RADARBONANG.ID – Belakangan ini, istilah desil semakin sering terdengar.
Kata tersebut muncul dalam percakapan masyarakat, media sosial, hingga pembahasan mengenai data sosial ekonomi dan bantuan pemerintah.
Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin masih terdengar asing.
Bahkan, tidak sedikit yang mengira desil merupakan angka yang menunjukkan jumlah penghasilan atau menentukan apakah seseorang termasuk kaya atau miskin.
Padahal, pengertiannya tidak sesederhana itu.
Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya.
Baca Juga: Tetap Populer di Era Streaming, VLC Tembus 7 Miliar Unduhan dan Buktikan Pemutar Media Masih Dicari
Masyarakat kemudian dikelompokkan menjadi 10 bagian yang masing-masing secara umum mencakup sekitar 10 persen keluarga.
Sederhananya, desil dapat dipahami sebagai peta posisi kesejahteraan relatif sebuah keluarga.
Semakin kecil angka desil, semakin rendah posisi relatif kesejahteraannya. Sebaliknya, semakin besar angka desil, semakin tinggi posisi relatifnya.
Desil Bukan Angka Gaji atau Jumlah Kekayaan
Hal pertama yang perlu dipahami adalah desil bukan angka yang menunjukkan berapa penghasilan seseorang.
Misalnya, seseorang yang masuk Desil 4 tidak berarti memiliki pendapatan dengan nominal tertentu.
Begitu pula keluarga yang berada di Desil 8 tidak otomatis dapat disebut sebagai keluarga kaya.
BPS menekankan bahwa desil bukan ukuran nominal pendapatan, kekayaan, maupun pengeluaran.
Desil menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi.
Karena itu, dua keluarga yang berada pada desil yang sama belum tentu memiliki kondisi kehidupan yang benar-benar identik.
Sebuah keluarga mungkin memiliki penghasilan cukup besar, tetapi juga mempunyai jumlah anggota keluarga yang banyak atau tanggungan tertentu.
Di sisi lain, keluarga lain bisa memiliki penghasilan berbeda dengan kondisi tempat tinggal atau kepemilikan aset yang juga berbeda.
Artinya, angka desil tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai kondisi ekonomi seseorang.
Bagaimana Cara Menentukan Desil?
Lalu, bagaimana sebenarnya sebuah keluarga bisa masuk ke Desil 1, 5, atau 10?
Penentuannya tidak dilakukan hanya dengan melihat jumlah uang yang dimiliki atau isi rekening.
Dalam DTSEN, pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama.
Beberapa hal yang diperhatikan antara lain kondisi tempat tinggal, sumber air minum, energi atau bahan bakar yang digunakan untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi anggota keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi disabilitas.
Berbagai informasi tersebut kemudian diproses menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif sebuah keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.
Jadi, tidak ada satu indikator tunggal yang secara otomatis menentukan posisi desil.
Rumah yang terlihat bagus, misalnya, tidak serta-merta membuat sebuah keluarga berada di desil tinggi.
Begitu pula pekerjaan tertentu atau daya listrik rumah tidak menjadi penentu tunggal.
Yang dilihat adalah gambaran sosial ekonomi keluarga secara lebih menyeluruh.
Mengenal Desil 1 hingga Desil 10
Secara umum, masyarakat dibagi menjadi 10 kelompok.
Desil 1 berada pada posisi kesejahteraan relatif paling rendah.
Setelah itu, posisi meningkat secara bertahap hingga Desil 10, yang berada pada posisi kesejahteraan relatif paling tinggi.
Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai peringkat relatif, bukan label mutlak.
Dengan demikian, Desil 2 tidak otomatis berarti seseorang pasti miskin, begitu pula Desil 9 tidak otomatis berarti seseorang pasti kaya raya.
Desil menunjukkan posisi sebuah keluarga dalam distribusi kesejahteraan berdasarkan data dan karakteristik yang digunakan dalam pemeringkatan.
Cara memahami konteks tersebut penting agar masyarakat tidak keliru menerjemahkan angka desil sebagai ukuran kondisi ekonomi secara mutlak.
Kenapa Desil Berkaitan dengan Bansos?
Istilah desil menjadi semakin populer karena berkaitan dengan pemanfaatan data sosial ekonomi pemerintah.
