Sering Dikira Bukan Orang Jawa Timur, Begini Dilema Logat Orang Tuban yang Punya Ciri Tersendiri

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:48 WIB
Sama-sama Jawa Timur, tapi kenapa logat orang Tuban sering bikin orang salah tebak asal daerah? Ternyata ada cerita panjang di balik cara bicaranya (atriumhosting.com)
Sama-sama Jawa Timur, tapi kenapa logat orang Tuban sering bikin orang salah tebak asal daerah? Ternyata ada cerita panjang di balik cara bicaranya (atriumhosting.com)

RADARBONAG.ID — Pernah mendengar orang Tuban berbicara lalu spontan bertanya, “Kamu sebenarnya orang Jawa Timur atau Jawa Tengah?” Pertanyaan semacam itu bukan hal asing bagi sebagian warga Tuban.

Meski secara administratif Tuban merupakan bagian dari Jawa Timur, cara bicara masyarakatnya memang memiliki karakter yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan dialek Suroboyoan yang identik dengan wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Perbedaan tersebut membuat logat orang Tuban terkadang terdengar “tidak seperti Jawa Timur” bagi telinga orang dari daerah lain.

Padahal, keunikan itu justru menjadi bagian dari identitas bahasa masyarakat Tuban yang tumbuh di kawasan pesisir utara Jawa.

Sama-sama Jawa Timur, tetapi Logatnya Bisa Terasa Berbeda

Jawa Timur memiliki beragam dialek. Cara berbicara masyarakat Surabaya tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan masyarakat Tuban.

Baca Juga: Lansia 77 Tahun Kritis Pasca Gempa NTT Dievakuasi Pakai Helikopter Basarnas, Perjalanan 30 Menit Jadi Penentu

Surabaya dikenal dengan dialek Arekan atau Suroboyoan yang memiliki karakter tegas, lugas, dan khas.

Sementara itu, Tuban berada di kawasan Pantura dan memiliki karakter bahasa pesisir yang mendapat pengaruh dari wilayah Jawa Tengah bagian timur, terutama daerah yang secara geografis berdekatan seperti Rembang dan Blora.

Karena itulah, ketika orang Tuban berbicara, telinga orang luar daerah kadang menangkap nuansa yang berbeda dari bahasa Jawa yang umum diasosiasikan dengan Jawa Timur.

Bukan berarti bahasa Tuban bukan bahasa Jawa Timur. Justru posisi geografis Tuban membuat daerah ini memiliki karakter kebahasaan yang unik.

“Cah” di Tuban dan “Arek” di Surabaya

Salah satu perbedaan yang mudah ditemukan adalah pilihan kosakata dalam percakapan sehari-hari.

Masyarakat Surabaya sangat akrab dengan kata “arek”, sedangkan di Tuban penggunaan kata “cah” lebih lekat dalam percakapan untuk menyebut anak atau orang.

Perbedaan kecil semacam ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat karakter percakapan kedua daerah terdengar berbeda.

Belum lagi beberapa kosakata khas Tubanan yang masih bisa ditemui dalam percakapan masyarakat, meski sebagian mulai jarang digunakan oleh generasi muda.

Salah satunya adalah kata “nduk” untuk menyebut anak perempuan. Ada pula perubahan pelafalan tertentu seperti arep yang dalam dialek Tuban dapat terdengar menjadi “ape”.

Kosakata dan perubahan pelafalan tersebut menunjukkan bahwa bahasa Tuban memiliki ciri khas tersendiri, bukan sekadar variasi dari dialek Suroboyoan.

Ada “Leh” yang Membuat Bahasa Tuban Makin Khas

Bagi masyarakat Tuban, ungkapan seperti “iyo leh”, “piye leh”, atau “sopo leh” mungkin terdengar sangat biasa.

Namun bagi orang dari luar Tuban, penggunaan kata “leh” dalam percakapan bisa langsung memberikan kesan bahwa penuturnya berasal dari wilayah Pantura.

Partikel semacam ini menjadi salah satu identitas kecil yang membuat percakapan sehari-hari terasa berbeda.

Yang menarik, karakter bahasa tidak hanya terbentuk dari kosakata. Intonasi juga memainkan peran besar.

Dialek Tubanan dalam sejumlah pengamatan terdengar lebih datar dibandingkan Suroboyoan yang cenderung lebih tegas dan keras.

Perbedaan nada bicara inilah yang kadang membuat orang Tuban dianggap memiliki gaya bicara yang lebih dekat dengan masyarakat Jawa Tengah.

Kenapa Logat Tuban Terasa Lebih “Jawa Tengah”?

Jawabannya tidak lepas dari posisi Tuban.

Daerah ini berada di pesisir utara Jawa dan berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah.

Tuban juga memiliki hubungan sosial, ekonomi, dan budaya yang panjang dengan kawasan Pantura di sebelah barat.

Kedekatan dengan Rembang dan Blora membuat pertukaran bahasa dan budaya berlangsung secara alami sejak lama.

Akibatnya, bahasa masyarakat Tuban berkembang dengan karakter yang tidak sepenuhnya sama dengan bahasa masyarakat Surabaya.

Inilah yang kemudian melahirkan dilema unik bagi sebagian orang Tuban.

Ketika berbicara dengan orang Surabaya atau daerah Jawa Timur lainnya, logat mereka bisa terdengar berbeda.

Namun ketika berada di Jawa Tengah, mereka tetap memiliki ciri khas Tuban yang tidak sepenuhnya sama dengan daerah di sekitarnya.

Ketika Bahasa Khas Tuban Mulai Ditinggalkan

Di balik keunikan tersebut, ada persoalan lain yang tidak kalah menarik: sejumlah kosakata dan ungkapan khas Tuban mulai jarang digunakan.

Baca Juga: Manfaat Kimpul yang Jarang Diketahui, Umbi Lokal Ini Bisa Jadi Pangan Alternatif yang Kaya Khasiat

Perkembangan zaman, penggunaan bahasa Indonesia, media sosial, hingga pergaulan lintas daerah membuat generasi muda semakin terbiasa menggunakan bahasa yang lebih umum dipahami.

Padahal, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya terdapat sejarah, kebiasaan, dan identitas masyarakat yang menggunakannya.

Karena itu, keunikan logat Tuban seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang membuat seseorang “kurang Jawa Timur”.

Justru sebaliknya, karakter tersebut menunjukkan betapa beragamnya bahasa di Jawa Timur.

Tuban tetap Jawa Timur. Hanya saja, cara masyarakatnya berbicara menjadi bukti bahwa identitas sebuah daerah tidak selalu bisa ditebak hanya dari batas administratif.

Dan mungkin, ketika suatu hari ada orang bertanya, “Kamu orang Jawa Tengah, ya?”, warga Tuban cukup menjawab santai: “Bukan, aku wong Tuban.”

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Tuban
logat orang Tuban dialek Tuban bahasa Tuban perbedaan bahasa Tuban dan Surabaya dialek Suroboyoan