Tragedi Gempa NTT M 7,7: 100 Orang Meninggal, 180 Ribu Warga Kehilangan Tempat Tinggal

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:14 WIB
Duka kembali menyelimuti Nusa Tenggara Timur. Gempa M 7,7 menyebabkan 100 orang meninggal dunia, lebih dari 1.600 warga terluka, dan sekitar 180 ribu orang harus mengungsi. Puluhan ribu rumah serta fasilitas umum juga mengalami kerusakan. Bantuan logistik terus disalurkan ke wilayah terdampak. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym).
Duka kembali menyelimuti Nusa Tenggara Timur. Gempa M 7,7 menyebabkan 100 orang meninggal dunia, lebih dari 1.600 warga terluka, dan sekitar 180 ribu orang harus mengungsi. Puluhan ribu rumah serta fasilitas umum juga mengalami kerusakan. Bantuan logistik terus disalurkan ke wilayah terdampak. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym).

RADARBONAG.ID — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) membawa dampak besar bagi masyarakat.

Jumlah korban meninggal dunia terus bertambah seiring proses evakuasi dan penanganan warga terdampak.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (24/8), sebanyak 100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Selain itu, lebih dari 1.600 warga mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, angka korban meninggal mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan data awal yang mencatat 48 korban jiwa.

Peningkatan tersebut terjadi karena sebagian korban mengalami luka berat dan akhirnya meninggal dunia ketika menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Baca Juga: Bank Mandiri Jadi Sorotan, Netizen Ramai Serukan Pindahkan Dana ke Bank Lain

Korban Jiwa Terus Bertambah Seiring Proses Penanganan

Pada tahap awal penanganan bencana, petugas mencatat puluhan korban meninggal dunia.

Namun, proses pencarian, evakuasi, dan perawatan korban terus berlangsung sehingga jumlah korban yang meninggal kemudian bertambah.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya dampak gempa terhadap masyarakat di wilayah terdampak.

Selain korban meninggal dan luka-luka, ribuan keluarga juga harus menghadapi kerusakan tempat tinggal.

Sebagian warga bahkan tidak dapat kembali ke rumah karena bangunan mengalami kerusakan parah atau kondisi lingkungan belum memungkinkan untuk dihuni.

Lebih dari 180 Ribu Warga Mengungsi

Salah satu dampak terbesar gempa NTT adalah banyaknya masyarakat yang kehilangan tempat tinggal atau harus meninggalkan rumah demi keselamatan.

BNPB mencatat sebanyak 180.327 jiwa berada di pengungsian.

Jumlah tersebut tersebar di sejumlah wilayah terdampak.

Warga membutuhkan berbagai keperluan dasar, mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan tidur, hingga tempat tinggal sementara.

Besarnya jumlah pengungsi membuat distribusi bantuan menjadi salah satu tantangan utama selama masa tanggap darurat.

Petugas dan pemerintah daerah harus memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan, termasuk kawasan yang memiliki akses transportasi terbatas.

Puluhan Ribu Rumah Mengalami Kerusakan

Dampak gempa tidak hanya terlihat dari jumlah korban jiwa.

Puluhan ribu rumah warga juga mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda.

Berdasarkan pendataan sementara BNPB, terdapat 73.818 unit rumah yang terdampak.

Rinciannya meliputi 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rumah rusak sedang, dan 32.979 rumah rusak ringan.

Kerusakan tersebut membuat sebagian besar masyarakat harus tinggal sementara di lokasi pengungsian.

Pemerintah dan petugas terkait masih melakukan verifikasi data di lapangan.

Pendataan dilakukan secara bertahap mulai dari tingkat paling bawah hingga pemerintah pusat.

Langkah tersebut diperlukan agar jumlah kerusakan yang dilaporkan benar-benar sesuai dengan kondisi sebenarnya sekaligus menjadi dasar dalam menentukan bantuan dan proses pemulihan.

Hampir 2.000 Fasilitas Umum Ikut Terdampak

Gempa juga menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas publik yang digunakan masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sebanyak 1.915 fasilitas umum dilaporkan terdampak.

Bangunan yang mengalami kerusakan mencakup fasilitas pendidikan, rumah ibadah, hingga gedung pemerintahan.

Kerusakan fasilitas publik menjadi persoalan tersendiri karena dapat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar dan pelayanan pemerintahan.

Dalam kondisi bencana, keberadaan sekolah, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, dan kantor pemerintahan sangat penting untuk mendukung proses penanganan serta pemulihan kehidupan warga.

Ribuan Ton Bantuan Mulai Disalurkan

Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat, BNPB terus mengupayakan distribusi bantuan logistik ke berbagai wilayah terdampak.

Hingga data tersebut diperbarui, sekitar 1.225 ton bantuan logistik telah didistribusikan melalui dua titik posko utama, yakni Labuan Bajo dan Maumere.

Posko Labuan Bajo menjadi salah satu pusat distribusi terbesar dengan sekitar 869 ton logistik.

Bantuan dari posko tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada.

Sementara itu, Posko Maumere telah menyalurkan sekitar 356 ton bantuan untuk wilayah Sikka, Ende, Nagekeo, serta Pulau Palue.

Distribusi melalui dua titik tersebut diharapkan dapat mempercepat pengiriman bantuan menuju wilayah yang paling membutuhkan.

BNPB Masih Verifikasi Data Korban dan Kerusakan

Di tengah situasi darurat, pendataan menjadi salah satu pekerjaan penting yang terus dilakukan pemerintah.

BNPB bersama pemerintah daerah dan petugas di lapangan masih melakukan verifikasi jumlah korban, pengungsi, rumah rusak, serta fasilitas publik yang terdampak.

Data tersebut dapat berubah seiring ditemukannya informasi baru dari lapangan.

Karena itu, angka korban maupun kerusakan yang disampaikan pemerintah merupakan data sementara yang terus diperbarui selama proses tanggap darurat berlangsung.

Verifikasi juga diperlukan untuk menghindari adanya data ganda sekaligus memastikan bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang terdampak.

Fokus Utama Kini Menyelamatkan dan Memenuhi Kebutuhan Warga

Dengan jumlah korban meninggal mencapai 100 orang, lebih dari 1.600 korban luka, serta lebih dari 180 ribu warga mengungsi, penanganan gempa NTT masih membutuhkan perhatian besar.

Baca Juga: Ditengah Tur Eropa, DeadSquad-Jasad-Death Vomit Terlantar di Dublin hingga Dapat Bantuan Diaspora

Pemerintah bersama BNPB dan berbagai unsur terkait terus memprioritaskan evakuasi, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta distribusi bantuan logistik.

Pada saat yang sama, proses pendataan kerusakan terus dilakukan sebagai langkah awal menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Besarnya dampak gempa membuat masa pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu.

Bagi masyarakat yang kehilangan rumah dan anggota keluarga, dukungan tidak hanya diperlukan selama masa tanggap darurat, tetapi juga dalam proses membangun kembali kehidupan mereka.

Hingga kini, pemerintah masih berfokus memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi sekaligus mempercepat penanganan di seluruh wilayah yang terdampak gempa NTT.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
korban gempa NTT gempa NTT M 7 pengungsi gempa NTT rumah rusak akibat gempa ntt