Melalui DTSEN, pemerintah memiliki basis data yang digunakan untuk membantu perencanaan, penetapan sasaran, serta evaluasi berbagai program.
Desil dapat menjadi salah satu informasi yang digunakan dalam proses tersebut.
Namun, ada hal penting yang perlu digarisbawahi: desil bukan daftar otomatis penerima bantuan sosial.
Seseorang yang berada pada desil tertentu tidak berarti secara otomatis akan mendapatkan bansos.
Setiap program pemerintah memiliki tujuan, kriteria, dan ketentuan masing-masing.
Karena itu, penggunaan data desil dalam suatu program tetap bergantung pada aturan program tersebut.
Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa seseorang pasti menerima atau tidak menerima bantuan hanya berdasarkan angka desil.
Mengapa Posisi Desil Bisa Berubah?
Kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga dapat berubah seiring waktu.
Penghasilan bisa meningkat atau menurun, seseorang bisa kehilangan atau mendapatkan pekerjaan, jumlah anggota keluarga dapat berubah, begitu pula kondisi tempat tinggal dan kepemilikan aset.
Perubahan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi posisi relatif keluarga dalam pemeringkatan.
Namun, perubahan satu indikator saja tidak otomatis membuat sebuah keluarga langsung berpindah desil.
Pasalnya, penilaian mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama.
Dengan kata lain, perubahan posisi desil perlu dilihat berdasarkan kondisi keseluruhan dan posisi relatif keluarga dibandingkan keluarga lainnya.
Bagaimana Jika Data Keluarga Tidak Sesuai?
Masyarakat yang merasa kondisi keluarganya sudah berubah atau data yang tercatat belum sesuai dapat menyampaikan pembaruan melalui jalur resmi.
Pemutakhiran DTSEN dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber, termasuk data administrasi, sensus dan survei, pembaruan dari kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah, hingga pengecekan lapangan.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan kanal resmi yang tersedia, seperti Cek Bansos Kemensos, SIKS-NG melalui operator desa atau kelurahan, maupun Cek DTSEN BPS.
Namun, pengajuan pembaruan data tidak berarti posisi desil akan langsung berubah.
Informasi yang diberikan tetap harus diproses dan dihitung kembali berdasarkan metode yang berlaku.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menggunakan jalur resmi ketika menemukan data yang perlu diperbarui dan tidak langsung menyimpulkan bahwa sistem keliru hanya berdasarkan hasil yang terlihat.
Desil Bukan Label untuk Menilai Seseorang
Ada satu hal yang tidak kalah penting: desil seharusnya tidak dijadikan label kehidupan seseorang.
Angka tersebut merupakan hasil pemeringkatan statistik yang digunakan untuk membantu membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih terstruktur.
Bahkan, keluarga yang berada pada desil sama belum tentu mempunyai kehidupan yang sama persis.
Karena itu, angka desil tidak semestinya digunakan untuk menentukan harga diri seseorang atau membandingkan kehidupan satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Data pada dasarnya adalah alat untuk membantu memahami kondisi masyarakat, bukan cap untuk menilai seseorang.
Jadi, Apa Sebenarnya Arti Desil?
Singkatnya, desil adalah pengelompokan keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya.
Desil 1 berada pada posisi relatif paling rendah, sedangkan Desil 10 berada pada posisi relatif paling tinggi.
Penentuannya tidak hanya berdasarkan pendapatan, tetapi mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial dan ekonomi yang dihitung secara bersama-sama.
Baca Juga: Amazon Gabung YouTube Shopping, Kreator Kini Bisa Dapat Komisi dari Produk yang Mereka Rekomendasika
Desil juga bukan berarti angka pasti yang menunjukkan seseorang kaya atau miskin, serta bukan jaminan otomatis seseorang menerima bantuan sosial.
Memahami pengertian tersebut menjadi penting karena istilah desil semakin sering muncul dalam pembahasan kebijakan dan program pemerintah.
Jadi, ketika melihat angka desil, jangan buru-buru memberikan label kepada seseorang.
Desil bukan tentang siapa yang lebih kaya atau lebih miskin, melainkan tentang bagaimana data digunakan untuk melihat posisi kesejahteraan masyarakat secara lebih terstruktur dan menyeluruh.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang