Bikin Usaha Sejak SMA! Siswa Kelas X Diajak Rancang Bisnis Nyata, Ada Mentoring hingga Peluang Beasiswa Rp50 Juta

Alifah Nurlias Tanti • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:58 WIB
Masih SMA sudah belajar bikin bisnis nyata, bahkan ada peluang beasiswa Rp50 juta. Keren, kan? (Ilustrasi)
Masih SMA sudah belajar bikin bisnis nyata, bahkan ada peluang beasiswa Rp50 juta. Keren, kan? (Ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Belajar kewirausahaan di bangku SMA kini tidak harus berhenti pada teori, tugas membuat proposal, atau sekadar presentasi ide bisnis di depan kelas.

Para siswa mulai didorong untuk merasakan langsung bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi usaha yang realistis.

Konsep tersebut diterapkan melalui Youth Founders Program, program inkubasi bisnis hasil kolaborasi PPM School of Management dan Yayasan Tarakanita untuk siswa SMA Tarakanita 2 Jakarta.

Program yang berlangsung mulai Juli 2026 hingga Mei 2027 tersebut secara khusus menyasar siswa Fase E atau kelas X.

Baca Juga: BGN Buka Kanal Aduan Khusus Guru soal MBG, Kini Bisa Sampaikan Keluhan, Kritik hingga Temuan di Sekolah

Mereka tidak hanya mendapatkan materi kewirausahaan, tetapi juga diajak mengembangkan pola pikir seorang entrepreneur melalui pengalaman praktik.

Dari Mencari Masalah hingga Menemukan Peluang Bisnis

Salah satu hal yang menjadi fokus program ini adalah mengajarkan siswa bahwa ide bisnis tidak selalu harus dimulai dari keinginan menjual sesuatu.

Para peserta justru diarahkan untuk melihat berbagai persoalan yang ada di sekitar mereka.

Dari persoalan tersebut, siswa kemudian diminta mencari solusi yang memiliki nilai manfaat dan berpotensi dikembangkan menjadi sebuah model bisnis.

Pendekatan ini membuat proses belajar kewirausahaan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Siswa dapat belajar memahami kebutuhan orang lain, mengidentifikasi peluang, menyusun solusi, kemudian memikirkan bagaimana solusi tersebut bisa diwujudkan secara nyata.

Dengan demikian, mereka tidak sekadar belajar bagaimana mendapatkan keuntungan, tetapi juga memahami bahwa bisnis dapat berawal dari kemampuan melihat masalah dan menciptakan solusi.

Siswa Tidak Dibiarkan Merancang Bisnis Sendirian

Menariknya, peserta Youth Founders Program tidak hanya mengandalkan pembelajaran di dalam kelas.

Mereka juga mendapatkan pendampingan dari coach bisnis profesional yang membantu mengarahkan proses pengembangan ide.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting karena siswa dapat memperoleh perspektif dari praktisi yang memiliki pengalaman di dunia bisnis.

Dengan bimbingan tersebut, ide yang awalnya masih sederhana dapat diuji dan dikembangkan lebih lanjut. Siswa juga belajar mempertanggungjawabkan alasan di balik solusi yang mereka tawarkan.

Academic Venture Manager PPM School of Management, Nina Ivana Satmaka, mengatakan perubahan zaman yang berlangsung cepat membutuhkan kemampuan baru dari generasi muda.

"Melihat kondisi zaman yang berubah begitu cepat, tantangan di masa depan tentu tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan mengandalkan cara-cara lama," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan kewirausahaan sekaligus kemampuan memecahkan masalah.

Entrepreneurial Mindset Mulai Dibentuk Sejak Kelas X

Pemilihan siswa kelas X sebagai peserta juga menarik.

Pada fase tersebut, siswa mulai memiliki ruang lebih besar untuk mengeksplorasi minat dan kemampuan mereka sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Youth Founders Program berupaya memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan entrepreneurial mindset sejak dini.

