PBB Prediksi Suhu Bumi Bakal Lewati 1,5 Derajat Celsius, Strategi Iklim Dunia Mulai Berubah

Andika Julia Perdana Putra • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 10:16 WIB
Target pemanasan global 1,5 derajat Celsius semakin sulit dipertahankan. PBB kini mendorong strategi baru: biarkan suhu mencapai puncak, lalu turunkan kembali. Namun, semakin tinggi suhu yang dicapai, semakin besar pula risiko gelombang panas, banjir, krisis pangan hingga kenaikan permukaan laut. (TeenVogue/Pinterest)
Target pemanasan global 1,5 derajat Celsius semakin sulit dipertahankan. PBB kini mendorong strategi baru: biarkan suhu mencapai puncak, lalu turunkan kembali. Namun, semakin tinggi suhu yang dicapai, semakin besar pula risiko gelombang panas, banjir, krisis pangan hingga kenaikan permukaan laut. (TeenVogue/Pinterest)

RADARBONANG.ID – Upaya dunia untuk menahan laju pemanasan global menghadapi tantangan yang semakin berat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui bahwa ambang kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius yang menjadi salah satu sasaran penting dalam Perjanjian Paris kemungkinan besar akan terlampaui.

Kondisi tersebut membuat para ilmuwan dan pembuat kebijakan mulai mempertimbangkan pendekatan baru dalam menghadapi perubahan iklim.

Jika sebelumnya perhatian utama tertuju pada bagaimana menjaga kenaikan suhu tetap di bawah 1,5 derajat Celsius, kini strategi yang mulai dibahas adalah bagaimana membatasi kenaikan tersebut setelah ambang itu terlewati dan kemudian menurunkannya kembali.

Pendekatan tersebut dikenal dengan istilah overshoot, peak and decline.

Baca Juga: James Harden Resmi Bertahan di Cavaliers, Kontrak 3 Tahun Senilai Rp1,5 Triliun Jadi Sorotan

Strategi ini menggambarkan kemungkinan dunia mengalami periode pemanasan di atas 1,5 derajat Celsius, mencapai titik tertinggi, kemudian secara bertahap menurunkan suhu hingga kembali berada di bawah batas tersebut.

Target 1,5 Derajat Celsius Makin Sulit Dipertahankan

Informasi mengenai perubahan strategi tersebut muncul dalam laporan terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

Laporan itu menjadi gambaran mengenai semakin sulitnya upaya mempertahankan suhu global agar tidak melewati batas yang telah menjadi salah satu tujuan utama kesepakatan iklim internasional.

Ambang 1,5 derajat Celsius bukan sekadar angka simbolis. Setiap tambahan pemanasan dapat meningkatkan tekanan terhadap berbagai sistem alam dan kehidupan manusia.

Karena itu, kemungkinan terjadinya overshoot bukan berarti risiko perubahan iklim dianggap selesai.

Justru, semakin lama suhu berada di atas ambang tersebut, semakin besar pula potensi kerusakan yang harus ditanggung.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa periode pemanasan berlebih dapat memperparah berbagai dampak perubahan iklim yang sudah terjadi di berbagai wilayah dunia.

Gelombang Panas hingga Krisis Pangan Bisa Makin Parah

Kenaikan suhu global dapat memperbesar risiko terjadinya cuaca ekstrem. Gelombang panas yang lebih intens dan berlangsung lebih lama menjadi salah satu ancaman yang semakin diperhatikan.

Selain suhu ekstrem, perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan risiko banjir serta mempercepat kenaikan permukaan laut.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir maupun daerah yang rentan terhadap bencana.

Persoalan pangan dan air juga menjadi perhatian serius. Perubahan pola cuaca dapat mengganggu produktivitas pertanian, sementara peningkatan suhu dan perubahan curah hujan berpotensi menekan ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Ekosistem pun menghadapi tekanan yang semakin besar.

Sejumlah spesies dapat mengalami kesulitan beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan yang berlangsung terlalu cepat.

Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat meningkatkan risiko hilangnya keanekaragaman hayati.

Skenario Terbaik Masih Memberi Harapan

Meski situasinya mengkhawatirkan, laporan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan masa depan yang suram.

Masih terdapat peluang untuk membatasi seberapa tinggi suhu global akan meningkat apabila negara-negara mengambil tindakan iklim yang jauh lebih ambisius.

Dalam skenario yang paling optimistis, kenaikan suhu global masih dapat dibatasi hingga sekitar 1,8 derajat Celsius pada pertengahan abad apabila berbagai negara benar-benar menjalankan target pengurangan emisi yang lebih kuat.

Angka tersebut memang masih berada di atas target 1,5 derajat Celsius. Namun, perbedaan beberapa persepuluh derajat tetap memiliki arti besar terhadap tingkat risiko yang harus dihadapi manusia dan lingkungan.

Dengan kata lain, kegagalan mempertahankan angka 1,5 derajat Celsius bukan alasan untuk berhenti melakukan upaya pengurangan emisi.

Kebijakan Saat Ini Bisa Membawa Pemanasan Lebih Tinggi

Tantangan menjadi lebih besar ketika kebijakan yang diterapkan saat ini dibandingkan dengan skenario iklim paling ambisius.

Jika kebijakan yang berjalan tidak mengalami perubahan signifikan, pemanasan global berpotensi mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius pada 2100.

Perbedaan antara skenario tersebut dengan target iklim yang lebih ambisius menunjukkan pentingnya keputusan yang diambil dalam beberapa tahun ke depan.

Semakin tinggi suhu global, semakin besar pula kemungkinan terjadinya dampak berantai terhadap kehidupan manusia, perekonomian, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, hingga ekosistem.

Emisi Harus Dipangkas Secara Drastis

Untuk mengubah arah tersebut, dunia membutuhkan pengurangan emisi gas rumah kaca secara besar-besaran.

Salah satu langkah penting adalah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang menjadi sumber utama emisi karbon.

Selain memangkas emisi, kemampuan untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer juga perlu ditingkatkan.

Upaya penyerapan karbon dapat menjadi bagian dari strategi untuk membantu menurunkan konsentrasi gas rumah kaca setelah suhu global mencapai titik puncaknya.

Namun, teknologi penyerapan karbon bukan pengganti pengurangan emisi. Keduanya perlu berjalan bersama agar upaya mengendalikan perubahan iklim memiliki dampak yang lebih besar.

Setiap Penurunan Suhu Tetap Berarti

PBB menegaskan bahwa terlampauinya target 1,5 derajat Celsius tidak berarti perjuangan menghadapi perubahan iklim menjadi sia-sia.

Baca Juga: Es Teh Terasa Hambar atau Pahit? Cara Menyeduh Teh Ternyata Jadi Salah Satu Kuncinya

Sebaliknya, setiap pengurangan kenaikan suhu tetap memiliki manfaat.

Menahan pemanasan agar tidak mencapai tingkat yang lebih tinggi dapat membantu mengurangi intensitas dampak yang nantinya harus dihadapi manusia dan lingkungan.

Konsep overshoot, peak and decline pada akhirnya menunjukkan bahwa dunia mungkin harus menghadapi kenyataan bahwa target iklim semakin sulit dicapai dalam bentuk yang selama ini diharapkan.

Namun, pilihan untuk membatasi puncak pemanasan dan kemudian menurunkannya kembali masih memberikan ruang untuk mengurangi kerusakan.

Pesan terpentingnya adalah semakin cepat emisi dikurangi, semakin rendah pula puncak suhu yang harus dilewati.

Dalam menghadapi perubahan iklim, setiap sepersepuluh derajat Celsius yang berhasil dicegah tetap memiliki arti besar bagi masa depan bumi.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : cbc.ca
pemanasan global 1 perubahan iklim dunia strategi overshoot peak decline laporan PBB tentang iklim emisi gas rumah kaca