Liga Indonesia Naik Kelas atau Cuma Ganti Nama? 303 Pemain Masih Menunggu Pembayaran Gaji,

Tulus Widodo • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 12:49 WIB
Sepak bola Indonesia ingin semakin profesional, tetapi persoalan lama masih menghantui. Sebanyak 303 pemain dari Liga 1 hingga Liga 4 tercatat menghadapi tunggakan gaji dengan total lebih dari Rp14,8 miliar. Bahkan, klub Super League ikut masuk dalam daftar. (detik sport)
Sepak bola Indonesia ingin semakin profesional, tetapi persoalan lama masih menghantui. Sebanyak 303 pemain dari Liga 1 hingga Liga 4 tercatat menghadapi tunggakan gaji dengan total lebih dari Rp14,8 miliar. Bahkan, klub Super League ikut masuk dalam daftar. (detik sport)

RADARBONANG.ID – Sepak bola Indonesia tengah berusaha membangun wajah baru.

Kompetisi terus didorong agar semakin profesional, tata kelola klub diperbaiki, kualitas pertandingan ditingkatkan, sementara branding liga juga semakin diperkuat.

Namun, di tengah berbagai upaya tersebut, masih ada persoalan lama yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Masalah tersebut adalah tunggakan gaji pemain.

Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) mencatat masih terdapat 303 pemain dari berbagai kasta kompetisi yang menghadapi persoalan tunggakan gaji. Total kewajiban yang tercatat bahkan mencapai lebih dari Rp14,8 miliar.

Persoalan tersebut juga tidak hanya terjadi di kasta bawah. Sejumlah klub yang bermain di kompetisi level tertinggi Indonesia turut masuk dalam catatan tunggakan.

Baca Juga: Luna Maya Tiup Lilin di Gallery Pak Uut, Rayakan Usia 43 Tahun Penuh Kenangan

28 Klub Masih Memiliki Persoalan Gaji

Data mengenai tunggakan tersebut disampaikan Legal Officer APPI, Muhammad Agus Riza Hufaida, dalam diskusi Water Break PSSI Pers di Jakarta.

Menurut Agus, persoalan pembayaran gaji melibatkan 28 klub yang tersebar mulai dari kompetisi kasta tertinggi hingga Liga 4.

“Total ada 28 klub yang melibatkan 303 pemain Liga 1 sampai Liga 4. Total nilai keseluruhan Rp 14,8 miliar,” kata Agus, dikutip dari Bolasport.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesejahteraan pemain masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi sepak bola nasional.

Pasalnya, seorang pemain tidak hanya membutuhkan fasilitas latihan dan kompetisi yang berjalan.

Gaji merupakan hak dasar yang menjadi bagian dari hubungan profesional antara pemain dengan klub.

Ketika pembayaran tersendat, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh pemain dan keluarganya.

PSM Makassar Masuk Daftar di Super League

Salah satu hal yang cukup menjadi sorotan adalah munculnya klub dari kasta tertinggi dalam daftar tersebut.

Untuk kompetisi Super League, PSM Makassar tercatat masih memiliki persoalan tunggakan gaji pemain.

Nama PSM tentu menarik perhatian karena klub tersebut merupakan salah satu tim yang memiliki sejarah panjang dalam sepak bola Indonesia.

Sementara itu, daftar di kompetisi Championship juga tidak sedikit.

Beberapa klub yang disebut masih mempunyai kewajiban kepada pemain antara lain Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, dan PSBS Biak.

Keberadaan klub-klub tersebut dalam daftar menunjukkan bahwa masalah tunggakan gaji tidak otomatis hilang hanya karena sebuah klub bermain di kompetisi dengan level yang lebih tinggi.

Persoalan Berlanjut hingga Liga Nusantara

Di kasta Liga Nusantara, persoalan yang sama juga ditemukan.

Sejumlah klub yang tercatat antara lain Sriwijaya FC, Persikota Tangerang, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, dan Persinab Sang Maestro.

Jumlah klub yang tercatat di kasta ini memperlihatkan bahwa persoalan finansial masih menjadi tantangan bagi banyak klub yang menjalankan kompetisi sepak bola profesional maupun semi-profesional.

Kondisi tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan administrasi.

Bagi pemain, gaji merupakan sumber penghasilan utama. Keterlambatan pembayaran dapat membuat mereka kesulitan memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan keluarga.

