Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Ribuan Hotspot Bermunculan, 21 Ribu Warga Terserang ISPA

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:55 WIB
Kalimantan kembali bergulat dengan kabut asap. Ribuan titik panas bermunculan, lahan gambut terus terbakar, sementara dampaknya mulai dirasakan masyarakat. (AFP/ Reina)
Kalimantan kembali bergulat dengan kabut asap. Ribuan titik panas bermunculan, lahan gambut terus terbakar, sementara dampaknya mulai dirasakan masyarakat. (AFP/ Reina)

RADARBONAG.ID – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Pulau Kalimantan.

Sejak awal Juli 2026, kabut asap pekat dilaporkan menyelimuti sejumlah wilayah hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan memunculkan persoalan kesehatan.

Kondisi tersebut bukan hanya persoalan jarak pandang. 

Di balik asap yang menggantung, terdapat ancaman terhadap kesehatan warga sekaligus kerusakan ekosistem, terutama kawasan gambut yang dikenal sulit dipadamkan ketika sudah terbakar.

Di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palangka Raya, kepulan asap bahkan membuat suasana siang hari terlihat lebih gelap.

Baca Juga: Meta AI Kini Punya Aplikasi Desktop untuk Mac, Bisa Baca Layar hingga Bantu Kelola Bisnis

Aktivitas masyarakat pun ikut terdampak karena kualitas udara memburuk dan sebagian warga harus mengurangi kegiatan di luar ruangan.

Ratusan Karhutla Terjadi di Palangka Raya

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat 298 kejadian karhutla sepanjang 1 Juni hingga 19 Agustus 2026.

Dari ratusan kejadian tersebut, sedikitnya 261,41 hektare lahan dilaporkan terbakar.

Wilayah yang mengalami dampak cukup besar berada di Kecamatan Jekan Raya dan Sabangau.

Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan kejadian yang muncul dalam satu atau dua hari.

Kebakaran telah berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Situasi menjadi semakin rumit ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Api tidak selalu terlihat menyala di permukaan.

Dalam kondisi tertentu, bara dapat terus bertahan di bawah lapisan tanah dan menjalar ke area lain.

Hotspot di Kalimantan Barat Melonjak Tajam

Indikator lain yang menunjukkan meningkatnya ancaman karhutla terlihat dari jumlah titik panas atau hotspot.

Data Pantau Gambut mencatat Kalimantan Barat memiliki 4.874 titik panas pada Juli 2026.

Jumlah tersebut disebut mengalami peningkatan hingga 1.897 persen dibandingkan Juni.

Sementara itu, Kalimantan Tengah juga menghadapi peningkatan signifikan.

Sepanjang Juli 2026, tercatat 2.821 titik panas di Kalimantan Tengah.

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan sebelumnya yang berada di kisaran 200 titik.

Lonjakan hotspot menjadi salah satu indikator yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat membantu menunjukkan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.

Namun, titik panas tidak selalu berarti setiap lokasi tersebut merupakan kebakaran besar.

Data satelit tetap membutuhkan verifikasi di lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

21 Ribu Orang Dilaporkan Terserang ISPA

Dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah persoalan kesehatan.

Paparan asap karhutla dapat membuat kualitas udara memburuk dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.

Berdasarkan data Youth Act Kalimantan, jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 21.000 orang.

Kondisi tersebut menjadi semakin memprihatinkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah pelosok.

Akses terhadap fasilitas kesehatan, apotek, hingga perlengkapan perlindungan seperti masker tidak selalu mudah.

Jarak dan kondisi geografis membuat sebagian warga membutuhkan bantuan tambahan ketika kabut asap semakin tebal.

Untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi tersebut, relawan bahkan mendirikan "rumah aman asap" secara mandiri di Desa Pilang.

Tempat tersebut menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat untuk menyediakan ruang yang lebih aman bagi warga ketika kualitas udara di luar ruangan memburuk.

Lahan Gambut Menyimpan Bahaya yang Tidak Terlihat

Persoalan karhutla di Kalimantan tidak hanya menyangkut pohon dan vegetasi yang terbakar.

Lahan gambut memiliki karakteristik berbeda karena material organik yang berada di bawah permukaan tanah dapat ikut terbakar.

Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Tatag Muttaqin, mengingatkan adanya efek berantai ketika kawasan gambut terbakar.

Gambut yang terbakar dapat mengalami kerusakan fungsi hidrologis. Kondisi tersebut membuat kemampuan lahan dalam menyimpan air menurun.

Ketika lahan menjadi semakin kering, risiko terjadinya kebakaran kembali meningkat.

Inilah yang membuat kebakaran gambut dapat membentuk semacam "lingkaran setan".

Lahan terbakar menjadi rusak dan lebih kering. Ketika musim kemarau kembali datang, kondisi tersebut membuatnya semakin mudah terbakar.

Api Bisa Membara di Bawah Tanah

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani kebakaran gambut adalah keberadaan subsurface fire atau api yang membara di bawah permukaan.

Api semacam ini tidak selalu terlihat seperti kebakaran biasa.

Di permukaan, kondisi mungkin terlihat relatif aman.

Namun, bara masih dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan terus menjalar.

Karena itu, proses pemadaman membutuhkan waktu dan metode yang berbeda.

Petugas dan relawan harus memastikan api benar-benar padam, bukan hanya menghilangkan kobaran yang terlihat dari permukaan.

Jika masih terdapat bara di dalam tanah, kebakaran dapat kembali muncul ketika kondisi memungkinkan.

Sumber Air Mulai Menjadi Persoalan

Upaya pemadaman juga menghadapi tantangan lain, yaitu keterbatasan sumber air.

Kemarau panjang membuat sejumlah sumber air mengalami penurunan debit.

Kondisi tersebut menyulitkan petugas ketika membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menangani kebakaran.

Sungai Kahayan menjadi salah satu wilayah yang disebut menghadapi persoalan tersebut.

Keterbatasan air membuat pemadaman tidak bisa dilakukan secara optimal, sementara api di kawasan gambut membutuhkan penanganan yang tidak sederhana.

Persoalan logistik turut memperberat situasi.

Relawan di lapangan harus menghadapi kebutuhan operasional, termasuk bahan bakar untuk mobilitas.

Bahkan, waktu yang seharusnya digunakan untuk membantu pemadaman dapat tersita karena harus mengantre mendapatkan bahan bakar.

Karhutla Bukan Hanya Masalah Asap

Krisis karhutla yang kembali terjadi di Kalimantan memperlihatkan bahwa persoalan ini memiliki dampak berlapis.

Asap mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara. Kesehatan warga ikut terdampak.

Di saat yang sama, ekosistem gambut mengalami kerusakan dan berpotensi kehilangan fungsi pentingnya.

Baca Juga: Kasus Investasi Berujung Hukum, Ruben Onsu Jadi Tersangka Dugaan Penipuan dan Penggelapan

Kebakaran gambut juga dapat melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer sehingga persoalannya tidak berhenti pada wilayah yang terbakar.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar.

Pencegahan, pemantauan hotspot, kesiapan personel, perlindungan masyarakat, pengelolaan tata air gambut, serta ketersediaan sarana pemadaman menjadi bagian penting untuk memutus siklus kebakaran.

Di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan, persoalannya bukan sekadar bagaimana memadamkan api hari ini.

Tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana mencegah lahan yang sama kembali terbakar ketika musim kemarau berikutnya tiba.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : liputan6.com
karhutla Kalimantan 2026 hotspot Kalimantan kabut asap Kalimantan ISPA akibat kabut asap kebakaran lahan gambut