RADARBONAG.ID — Seorang pedagang pentol di Kabupaten Malang, Anif Ashar (47), dibuat bingung setelah mengetahui dirinya tercatat dalam Desil 9 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terdengar seperti kabar menggembirakan karena Desil 9 berada di kelompok kesejahteraan relatif tinggi.
Namun, bagi Anif yang sehari-hari mencari penghasilan dari berjualan pentol, status tersebut justru menimbulkan pertanyaan.
Ia mempertanyakan bagaimana kondisi ekonomi keluarganya bisa dikategorikan sedemikian rupa, sementara kehidupan sehari-hari masih jauh dari gambaran kelompok masyarakat kaya.
Persoalan Anif bukan semata-mata soal mendapatkan bantuan sosial. Ia justru ingin data yang tercatat mengenai keluarganya benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Baca Juga: Bangga Buatan Indonesia Bukan Lagi Sekadar Slogan, Begini Mengapa Memilih Produk Lokal Bisa Jadi Ben
Jualan Pentol, Kok Bisa Masuk Desil 9?
Anif merupakan salah satu warga yang merasakan langsung persoalan ketika data statistik tidak sepenuhnya terasa sama dengan kondisi kehidupan sehari-hari.
Sebagai pedagang pentol, pendapatannya tidak selalu berada pada angka yang sama setiap hari.
Penghasilan pedagang kecil sangat bergantung pada jumlah pembeli, lokasi berjualan, cuaca, hingga berbagai pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk menjalankan usaha.
Karena itu, ketika mengetahui dirinya berada di Desil 9, Anif mempertanyakan dasar penilaian yang membuat keluarganya masuk dalam kelompok tersebut.
Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya tidak sedang mengejar bantuan pemerintah.
Yang diharapkan justru sederhana: data yang digunakan pemerintah harus menggambarkan keadaan warga secara akurat.
Kasus Anif kemudian ikut memperlihatkan persoalan yang lebih luas.
Belakangan, sejumlah masyarakat juga mengaku terkejut setelah mengetahui dirinya berada di Desil 9 atau bahkan Desil 10 meski merasa kondisi ekonomi sehari-hari masih pas-pasan.
Desil 9 Bukan Berarti Otomatis Orang Kaya Raya
Istilah desil memang belakangan semakin sering terdengar, terutama setelah pemerintah menggunakan DTSEN sebagai salah satu basis data sosial ekonomi.
Secara sederhana, penduduk dibagi menjadi 10 kelompok berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraan.
Desil 1 berada di kelompok paling rendah, sedangkan Desil 10 berada di kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Dengan demikian, Desil 9 memang berada di kelompok atas dalam pemeringkatan tersebut.
Namun, angka desil tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai label bahwa seseorang pasti hidup mewah atau memiliki penghasilan besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa pemeringkatan sosial ekonomi tidak hanya melihat satu indikator seperti gaji bulanan.
Berbagai variabel dapat diperhitungkan, mulai dari kondisi kependudukan, pendidikan, pekerjaan, kualitas tempat tinggal, akses sanitasi dan air minum, kesehatan, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha.
Artinya, kondisi dua keluarga dengan pendapatan yang terlihat sama belum tentu menghasilkan posisi desil yang sama.
Kenapa Penghasilan Kecil Bisa Masuk Desil Tinggi?
Di sinilah istilah desil sering menimbulkan salah tafsir.
Desil merupakan posisi relatif, bukan sekadar batas pendapatan.
Seseorang bisa merasa penghasilannya rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan hidupnya.
Namun, sistem pemeringkatan dapat menempatkan rumah tangga tersebut pada kelompok yang berbeda ketika dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi populasi yang menjadi dasar penghitungan.
Karena itu, Desil 9 tidak otomatis berarti seseorang memiliki tabungan besar, rumah mewah, kendaraan mahal, atau kehidupan tanpa persoalan ekonomi.
Bahkan, kelompok dengan posisi kesejahteraan tinggi pun dapat memiliki rentang kondisi ekonomi yang cukup beragam.
Hal inilah yang membuat kasus Anif menjadi menarik. Label statistik yang terlihat sederhana ternyata tidak selalu bisa menggambarkan pengalaman ekonomi seseorang hanya dengan satu angka.
Persoalan Data Bisa Berdampak ke Bantuan dan Subsidi
Perdebatan mengenai desil bukan sekadar soal angka di sebuah sistem.
Data tersebut memiliki konsekuensi karena menjadi salah satu dasar dalam penentuan sasaran berbagai program pemerintah.
Kementerian Sosial menggunakan pengelompokan kesejahteraan sebagai salah satu bagian dalam penentuan sasaran bantuan.
Secara umum, kelompok Desil 1 sampai 4 merupakan kelompok yang dapat diusulkan untuk sejumlah program bantuan sosial, meski status desil tidak otomatis membuat seseorang pasti menerima bantuan tertentu.
Karena itu, ketika seseorang yang merasa ekonominya masih berat tiba-tiba tercatat dalam Desil 9, wajar jika muncul kekhawatiran mengenai akses terhadap program bantuan yang memiliki persyaratan berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Persoalan tersebut semakin menjadi perhatian karena klasifikasi desil juga ramai dibicarakan dalam konteks kebijakan subsidi energi.
Data DTSEN Bisa Berubah
Satu hal yang penting dipahami, posisi desil bukanlah status yang berlaku selamanya.
Kondisi ekonomi sebuah keluarga dapat berubah. Pendapatan bisa turun, anggota keluarga bertambah, pekerjaan dapat berganti, aset berubah, atau kondisi tempat tinggal mengalami perubahan.
Karena itu, data sosial ekonomi juga membutuhkan pemutakhiran secara berkala agar semakin sesuai dengan kondisi masyarakat.
BPS dan pemerintah terus melakukan pembaruan data untuk meningkatkan akurasi pemetaan sosial ekonomi.
Jika masyarakat merasa informasi yang tercatat tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, tersedia mekanisme untuk mengajukan pembaruan atau perbaikan data melalui jalur yang disediakan pemerintah.
Bukan Soal Minta Bansos, tetapi Soal Akurasi
Kasus Anif memberikan gambaran bahwa persoalan data sosial ekonomi bukan perkara sederhana.
Di satu sisi, pemerintah membutuhkan sistem klasifikasi untuk menentukan kebijakan secara lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa data yang digunakan untuk menentukan posisi mereka benar-benar menggambarkan kehidupan nyata.
Bagi pedagang kecil seperti Anif, perbedaan antara angka di sistem dengan kondisi di lapangan tentu dapat menimbulkan tanda tanya.
Apalagi, masyarakat awam mungkin memahami Desil 9 secara sederhana sebagai "kelompok orang kaya".
Baca Juga: Jutaan Views Belum Tentu Populer, Ini Alasan Viral dan Terkenal Ternyata Punya Makna Berbeda di Medi
Padahal, sistem desil memiliki metode penghitungan dan indikator yang lebih kompleks.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam membaca angka desil.
Begitu pula pemerintah perlu memastikan proses pemutakhiran dan verifikasi berjalan sebaik mungkin.
Pada akhirnya, persoalan Anif bukan hanya tentang dirinya yang tercatat sebagai Desil 9.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah angka dalam sistem data bisa memiliki arti besar bagi kehidupan masyarakat.
Dan ketika angka tersebut terasa tidak sesuai dengan kenyataan, yang dibutuhkan bukan sekadar perdebatan soal siapa yang benar, melainkan mekanisme pembaruan data yang mudah, transparan, dan benar-benar mampu mempertemukan data pemerintah dengan kondisi warga di lapangan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : kompas.com