Makna Kemerdekaan RI ke-81 Bagi Gen Z: Antara Realita Pendidikan, Pertarungan Algoritma, dan Tantangan Kebebasan Pers

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 09:48 WIB
Kemerdekaan bagi Gen Z bukan cuma soal bebas dari penjajahan. Di era sekarang, kemerdekaan juga berarti punya akses pendidikan yang layak, kesempatan membangun usaha, pekerjaan yang manusiawi, hingga kebebasan menyampaikan pendapat. (foto : Magnific/ freepik.)
Kemerdekaan bagi Gen Z bukan cuma soal bebas dari penjajahan. Di era sekarang, kemerdekaan juga berarti punya akses pendidikan yang layak, kesempatan membangun usaha, pekerjaan yang manusiawi, hingga kebebasan menyampaikan pendapat. (foto : Magnific/ freepik.) 

RADARBONAG.ID — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali melihat makna kemerdekaan dari sudut pandang generasi muda.

Bagi Generasi Z, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan layak, membangun usaha, memperoleh pekerjaan yang manusiawi, serta menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja yang begitu cepat, sejumlah persoalan masih dirasakan langsung oleh anak muda.

Mulai dari kesejahteraan tenaga pendidik, tekanan biaya di platform digital, hingga tantangan kebebasan pers.

Tiga anak muda dengan latar belakang berbeda pun membagikan pandangan mereka mengenai arti kemerdekaan di tengah realitas kehidupan saat ini.

Baca Juga: Arya Saloka Ungkap Sederet Pengalaman Horor dalam Hidupnya, Pernah Melihat Sosok Misterius hingga Belajar Ruqyah

Guru Honorer: Kemerdekaan Belajar Harus Diikuti Kesejahteraan

Ahmad Fahrizal Ramadhan (28), tenaga pendidik honorer di salah satu SD Negeri di Kabupaten Bandung, melihat adanya sisi positif dari penerapan Kurikulum Merdeka.

Menurutnya, guru memiliki ruang lebih luas untuk mengeksplorasi metode pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Namun, kebebasan tersebut belum sepenuhnya ditunjang fasilitas dan kesejahteraan yang memadai.

Salah satu persoalan yang masih dirasakan adalah keterbatasan fasilitas digital, khususnya kualitas jaringan internet di sekolah.

Di sisi lain, beban administrasi juga membuat guru harus menghabiskan banyak waktu di luar jam mengajar.

Kewajiban membuat laporan, menyelesaikan administrasi, hingga mengikuti berbagai proses pengembangan profesi menjadi tantangan tersendiri.

Kondisi tersebut semakin berat bagi tenaga honorer yang memperoleh penghasilan terbatas.

Tidak sedikit guru yang akhirnya harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Guru harus dihargai sesuai dengan beban kerjanya, baik dari segi honor, kesejahteraan, maupun kesehatan mental, agar guru tidak kehilangan semangat sebelum mengajar murid-muridnya," ujar Fahrizal.

UMKM Digital Berhadapan dengan Pertarungan Algoritma

Persoalan berbeda dirasakan Maulana Yusuf (29), pelaku UMKM yang menjual produk sembako melalui platform digital.

Kemudahan berjualan secara daring memang membuka pasar yang jauh lebih luas.

Namun, menurut Maulana, biaya layanan berbagai platform justru menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang kecil.

Potongan dari biaya penanganan, program promosi, hingga subsidi ongkos kirim dapat menggerus margin keuntungan.

Dalam kondisi tertentu, total biaya tersebut bahkan disebut dapat mencapai sekitar 20 persen dari harga jual, sementara keuntungan pedagang rata-rata hanya sekitar 10 persen.

Bagi pelaku usaha kecil, kondisi tersebut membuat persaingan di ruang digital tidak selalu terasa adil.

Maulana berharap pemerintah dapat menghadirkan regulasi yang mampu menciptakan keseimbangan antara kepentingan platform digital dan keberlangsungan UMKM.

"Seharusnya pemerintah terlebih dahulu mengurus persoalan tersebut," tandasnya.

Baginya, kemerdekaan di era digital juga berarti memiliki kesempatan untuk menjalankan usaha secara adil tanpa terbebani biaya yang membuat keuntungan semakin tipis.

Jurnalis: Kebebasan Pers Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Sementara itu, Hasan Sadam (26), jurnalis media massa nasional asal Jakarta, memandang kemerdekaan dari perspektif kebebasan menyampaikan informasi kepada publik.

Menurut Hasan, pers memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi karena berfungsi menyampaikan informasi sekaligus melakukan kontrol sosial terhadap berbagai kebijakan.

Namun, tantangan terhadap kebebasan pers masih muncul, termasuk intimidasi terhadap lembaga media maupun pekerja jurnalistik ketika menyampaikan kritik.

Persoalan kesejahteraan juga menjadi perhatian. Beban kerja dan tanggung jawab seorang jurnalis dinilai belum selalu sebanding dengan pendapatan yang diterima.

"Kalau pers dianggap sebagai pilar demokrasi, seharusnya negara memberikan perlindungan serta penghargaan yang setara dengan pilar-pilar demokrasi lainnya," tegas Hasan.

Kemerdekaan Gen Z Berarti Kesempatan untuk Berkembang

Ketiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa makna kemerdekaan bagi Gen Z semakin luas.

Kemerdekaan bukan hanya tentang sejarah masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana negara memastikan generasi muda memiliki ruang untuk tumbuh dan menentukan masa depannya.

Baca Juga: Forbes NU Kritik Jalan Pintas Kemandirian Ekonomi Lewat Tambang, PBNU Diminta Perkuat Pesantren dan Ekonomi Warga

Guru membutuhkan kesejahteraan agar dapat mendidik generasi berikutnya.

Pelaku UMKM membutuhkan ekosistem digital yang sehat agar mampu berkembang. Sementara jurnalis membutuhkan perlindungan agar dapat menjalankan fungsi pers secara independen.

Pada akhirnya, kemerdekaan bagi generasi muda bukan sekadar slogan setiap 17 Agustus.

Kemerdekaan juga berarti kesempatan untuk belajar, bekerja, berusaha, bersuara, dan hidup secara layak tanpa kehilangan hak-hak dasar sebagai warga negara.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
UMKM digital kemerdekaan RI ke-81 Gen Z Indonesia makna kemerdekaan bagi Gen Z pendidikan indonesia