Karena itu, penyelesaian tunggakan menjadi bagian penting dalam upaya membangun ekosistem sepak bola yang sehat.

Liga 4 Juga Tak Lepas dari Tunggakan

Masalah serupa bahkan ditemukan hingga kompetisi Liga 4.

Dalam daftar tersebut terdapat sejumlah klub seperti Persiwa Wamena, Persid Jember, Bantul United, Depok Raya FC, PSM Madiun, PS Siak, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC.

Panjang daftar tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembayaran hak pemain bukan hanya terjadi pada klub-klub yang mempunyai sorotan media besar.

Di kasta yang lebih rendah, kondisi finansial klub sering kali menghadapi tantangan yang lebih kompleks.

Mulai dari keterbatasan pemasukan, sponsor, hingga biaya operasional kompetisi, semuanya dapat memengaruhi kemampuan klub memenuhi kewajibannya.

Namun, kondisi finansial tersebut tetap tidak boleh membuat hak pemain diabaikan.

Profesionalisme Bukan Cuma Soal Pertandingan

Perkembangan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir membuat kata “profesional” semakin sering digunakan.

Kompetisi ingin memiliki standar yang lebih baik. Stadion diperbaiki, siaran pertandingan semakin berkembang, teknologi digunakan, dan klub dituntut memenuhi berbagai persyaratan.

Tetapi profesionalisme tidak seharusnya berhenti pada apa yang terlihat di lapangan.

Pembayaran gaji tepat waktu merupakan salah satu indikator paling mendasar dalam hubungan profesional.

Sebuah klub mungkin memiliki stadion bagus, jersey menarik, pemain berkualitas, dan jumlah suporter yang besar. Namun, jika hak pemain masih tertunggak, masih ada persoalan fundamental yang harus diselesaikan.

Karena itu, data tunggakan Rp14,8 miliar tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.

APPI Berharap Masalah Bisa Diselesaikan

APPI berharap persoalan tunggakan dapat diselesaikan secara bertahap.

Agus juga menyampaikan harapan agar permasalahan serupa tidak terus muncul, terutama di kompetisi kasta tertinggi.

“Kami berharap bantuan dari semua pihak untuk membereskan pelan-pelan. Kami berharap paling tidak di Super League tidak ada lagi kasus seperti ini,” ujar Agus.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian tunggakan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Bukan hanya klub dan pemain, tetapi juga operator kompetisi, federasi, sponsor, serta pihak lain yang memiliki peran dalam ekosistem sepak bola.

Jika persoalan tersebut dapat diselesaikan secara konsisten, kepercayaan pemain terhadap klub dan kompetisi juga dapat semakin baik.

Hak Pemain Tak Boleh Jadi Korban

Pada akhirnya, angka 303 pemain dan Rp14,8 miliar bukan sekadar statistik.

Di balik angka tersebut terdapat para pemain yang setiap hari menjalani latihan, mengikuti pertandingan, menjaga kondisi fisik, dan mempertaruhkan karier mereka demi klub.

Mereka merupakan aktor utama yang membuat kompetisi sepak bola bisa berjalan.

Baca Juga: AI Mode Google Makin Canggih, Bisa Lacak Harga Tiket dan Pesan Hotel Lewat Percakapan

Karena itu, ketika gaji belum dibayarkan, persoalannya bukan hanya mengenai angka dalam laporan keuangan klub. Ada kehidupan pemain dan keluarga yang ikut terdampak.

Sepak bola Indonesia memang membutuhkan kompetisi yang lebih menarik, tata kelola yang semakin modern, serta klub yang semakin kompetitif.

Namun, semua itu harus berjalan beriringan dengan pemenuhan hak pemain.

Sebab, ukuran sepak bola yang profesional bukan hanya ketika pertandingan berlangsung meriah atau kompetisi mampu mendatangkan banyak penonton.

Profesionalisme juga terlihat dari bagaimana klub memenuhi kewajibannya kepada orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Jika Indonesia ingin benar-benar naik kelas, persoalan tunggakan gaji pemain tidak boleh terus dianggap sebagai masalah yang bisa ditunda.

Pemain sudah memberikan kemampuan terbaiknya di lapangan. Kini, hak mereka juga harus mendapatkan perhatian yang sama seriusnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tunggakan gaji pemain sepak bola 303 pemain sepak bola gaji pemain Liga Indonesia klub tunggak gaji sepak bola indonesia