara berfrekuensi rendah.

Gelombang tersebut dapat merambat jauh melalui atmosfer dan dipengaruhi oleh kondisi udara di sepanjang jalurnya.

Ada beberapa proses yang diduga menghasilkan energi akustik besar.

Salah satunya adalah ekspansi cepat akibat pelepasan gas dari aktivitas vulkanik.

Selain itu, gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam saluran kepundan juga dapat menghasilkan suara keras.

Karena karakter gelombang tersebut, wilayah yang letaknya jauh dari gunung api masih mungkin mendengar suara erupsi.

Fenomena serupa bukan sesuatu yang sama sekali baru.

PVMBG sebelumnya mencontohkan erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 2014, ketika suara dentuman dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah Jawa Tengah meskipun sumber letusannya berada cukup jauh.

Sempat Diduga sebagai Skyquake

Sebelum adanya penjelasan terbaru dari Badan Geologi, BMKG sempat mengkaji kemungkinan dentuman tersebut berkaitan dengan fenomena skyquake atau suara dentuman misterius yang sumbernya tidak mudah diketahui.

Stasiun Geofisika Bandung memeriksa sejumlah parameter, termasuk aktivitas kegempaan, cuaca, petir hingga kondisi magnet bumi.

Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat aktivitas gempa signifikan di wilayah Bandung Raya ketika dentuman dilaporkan.

Data tersebut membuat fenomena tersebut sempat menjadi tanda tanya bagi para peneliti.

Namun, aktivitas vulkanik di sekitar Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu hampir bersamaan kemudian menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap sumber suara tersebut.

Pakar ITB Minta Hubungan Sebab-Akibat Tetap Dikaji

Meski Badan Geologi telah menyampaikan dugaan kuat mengenai sumber dentuman, pakar vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelumnya mengingatkan bahwa dua kejadian yang berlangsung pada waktu berdekatan belum otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.

Pakar Vulkanologi ITB, Mirzam Abdurrachman, mengatakan diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan sumber dentuman tersebut.

Dengan kata lain, pencocokan waktu antara erupsi dan suara dentuman menjadi petunjuk penting, tetapi tetap perlu didukung analisis ilmiah lainnya.

Perbedaan tahap analisis ini menunjukkan bahwa fenomena alam tersebut memang cukup kompleks.

Peneliti perlu mencocokkan berbagai data sebelum menyimpulkan mekanisme pasti bagaimana energi dari erupsi dapat menghasilkan suara dan getaran yang dirasakan jauh dari sumbernya.

Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Di tengah fenomena tersebut, masyarakat tetap diminta memperhatikan status aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga.

PVMBG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas hingga hujan abu vulkanik.

Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung juga diimbau tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan lembaga terkait.

Warga Tak Perlu Panik

Munculnya suara dentuman keras hingga Bandung memang tergolong fenomena yang tidak biasa.

Baca Juga: Membaca Islam ala Prabowo: Benarkah Buku Ini Mengungkap Cara Beragama Sang Presiden?

Terlebih, suara tersebut disertai getaran yang membuat sebagian warga khawatir terjadi gempa atau peristiwa lain.

Namun, masyarakat tidak perlu langsung panik.

Berdasarkan perkembangan informasi terbaru, Badan Geologi mengaitkan fenomena tersebut dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, sementara pemantauan BMKG menunjukkan tidak ada aktivitas gempa signifikan di Bandung Raya saat kejadian.

Yang paling penting adalah tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti perkembangan dari lembaga resmi.

Fenomena dentuman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat menimbulkan dampak yang dirasakan hingga wilayah yang berjarak sangat jauh.

Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi harus disertai informasi yang akurat dan tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : kompas.com
Gunung Anak Krakatau dentuman Bandung erupsi Anak Krakatau dentuman Jawa Barat Badan Geologi