Lansia 77 Tahun Kritis Pasca Gempa NTT Dievakuasi Pakai Helikopter Basarnas, Perjalanan 30 Menit Jadi Penentu

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:43 WIB
30 menit di udara menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan nyawa.
Seorang lansia berusia 77 tahun dalam kondisi kritis setelah gempa NTT dievakuasi menggunakan Helikopter Dauphin Basarnas dari Manggarai Timur menuju RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo. (Basarnas)
30 menit di udara menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan nyawa. Seorang lansia berusia 77 tahun dalam kondisi kritis setelah gempa NTT dievakuasi menggunakan Helikopter Dauphin Basarnas dari Manggarai Timur menuju RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo. (Basarnas) 

RADARBONAG.ID — Upaya penyelamatan korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan di tengah kondisi darurat.

Tim SAR Gabungan mengerahkan helikopter untuk mengevakuasi seorang lansia yang mengalami kondisi kritis di Kabupaten Manggarai Timur, Rabu (19/8/2026).

Keputusan menggunakan jalur udara diambil karena kondisi korban membutuhkan penanganan medis lebih lanjut dan tidak memungkinkan untuk menunggu terlalu lama melalui jalur darat.

Korban diketahui bernama Adelina Ndimias, perempuan berusia 77 tahun.

Ia dievakuasi dalam kondisi kritis setelah mengalami cedera serius yang diduga berkaitan dengan benturan saat gempa terjadi.

Baca Juga: Bukan Cuma Berebut Hadiah, Ini Alasan Lomba Agustusan Selalu Jadi Hiburan Warga yang Dinanti Setiap Tahun

Tim medis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengidentifikasi adanya dugaan fraktur basis cranii, atau patah tulang pada bagian dasar tengkorak.

Kondisi tersebut membuat waktu menjadi faktor penting dalam proses penyelamatan.

Helikopter Basarnas Dipilih untuk Pangkas Waktu Evakuasi

Dalam situasi bencana, akses menuju fasilitas kesehatan sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Kerusakan infrastruktur dan kondisi wilayah terdampak dapat membuat perjalanan melalui jalur darat membutuhkan waktu lebih lama.

Karena itu, Tim SAR Gabungan memutuskan menggunakan Helikopter Dauphin milik Basarnas untuk membawa Adelina menuju fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penanganan lebih memadai.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengatakan, proses evakuasi menuju RSUD Pratama Komodo di Labuan Bajo dapat ditempuh sekitar 30 menit.

"Korban dievakuasi menggunakan Helikopter Dauphin Basarnas dengan waktu tempuh sekitar 30 menit menuju RSUD Pratama Komodo, Labuan Bajo. Dalam proses evakuasi, korban didampingi satu orang keluarga," ujar Yudhi.

Keberadaan helikopter menjadi sangat penting karena dapat memangkas waktu perjalanan dibandingkan jika korban harus dibawa melalui jalur darat.

Bagi pasien dengan kondisi kritis, perbedaan waktu tersebut dapat menjadi faktor penting dalam mendapatkan pertolongan medis lanjutan.

Lansia 77 Tahun Dievakuasi dalam Kondisi Kritis

Adelina menjadi salah satu korban yang membutuhkan prioritas penanganan setelah gempa mengguncang wilayah NTT.

Usianya yang sudah lanjut serta dugaan cedera pada bagian dasar tengkorak membuat proses evakuasi harus dilakukan secara hati-hati.

Tim medis dan personel SAR tidak hanya dituntut bergerak cepat, tetapi juga memastikan kondisi korban tetap terpantau selama perjalanan.

Setelah proses evakuasi selesai, Adelina dibawa menuju RSUD Pratama Komodo di Labuan Bajo untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Sementara itu, satu orang anggota keluarga turut mendampingi korban selama proses penerbangan.

Tim SAR Masih Sisir Wilayah Terdampak

Di tengah proses evakuasi medis, operasi pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan.

Tim SAR Gabungan tetap menyisir sejumlah wilayah terdampak, termasuk area di Manggarai Timur dan kabupaten sekitarnya.

Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang masih terjebak di balik bangunan yang roboh akibat gempa.

