Keterbatasan Fisik Tak Halangi Arul dan Ara Berprestasi, Kakak Beradik Ini Juara Tahfidz Al-Qur’an

Ika Nur Jannah • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 07:17 WIB
Keterbatasan fisik tidak membuat Arul dan Ara berhenti bermimpi. Kakak beradik asal Ponorogo ini justru berprestasi lewat tahfidz Al-Qur’an dan punya cita-cita besar. Kisah mereka mengajarkan satu hal: jangan biarkan perkataan orang lain menghentikan langkahmu. (youtube.com/@C8Podcast)
Keterbatasan fisik tidak membuat Arul dan Ara berhenti bermimpi. Kakak beradik asal Ponorogo ini justru berprestasi lewat tahfidz Al-Qur’an dan punya cita-cita besar. Kisah mereka mengajarkan satu hal: jangan biarkan perkataan orang lain menghentikan langkahmu. (youtube.com/@C8Podcast)

RADARBONANG.ID – Keterbatasan fisik tidak selalu menjadi batas bagi seseorang untuk bermimpi dan meraih prestasi.

Hal tersebut dibuktikan oleh Arul (15) dan Ara (14), kakak beradik asal Ponorogo yang tetap bersemangat menjalani kehidupan dan mengembangkan kemampuan mereka meski memiliki kondisi kaki yang membuat keduanya tidak dapat berjalan.

Kisah Arul dan Ara menjadi perhatian setelah mereka membagikan cerita kehidupan dalam C8 Podcast yang dipandu oleh Sara Wijayanto.

Di balik kondisi fisik yang berbeda, keduanya justru memiliki semangat belajar dan berprestasi yang membuat kisah mereka begitu menginspirasi.

Sejak kecil, Arul dan Ara harus menghadapi berbagai tantangan.

Keduanya lahir dengan kondisi kaki yang tidak dapat digunakan untuk berjalan. 

Baca Juga: Aliansi GERAM Gelar Aksi di DPR 27 Agustus, Bawa 10 Tuntutan dan Desak Pimpinan Parlemen Turun

Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan komplikasi penyakit chikungunya yang dialami sang ibu ketika sedang mengandung.

Bukan hanya menghadapi keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari, keduanya juga harus berhadapan dengan pandangan dan perkataan kurang menyenangkan dari orang lain.

Meski begitu, Arul dan Ara tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti belajar.

Tetap Aktif dan Berprestasi Lewat Tahfidz Al-Qur’an

Salah satu hal yang membuat perjalanan Arul dan Ara semakin menarik adalah prestasi mereka dalam bidang tahfidz Al-Qur’an.

Keduanya aktif mengikuti kegiatan hafalan Al-Qur’an dan bahkan pernah mendapatkan sejumlah prestasi dalam perlombaan tahfidz.

Arul menceritakan bahwa hafalan yang diikuti salah satunya berkaitan dengan juz 30. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah meraih beberapa posisi dalam kompetisi tersebut.

“Tahfidz kayak hafalan gitu juz 30, tapi diajak suratnya. Pernah juga juara 3, juara 2, harapan 1,” ungkap Arul.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi keduanya untuk mengembangkan kemampuan di bidang yang mereka sukai.

Alih-alih hanya berfokus pada apa yang tidak bisa dilakukan, Arul dan Ara memilih mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.

Semangat tersebut juga terlihat dari cita-cita yang ingin mereka kejar di masa depan.

Arul Ingin Jadi Editor, Ara Bermimpi Jadi Desainer

Seperti remaja pada umumnya, Arul dan Ara memiliki gambaran mengenai kehidupan yang ingin mereka jalani ketika dewasa nanti.

Arul mengaku tertarik dengan dunia editing, khususnya bidang yang berkaitan dengan pembuatan film dan pengolahan visual.

“Kalau saya punya cita-cita pengen jadi tukang editor. Suka kayak buat film, kayak color grading gitu,” ujar Arul.

Ketertarikan tersebut menunjukkan bahwa Arul memiliki minat terhadap dunia kreatif digital.

Sementara itu, Ara memiliki impian yang tidak kalah kreatif. Ia ingin menjadi seorang desainer baju.

“Sebenarnya cita-cita saya pengen jadi desainer baju aja gitu,” kata Ara.

Dua cita-cita tersebut memperlihatkan bahwa keduanya tidak ingin kehidupannya hanya ditentukan oleh kondisi fisik.

Mereka tetap melihat masa depan sebagai ruang untuk berkarya dan melakukan sesuatu yang mereka sukai.

Setahun Lebih Berpisah, Pertemuan dengan Ayah Bikin Haru

Di balik semangat Arul dan Ara, terdapat perjuangan keluarga yang tidak kalah besar.