Siswa didorong agar memiliki rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, keberanian mengambil risiko secara terukur, serta pola pikir inovatif.

Kemampuan seperti itu tidak hanya berguna bagi mereka yang nantinya ingin menjadi pengusaha.

Kemampuan membaca persoalan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dan menciptakan solusi juga dapat menjadi bekal penting ketika siswa melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Selaras dengan Project Based Learning

Bagi SMA Tarakanita 2 Jakarta, program tersebut juga sejalan dengan pendekatan Entrepreneurship Through Projectyang menggunakan konsep Project Based Learning (PjBL).

Melalui pendekatan berbasis proyek, siswa tidak hanya menerima materi lalu mengerjakan soal. Mereka harus terlibat dalam proses dari awal hingga menghasilkan sebuah karya atau solusi.

Dalam konteks kewirausahaan, siswa dapat belajar melalui proses menemukan masalah, merumuskan ide, melakukan pengembangan, hingga mempresentasikan hasilnya.

Model pembelajaran seperti ini membuat siswa memiliki pengalaman menghadapi proses yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ketika sebuah ide ternyata kurang realistis, mereka dapat belajar mengevaluasi dan melakukan perubahan.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membangun mental seorang entrepreneur.

Kesempatan Bertemu Praktisi dan Memperluas Relasi

Program ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan para praktisi bisnis.

Pertemuan dengan pelaku industri dapat membuka wawasan baru mengenai bagaimana dunia bisnis bekerja di luar lingkungan sekolah.

Siswa juga bisa mendapatkan gambaran mengenai tantangan yang mungkin tidak ditemukan dalam buku pelajaran.

Selain menambah wawasan, interaksi tersebut berpotensi memperluas jejaring para peserta sejak mereka masih duduk di bangku SMA.

Pengalaman membangun koneksi sejak dini dapat menjadi modal sosial yang bermanfaat ketika mereka mulai mengembangkan bisnis atau melanjutkan pendidikan di masa depan.

Ada E-Sertifikat hingga Peluang Beasiswa Rp50 Juta

Program ini juga memberikan apresiasi bagi peserta yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.

Setiap peserta yang menyelesaikan program akan memperoleh e-sertifikat sebagai bukti partisipasi mereka dalam program inkubasi bisnis tersebut.

Namun, ada hadiah yang jauh lebih menarik bagi kelompok dengan performa terbaik.

Tiga kelompok terbaik berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk program S1 Manajemen atau Akuntansi dari PPM School of Management dengan nilai hingga Rp50 juta.

Kesempatan tersebut tentu menjadi motivasi tambahan bagi para siswa untuk tidak sekadar mengikuti program, tetapi benar-benar mengembangkan ide bisnis mereka dengan serius.

Belajar Bisnis Sebelum Lulus SMA

Kehadiran program seperti Youth Founders Program menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan mulai bergerak ke arah yang lebih praktis.

Baca Juga: Camping di Gunung atau Camping Ground? Ini Perbedaan yang Wajib Diketahui Pemula Sebelum Bawa Tenda

Siswa tidak hanya diajarkan istilah seperti modal, keuntungan, pemasaran atau model bisnis, tetapi juga diajak memahami bagaimana konsep tersebut digunakan ketika menghadapi persoalan nyata.

Pengalaman tersebut dapat membuat siswa lebih siap menghadapi dunia yang terus berubah.

Bahkan jika pada akhirnya mereka tidak memilih menjadi pengusaha, pengalaman merancang bisnis sejak SMA tetap dapat menjadi bekal untuk membangun pola pikir mandiri, kreatif dan berorientasi pada solusi.

Sebab, menjadi entrepreneur tidak selalu berarti harus langsung memiliki perusahaan.

Terkadang, langkah pertama justru dimulai dari keberanian seorang siswa untuk melihat masalah di sekitarnya dan bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan untuk membuatnya menjadi lebih baik?"

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
Project Based Learning Youth Founders Program kewirausahaan siswa SMA bisnis untuk pelajar entrepreneurship sejak SMA