RADARBONAG.ID — Sikap tenaga kesehatan ketika menghadapi pasien kembali menjadi perbincangan publik.
Perdebatan mengenai pelayanan medis, termasuk ketika ada tenaga kesehatan yang dianggap berbicara dengan nada tinggi atau kasar kepada pasien, turut dibahas dokter sekaligus edukator kesehatan Dr. Gia Pratama.
Pembahasan tersebut muncul dalam podcast yang dipandu Deddy Corbuzier.
Dalam kesempatan itu, Dr. Gia menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan ketika bekerja di tengah tekanan dan beban pelayanan yang tinggi.
Menurut Dr. Gia, rasa lelah dan tekanan pekerjaan memang menjadi bagian dari realitas yang dihadapi tenaga kesehatan.
Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk memperlakukan pasien secara tidak pantas.
Kelelahan Bukan Pembenaran untuk Bersikap Kasar
Dr. Gia menjelaskan bahwa menjadi tenaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menangani penyakit, tetapi juga membutuhkan empati dalam berhadapan dengan pasien.
Baginya, salah satu kebahagiaan terbesar dalam profesi dokter adalah melihat seseorang yang sebelumnya datang dalam kondisi buruk kemudian pulih dan kembali menjalani kehidupan dengan sehat.
Ia menceritakan bagaimana perasaan seorang dokter ketika pasien yang sebelumnya berada dalam kondisi memprihatinkan akhirnya sembuh dan datang untuk mengucapkan terima kasih.
Menurutnya, momen tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar persoalan pekerjaan.
Pandangan tersebut juga mendapat persetujuan dari Deddy Corbuzier.
Deddy mengakui bahwa tenaga kesehatan juga manusia yang bisa mengalami kelelahan, kejenuhan, bahkan berada dalam kondisi emosional.
Namun, menurutnya, terdapat batas yang tetap harus dijaga. Rasa lelah tidak semestinya berubah menjadi tindakan mencaci, merendahkan, atau berkata kasar kepada pasien.
Di Balik Pasien yang Emosional Ada Rasa Takut
Dalam perbincangan tersebut, Dr. Gia juga mencoba melihat persoalan dari sisi pasien.
Ia menilai pasien maupun keluarga pasien yang datang ke fasilitas kesehatan sering kali berada dalam kondisi penuh tekanan.
Nada bicara yang tinggi tidak selalu muncul karena seseorang ingin bersikap tidak sopan.
Bisa jadi, ada rasa takut, cemas, atau panik karena kondisi kesehatan orang yang mereka cintai.
Karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami bahwa menghadapi pasien bukan hanya berhadapan dengan seseorang yang sedang sakit secara fisik, tetapi juga dengan manusia yang mungkin sedang berada dalam tekanan psikologis.
Di sisi lain, Dr. Gia tidak menutup mata terhadap beratnya pekerjaan tenaga kesehatan.
Menurutnya, seorang nakes bisa saja harus menangani banyak pasien dalam waktu berdekatan, memberikan pelayanan dengan ramah, sekaligus menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif.
Beban Administrasi Ikut Menjadi Tantangan
Tekanan pelayanan kesehatan tidak berhenti ketika dokter atau perawat selesai menangani pasien.
Ada berbagai pekerjaan administratif yang juga harus diselesaikan.
Mulai dari memasukkan data, mengatur jadwal, mencatat pelayanan hingga berbagai kebutuhan dokumentasi lainnya.
Kondisi tersebut dapat membuat tenaga kesehatan harus melakukan banyak pekerjaan secara bersamaan.
Namun, di tengah situasi tersebut, komunikasi dengan pasien tetap menjadi bagian penting dari pelayanan.
Dr. Gia menilai tenaga kesehatan perlu menemukan cara agar tekanan pekerjaan tidak kemudian dilampiaskan kepada orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Dorong Dokter Lebih Aktif di Luar Rumah Sakit
Selain membicarakan hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien, Dr. Gia turut menyoroti pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam sistem kesehatan.
Pendekatan promotif berfokus pada upaya meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk menjaga kesehatan.
Sementara itu, tindakan preventif diarahkan untuk mencegah munculnya penyakit atau mengurangi risiko komplikasi.
Dr. Gia mengatakan dirinya kini juga serius menjalankan kegiatan di luar rumah sakit yang berorientasi pada dua pendekatan tersebut.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memahami cara menjaga kesehatan dan mencegah penyakit, semakin kecil pula tekanan yang harus ditanggung fasilitas kesehatan.
Dengan kata lain, persoalan kesehatan seharusnya tidak hanya diselesaikan ketika seseorang sudah jatuh sakit dan membutuhkan perawatan.
Soroti Persoalan Pembiayaan BPJS Kesehatan
Dalam podcast tersebut, pembahasan kemudian melebar pada persoalan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan.
Dr. Gia menyinggung adanya ketimpangan antara penerimaan iuran dan biaya klaim pelayanan kesehatan. Ia menyebut angka kesenjangan tersebut dapat mencapai sekitar Rp2 triliun setiap bulan.
Ia juga menyoroti banyaknya peserta yang status kepesertaannya tidak aktif. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan sistem jaminan kesehatan nasional.
Dr. Gia kemudian menjelaskan bahwa JKN pada dasarnya menggunakan prinsip gotong royong.
Artinya, masyarakat yang sehat dan rutin membayar iuran ikut membantu membiayai peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Karena itu, keberlangsungan sistem tersebut membutuhkan kepatuhan peserta dalam membayar iuran sekaligus pengelolaan yang baik.
Tiga Pilar Kesehatan Harus Saling Mendukung
Menurut Dr. Gia, persoalan kesehatan di Indonesia tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak.
Ia melihat setidaknya terdapat tiga unsur penting yang saling berkaitan, yakni pemerintah sebagai pembuat dan pengelola kebijakan, fasilitas serta tenaga kesehatan sebagai pihak yang memberikan pelayanan, dan masyarakat sebagai pengguna layanan.
Ketiganya harus berjalan beriringan.
Pemerintah perlu memastikan sistem dan kebijakan dapat berjalan dengan baik.
Fasilitas serta tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan profesional dan manusiawi.
Sementara masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan memenuhi kewajibannya sebagai peserta jaminan kesehatan.
Pada akhirnya, persoalan mengenai tenaga kesehatan yang dianggap kasar kepada pasien tidak bisa dilepaskan dari kondisi sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Empati tetap menjadi hal penting dalam pelayanan medis.
Namun, membangun pelayanan kesehatan yang lebih baik juga membutuhkan perbaikan sistem, pengelolaan beban kerja, edukasi masyarakat serta komunikasi yang sehat antara pasien dan tenaga kesehatan.
Pesan yang muncul dari perbincangan Dr. Gia Pratama dan Deddy Corbuzier pun cukup jelas: lelah adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi menjaga sikap kepada pasien tetap menjadi bagian dari profesionalitas seorang tenaga kesehatan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : youtube.com/@corbuzier