Sang ayah, Zumari, harus merantau jauh demi bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut membuat dirinya harus berpisah dengan kedua anaknya dalam waktu yang cukup lama.

Momen pertemuan kembali menjadi salah satu bagian paling emosional dalam kisah mereka.

Zumari akhirnya dapat kembali bertemu dengan Arul dan Ara setelah sekitar 1 tahun 4 bulan tidak bertatap muka secara langsung.

Pertemuan tersebut bahkan terjadi dalam kesempatan podcast.

Zumari mengaku sangat bersyukur karena mendapatkan bantuan ongkos dari atasannya sehingga bisa pulang dan bertemu kembali dengan anak-anaknya.

“Alhamdulillah itu dikasih ongkos sama bosnya. Senang banget bisa ketemu mereka lagi,” tutur Zumari.

Bagi keluarga tersebut, pertemuan sederhana itu memiliki makna yang sangat besar.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan jarak yang memisahkan, kasih sayang antara orang tua dan anak tetap menjadi sumber kekuatan.

Ayah Tak Pernah Menganggap Anak-anaknya Lebih Rendah

Sebagai seorang ayah, Zumari mengaku bangga melihat perkembangan kedua anaknya.

Ia memahami bahwa kondisi fisik Arul dan Ara memang berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak berarti kemampuan dan kecerdasan mereka juga lebih rendah.

“Walaupun saya bilang sakit hati, kenyataan anak saya begini, namun belum tentu otaknya kalah dengan yang normal,” ujar Zumari.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana keluarga mereka berusaha membangun lingkungan yang menerima kondisi Arul dan Ara tanpa membuat keduanya merasa lebih rendah.

Zumari juga menyampaikan bahwa keluarganya berusaha menerima segala kondisi dengan lapang dada.

Menurutnya, kondisi yang diberikan Tuhan kepada keluarganya merupakan sebuah amanah yang harus dijalani dengan penuh penerimaan.

“Yang Maha Kuasa itu sudah percaya menitipkan kepada kami sekeluarga. Walaupun dalam keadaan bagaimanapun, perkataan orang bagaimana ya tetap kita terima dengan lapang dada,” jelasnya.

Ejekan Tak Menghentikan Langkah Mereka

Perjalanan Arul dan Ara tentu tidak selalu mudah.

Keduanya pernah menjadi sasaran ejekan karena kondisi fisik yang mereka miliki. Perkataan kasar dari orang lain tentu dapat meninggalkan luka, terlebih ketika dialami sejak usia muda.

Namun, keduanya berusaha tidak menjadikan perkataan tersebut sebagai alasan untuk berhenti menjalani kehidupan.

Justru pengalaman tersebut membuat mereka belajar untuk lebih kuat.

Arul bahkan menyampaikan pesan kepada anak-anak lain yang mungkin mengalami kondisi serupa agar tidak merasa malu terhadap keadaan dirinya.

“Kalau kalian malu, orang yang tidak senang sama kalian malah makin senang. Jadi, kalian harus semangat untuk menjalani hidup ini,” tegas Arul.

Pesan tersebut menjadi salah satu bagian paling kuat dari kisah mereka.

Keterbatasan Bukan Alasan Berhenti Bermimpi

Kisah Arul dan Ara memperlihatkan bahwa prestasi tidak selalu ditentukan oleh kondisi fisik.

Baca Juga: Mengenal Ketan Urap, Jajanan Betawi dengan Ketan Pulen dan Kelapa Gurih untuk Menu Sarapan

Keduanya memang memiliki keterbatasan dalam bergerak, tetapi mereka tetap memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan bakat, menghafal Al-Qur’an, berprestasi dan memiliki cita-cita.

Arul ingin berkarya melalui dunia editing, sedangkan Ara ingin mewujudkan mimpinya sebagai desainer pakaian.

Di belakang mereka juga ada keluarga yang berusaha memberikan dukungan dan penerimaan.

Pada akhirnya, kisah dua bersaudara ini bukan sekadar cerita tentang keterbatasan fisik.

Ini adalah cerita tentang keberanian untuk tetap bermimpi ketika keadaan tidak selalu sesuai dengan harapan.

Sebab, kondisi seseorang mungkin berbeda, tetapi kesempatan untuk belajar, berkarya dan memberikan manfaat tetap terbuka.

Dan seperti pesan Arul, daripada menghabiskan energi untuk memikirkan perkataan orang lain, jauh lebih baik terus melangkah dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@C8Podcast
Arul dan Ara Ponorogo kakak beradik penyandang disabilitas prestasi tahfidz Al-Qur’an kisah inspiratif anak Sara Wijayanto