Kondisi pascabencana membuat proses pencarian membutuhkan kehati-hatian.

Puing bangunan dan kerusakan infrastruktur dapat menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.

Basarnas memastikan kesiapan untuk melakukan evakuasi medis darurat apabila kembali ditemukan korban yang membutuhkan penanganan segera.

Dampak Gempa NTT Capai Ribuan Korban

Gempa yang mengguncang NTT sejak 15 Agustus 2026 menimbulkan dampak besar bagi masyarakat di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam informasi yang disampaikan, bencana tersebut telah menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan lebih dari seribu lainnya mengalami luka-luka.

Data dampak yang tercatat meliputi:

Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan penanganan pascabencana yang harus dilakukan pemerintah dan berbagai unsur terkait.

Penanganan tidak hanya berfokus pada pencarian serta penyelamatan korban, tetapi juga mencakup kebutuhan pengungsi, layanan kesehatan, logistik, hingga pemulihan tempat tinggal warga.

BNPB Minta Data Kerusakan Segera Divalidasi

Besarnya dampak gempa membuat proses pendataan menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menginstruksikan jajaran di daerah untuk mempercepat validasi data kerusakan dan kebutuhan masyarakat terdampak.

Pendataan diperlukan agar bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing warga.

Rumah yang mengalami kerusakan ringan tentu membutuhkan penanganan berbeda dengan bangunan yang mengalami kerusakan berat atau bahkan tidak dapat dihuni kembali.

Karena itu, akurasi data menjadi salah satu kunci agar bantuan tidak salah sasaran.

"Kita harus memastikan bantuan yang disalurkan kepada masyarakat terdampak sesuai dengan tingkat kerusakan rumah mereka," tegas Suharyanto.

Bukan Hanya Menyelamatkan Korban, tetapi Juga Memulihkan Kehidupan

Penanganan gempa tidak berhenti ketika korban berhasil dievakuasi.

Setelah kondisi darurat terlewati, masyarakat terdampak masih menghadapi persoalan panjang.

Pengungsi membutuhkan makanan, air bersih, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya.

Sementara warga yang rumahnya rusak membutuhkan kepastian mengenai bantuan perbaikan atau pembangunan kembali tempat tinggal.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, relawan, dan berbagai unsur lainnya menjadi sangat penting.

Setiap tahapan memiliki tujuan berbeda, tetapi semuanya bermuara pada satu hal: memastikan masyarakat terdampak dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman.

Evakuasi Adelina Jadi Pengingat Pentingnya Respons Cepat

Evakuasi Adelina menggunakan helikopter Basarnas menunjukkan betapa pentingnya kecepatan dalam situasi bencana.

Ketika akses darat terbatas dan kondisi korban membutuhkan penanganan segera, jalur udara dapat menjadi pilihan untuk memangkas waktu perjalanan.

Baca Juga: Sering Menyendiri hingga Curiga Berlebihan, Kenali 7 Tanda Awal Skizofrenia yang Perlu Diwaspadai

Perjalanan sekitar 30 menit menuju rumah sakit bukan sekadar angka.

Bagi korban dalam kondisi kritis, waktu tersebut menjadi bagian penting dari upaya mendapatkan pertolongan.

Di sisi lain, operasi SAR masih berlanjut untuk mencari kemungkinan korban lain yang membutuhkan bantuan.

Gempa NTT juga menunjukkan bahwa fase tanggap darurat membutuhkan lebih dari sekadar penyelamatan korban.

Pendataan yang akurat, distribusi bantuan yang tepat, layanan kesehatan, serta pemulihan tempat tinggal menjadi rangkaian pekerjaan panjang yang harus dilakukan secara bersama-sama.

Sementara itu, bagi Adelina dan keluarganya, penerbangan menggunakan Helikopter Dauphin menjadi bagian dari perjalanan menuju penanganan medis yang lebih memadai.

Di tengah situasi bencana yang masih berlangsung, setiap menit memang bisa berarti.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
korban gempa NTT gempa NTT 2026 evakuasi korban gempa Basarnas evakuasi lansia dampak gempa NTT