Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Lava Fountain Muncul dan Warga Diminta Waspadai Bahaya

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:27 WIB
Pendaran merah menyala muncul dari Gunung Anak Krakatau saat kembali mengalami erupsi. Fenomena lava fountain membuat langit di sekitar gunung tampak dramatis, tetapi di balik keindahannya terdapat bahaya serius. (MAGMA Indonesia)
Pendaran merah menyala muncul dari Gunung Anak Krakatau saat kembali mengalami erupsi. Fenomena lava fountain membuat langit di sekitar gunung tampak dramatis, tetapi di balik keindahannya terdapat bahaya serius. (MAGMA Indonesia)

RADARBONANG.ID – Aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda kembali menjadi perhatian.

Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi yang menghasilkan pendaran merah terang di tengah malam, disertai suara dentuman dan gemuruh yang dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda.

Pemandangan lava yang memancar dari tubuh gunung menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian.

Dari kejauhan, semburan material pijar tampak seperti air mancur berwarna merah yang muncul dari pusat erupsi.

Aktivitas tersebut menjadi perhatian karena Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah erupsi yang cukup panjang.

Selain itu, peristiwa runtuhnya sebagian tubuh gunung pada 2018 yang kemudian memicu tsunami membuat setiap peningkatan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut selalu mendapat pengawasan ketat.

Baca Juga: Adobe Hadirkan Photoshop, Premiere hingga Firefly di Slack, Kerja Kreatif Kini Makin Praktis

Lava Fountain Muncul di Tengah Erupsi

Berdasarkan pengamatan Badan Geologi, aktivitas Gunung Anak Krakatau kali ini memperlihatkan karakter lava fountain atau air mancur lava.

Fenomena tersebut terjadi ketika magma cair terdorong keluar dari pusat erupsi dan terlontar ke udara.

Material pijar yang keluar kemudian terlihat sebagai semburan merah menyala, terutama ketika aktivitas berlangsung pada malam hari.

Sebagian lava yang keluar juga dapat mengalir mengikuti lereng gunung dan membentuk aliran lava baru.

Fenomena ini menjadi salah satu ciri aktivitas magma yang cukup jelas terlihat secara visual.

Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini dikategorikan memiliki karakter Strombolian.

Jenis erupsi tersebut umumnya ditandai oleh letusan yang relatif kecil tetapi dapat terjadi berulang kali.

Material yang dimuntahkan bisa berupa batu pijar, abu vulkanik, hingga lava cair. Aktivitas letusan juga dapat menghasilkan suara dentuman dan getaran yang terasa atau terdengar dari jarak tertentu.

Dentuman Terdengar hingga Sejumlah Wilayah

Aktivitas vulkanik yang terjadi tidak hanya terlihat dari pendaran lava.

Sejumlah masyarakat di wilayah sekitar Selat Sunda juga melaporkan mendengar suara gemuruh dan dentuman.

Getaran maupun suara tersebut berkaitan dengan aktivitas letusan dan tekanan gas vulkanik yang berlangsung di dalam tubuh gunung.

Wilayah yang dapat merasakan dampak suara aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak selalu berada tepat di sekitar gunung.

Kondisi atmosfer, arah angin, serta kekuatan erupsi dapat memengaruhi sejauh mana suara dan abu vulkanik terdengar atau terbawa.

Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan tetap diminta mengandalkan informasi resmi dan tidak mengambil kesimpulan berdasarkan kabar yang beredar di media sosial.

Apakah Erupsi Bisa Memicu Tsunami?

Kekhawatiran mengenai tsunami menjadi salah satu perhatian utama setiap kali Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas.

Hal tersebut tidak terlepas dari peristiwa pada 22 Desember 2018, ketika sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami di kawasan pesisir Banten serta Lampung.

Namun, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini dinilai berbeda dibandingkan sebelum peristiwa tersebut.

Setelah mengalami keruntuhan pada 2018, tubuh gunung masih dalam proses pertumbuhan kembali.

Material yang terakumulasi saat ini disebut masih relatif kecil.

Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya longsoran besar ke laut seperti yang terjadi pada 2018 dinilai tidak sama.

Meski demikian, bukan berarti potensi bahaya dapat diabaikan.

Perubahan bentuk tubuh gunung dan aktivitas vulkaniknya tetap dipantau secara intensif oleh pihak berwenang.

Bahaya Utama Saat Ini Berasal dari Material Erupsi

Dengan kondisi terkini, bahaya yang menjadi perhatian utama bukan semata-mata tsunami, melainkan material yang dikeluarkan secara langsung selama erupsi.

Lontaran batu pijar menjadi salah satu risiko bagi siapa pun yang berada terlalu dekat dengan pusat aktivitas.

Selain itu, aliran lava memiliki temperatur sangat tinggi sehingga dapat menimbulkan bahaya radiasi panas di sekitar wilayah erupsi.

Abu vulkanik juga perlu diperhatikan karena dapat terbawa angin menuju wilayah tertentu.

Dampaknya sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin serta intensitas aktivitas erupsi.

Oleh karena itu, kawasan di sekitar Gunung Anak Krakatau tetap harus diperlakukan sebagai wilayah berbahaya dan tidak boleh dimasuki sembarangan.

Gunung Anak Krakatau Berstatus Level III

Aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.

Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik membutuhkan kewaspadaan tinggi dan masyarakat harus mematuhi batas aman yang telah ditentukan.

Masyarakat maupun wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif.

Larangan tersebut mencakup pendakian, kegiatan wisata, maupun aktivitas pelayaran yang masuk ke zona berbahaya.

Batas tersebut dibuat untuk mengurangi risiko terkena material lontaran maupun bahaya lain yang dapat muncul secara tiba-tiba selama aktivitas erupsi.

Warga Pesisir Diminta Tetap Tenang

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Banten dan Lampung, peningkatan aktivitas Anak Krakatau tentu dapat menimbulkan kekhawatiran.

Namun, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.

Baca Juga: Nomor Tak Dikenal Terus Menelepon? Begini Cara Blokir dan Hentikan Spam di HP

Informasi mengenai potensi bahaya maupun perubahan status gunung sebaiknya diperoleh dari Badan Geologi, PVMBG, BPBD, dan instansi resmi lainnya.

Pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau juga terus dilakukan untuk mengetahui setiap perubahan aktivitas maupun morfologi tubuh gunung.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau untuk mengikuti arahan petugas apabila sewaktu-waktu terdapat perubahan kondisi yang membutuhkan tindakan khusus.

Fenomena lava fountain yang terlihat dalam erupsi terbaru memang menjadi pemandangan alam yang menarik.

Namun, keindahan pancaran lava tersebut tetap menyimpan risiko. Karena itu, masyarakat dan wisatawan tidak disarankan mendekati kawasan erupsi hanya untuk mendapatkan foto atau video.

Kewaspadaan, mengikuti batas zona bahaya, serta mengandalkan informasi resmi menjadi langkah paling penting untuk menjaga keselamatan selama Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas vulkanik.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : detik.com
Gunung Anak Krakatau erupsi lava fountain Anak Krakatau erupsi Selat Sunda status Gunung Anak Krakatau potensi tsunami Anak Krakatau