Dituduh Dahulukan Dapur MBG Dibanding Siswa, Kadisdik Kalteng Buka Suara Soal Video Viral

Hardiyati Budi Anggraeni • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 17:21 WIB
Kadisdik Kalimantan Tengah klarifikasi usai videonya viral di media sosial. (Tangkapan layar media sosial)
Kadisdik Kalimantan Tengah klarifikasi usai videonya viral di media sosial. (Tangkapan layar media sosial)

RADARBONANG.ID – Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Muhammad Reza Prabowo memberikan klarifikasi terkait video pernyataannya yang viral di media sosial.

Dalam video tersebut, Reza terlihat membahas dampak kebijakan meliburkan sekolah terhadap operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Potongan video itu kemudian menuai sorotan warganet. Pernyataan Reza dinilai sebagian pihak seolah menunjukkan bahwa keberlangsungan MBG lebih diprioritaskan dibandingkan keselamatan dan kesehatan siswa.

Dalam cuplikan yang beredar, Reza menyampaikan bahwa peliburan sekolah juga berdampak terhadap operasional dapur MBG dan aktivitas kantin.

"Karena ketika sekolah diliburkan, berpengaruh juga pada dapur-dapur MBG. Bapak Ibu saya harap punya kebijaksanaan juga, dapur MBG mati bu, kantin-kantin mati bu," kata Reza dalam video tersebut.

Pernyataan itu memicu perdebatan di media sosial, terlebih Kalteng tengah menghadapi persoalan kabut asap akibat karhutla.

Baca Juga: Dikira Orang Biasa, Pria Bersenter Kepergok Bocah Saat Karhutla hingga Akhirnya Ditangkap Polisi

Kadisdik Sebut Video Hanya Potongan Rapat

Menanggapi polemik tersebut, Reza memberikan klarifikasi pada Senin (31/8/2026).

Dia menjelaskan, video yang beredar merupakan potongan singkat dari rapat yang berlangsung cukup panjang. Menurutnya, cuplikan tersebut tidak menggambarkan keseluruhan konteks pembahasan.

Reza menegaskan pembahasan mengenai MBG dalam rapat hanya berkaitan dengan aspek teknis operasional. Hal tersebut bukan menjadi dasar utama dalam menentukan apakah sekolah perlu diliburkan atau tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Dia juga memastikan kebijakan terkait sekolah tetap mengacu pada surat edaran resmi pemerintah.

Menurut Reza, keselamatan peserta didik tetap menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi kondisi kabut asap.

"Tentu, kita harus mengutamakan keselamatan. Makanya ini Bapak Gubernur langsung membuat surat edaran tersebut," ujarnya.

Kebijakan Sekolah Disebut Perlu Mempertimbangkan Kondisi Kabut Asap

Reza mengatakan kondisi kabut asap yang berubah-ubah menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan.

Menurut dia, kondisi di lapangan tidak selalu sama. Kabut asap dapat menghilang pada waktu tertentu, tetapi kembali muncul beberapa saat kemudian.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan analisis sebelum menentukan kebijakan peliburan sekolah.

"Kemarin sudah dalam proses analisa karena kan yang namanya kabut, kayak kemarin itu kita lihat tiba-tiba kabutnya hilang. Terus nanti ada kabut lagi," kata Reza.

Dia menambahkan, pengambilan keputusan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi secara menyeluruh, termasuk situasi kualitas udara dan keselamatan siswa.

Dengan klarifikasi tersebut, Reza membantah anggapan bahwa operasional MBG menjadi alasan utama pemerintah daerah tidak meliburkan sekolah saat kabut asap melanda Kalteng.

Polemic yang muncul bermula dari video berdurasi singkat yang membuat pernyataan dalam rapat terlihat terlepas dari pembahasan secara keseluruhan.

Di tengah kondisi karhutla dan kabut asap, kebijakan terkait aktivitas sekolah pun menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kesehatan peserta didik. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
kadisdik KARHUTLA Mbg kalimantan tengah video