Harapan Besar Food Estate di NTT Berubah Jadi Beban, Petani Keluhkan Biaya Produksi hingga Masalah Pengairan

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:31 WIB
Awalnya berharap untung dari food estate, petani NTT kini justru menghadapi biaya produksi tinggi, sulit air, hingga harga panen yang tak pasti. (Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia)
Awalnya berharap untung dari food estate, petani NTT kini justru menghadapi biaya produksi tinggi, sulit air, hingga harga panen yang tak pasti. (Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia)

RADARBONAG.ID — Program food estate di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang semula diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus pendapatan petani justru menghadapi sejumlah persoalan di lapangan.

Di Kabupaten Belu, perubahan sistem pertanian membuat sebagian petani yang sebelumnya menanam beragam komoditas kini lebih banyak diarahkan pada tanaman tertentu, terutama jagung.

Perubahan tersebut memang sempat memberikan harapan. Namun, ketika berbagai bantuan pemerintah mulai berhenti, petani harus menanggung sendiri biaya produksi.

Persoalan lain seperti keterbatasan air, harga komoditas yang tidak stabil, serangan hama, dan produktivitas yang belum mencapai target ikut menambah beban.

Baca Juga: Kisah Horor Silvi Usai Operasi Skoliosis di ICU Rumah Sakit Jakarta, Melihat Sosok Gosong hingga Dengar Rintihan Tengah Malam

Temuan tersebut dilaporkan Mongabay dalam liputannya mengenai kondisi food estate di Kabupaten Belu, NTT.

Dari Tanam Beragam Beralih ke Jagung

Salah satu kisah datang dari Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak.

Sejak kawasan tersebut masuk dalam pengembangan food estate pada 2022, pola tanam sebagian petani berubah.

Sose Soares, salah seorang petani, mengatakan bahwa sebelumnya masyarakat dapat menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan. Jagung, kacang hijau, labu, ubi, hingga tanaman pakan ternak menjadi bagian dari sistem pertanian mereka.

Kini, lahan lebih banyak diarahkan untuk menanam jagung.

Perubahan ini membuat sumber pangan keluarga menjadi lebih terbatas. Ketika hasil jagung terganggu, petani tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga harus membeli bahan pangan yang sebelumnya dapat mereka ambil dari kebun sendiri.

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan penting ketika sistem pertanian beralih dari tanaman beragam menuju komoditas yang lebih seragam.

Awalnya Bantuan Pemerintah Masih Menopang

Pada awal pelaksanaan food estate, petani masih mendapatkan sejumlah dukungan.

Benih, pupuk, pestisida, hingga alat pertanian disediakan untuk membantu proses produksi.

Kondisi tersebut membuat program terlihat menjanjikan bagi petani.

Namun, situasinya berubah setelah memasuki 2024.

Bantuan tersebut disebut mulai berhenti sehingga biaya produksi harus ditanggung secara mandiri oleh para petani.

Untuk sekali masa tanam, biaya yang diperlukan bahkan disebut bisa mencapai sekitar Rp7 juta.

Beban tersebut menjadi semakin berat karena kegiatan pertanian di kawasan tersebut juga membutuhkan pasokan air secara rutin.

Dengan demikian, keuntungan dari hasil panen tidak bisa lagi dihitung hanya berdasarkan harga jual komoditas. Petani juga harus memperhitungkan biaya benih, pupuk, pestisida, air, bahan bakar, serta kebutuhan operasional lainnya.

Persoalan Air Jadi Tantangan Besar

Ketersediaan air menjadi salah satu masalah utama food estate di Belu.

Meskipun terdapat sumber air dan bendungan di sekitar kawasan pertanian, jaringan irigasi belum menjangkau seluruh lahan secara optimal.

Akibatnya, sejumlah petani masih mengandalkan pompa, sprinkler, dan bahan bakar untuk mengairi tanaman.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin tinggi.

Di Desa Umaklaran, misalnya, petani harus membeli bahan bakar untuk mengoperasikan pompa air dari Bendungan Haliwen.

Sebagian petani bahkan mengurangi penggunaan sprinkler untuk menekan biaya dan memilih patungan membeli pompa celup.

Sementara di Fatuketi, persoalan serupa terjadi karena lahan belum sepenuhnya mendapatkan akses jaringan irigasi meskipun lokasinya relatif dekat dengan bendungan.

Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa distribusi air dan kondisi produksi masih menjadi tantangan yang harus dibenahi.

Pernah Merasakan Untung Besar

Persoalan food estate di NTT bukan berarti seluruh pengalaman petani sejak awal berjalan buruk.

Di Desa Umaklaran, seorang petani bernama Ulrikus Siku menceritakan bahwa dirinya sempat mendapatkan keuntungan besar dari program tersebut.

Pada awal 2023, harga sejumlah komoditas seperti tomat dan cabai berada pada level tinggi.

Sekali panen, petani disebut bisa mendapatkan uang hingga belasan juta rupiah.

Bahkan, satu kali masa tanam sebelumnya dapat menghasilkan beberapa kali panen.

Namun, keuntungan tersebut tidak berlangsung lama.

Ketika harga komoditas turun, petani harus menghadapi kondisi yang sangat berbeda.

Harga satu keranjang hasil panen yang sebelumnya dapat mencapai ratusan ribu rupiah bisa merosot drastis ketika produksi melimpah secara bersamaan.

Akibatnya, sebagian hasil pertanian bahkan tidak terserap pasar dan akhirnya membusuk di kebun.

Produktivitas Belum Sesuai Target

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu mengakui bahwa produktivitas food estate masih menghadapi sejumlah kendala.

Faktor iklim, serangan hama, distribusi air, dan pemanfaatan infrastruktur yang belum maksimal menjadi beberapa penyebab produktivitas belum mencapai target.

Data pemerintah daerah yang dikutip Mongabay mencatat kawasan food estate di Kabupaten Belu mencapai 559 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 148 hektare digunakan untuk komoditas jagung yang tersebar di Fatuketi, Leosama, dan Umaklaran. Sementara sekitar 411 hektare merupakan lahan padi.

Pemerintah menyatakan perbaikan sistem pengairan terus dikoordinasikan dengan pihak terkait.

Keberhasilan food estate, menurut pemerintah daerah, tidak semestinya hanya dilihat dari luas lahan atau jumlah produksi, tetapi juga dari kemampuan program memberikan dampak positif secara berkelanjutan kepada petani.

Akademisi Soroti Sistem Monokultur

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Damianus Adar, menilai persoalan food estate di Belu tidak hanya berkaitan dengan perubahan iklim.

Menurutnya, pengelolaan air, pendampingan petani, dan penerapan teknologi budidaya juga menjadi faktor yang memengaruhi produktivitas.

Ia menyebut produksi jagung rata-rata masih sekitar tiga ton per hektare, meskipun potensinya bisa lebih tinggi jika dikelola dengan baik.

Damianus juga menyoroti risiko sistem monokultur atau penanaman satu jenis tanaman secara dominan.

Sistem tersebut dapat membuat lahan lebih rentan terhadap kekeringan dan serangan hama. Dalam jangka panjang, tanpa rotasi tanaman yang tepat, kesuburan tanah juga berpotensi menurun.

Karena itu, ia mendorong diversifikasi tanaman melalui rotasi jagung dengan kacang-kacangan, ubi, atau labu, serta integrasi dengan peternakan.

Petani Perlu Punya Kendali atas Lahan

Persoalan lain yang disoroti adalah ketergantungan terhadap bantuan dan input dari luar.

Peneliti FIAN Indonesia, Mufida Kusumaningtyas, menilai persoalan food estate tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi.

Menurutnya, program pertanian juga perlu memastikan petani tetap memiliki kendali terhadap lahan dan dapat menentukan sendiri komoditas yang paling sesuai dengan kondisi wilayah mereka.

Ketika benih, pupuk, pestisida, hingga teknologi produksi sangat bergantung pada bantuan eksternal, penghentian bantuan dapat langsung meningkatkan beban petani.

Hal itulah yang mulai dirasakan sebagian petani di Belu.

Food Estate NTT Masih Punya Pekerjaan Rumah

Kisah food estate di Kabupaten Belu menunjukkan bahwa meningkatkan produksi pangan tidak cukup hanya dengan memperluas lahan dan menentukan komoditas yang akan ditanam.

Ketersediaan air, harga pasar, biaya produksi, teknologi pertanian, pendampingan, hingga kemampuan petani mempertahankan keragaman pangan juga menjadi faktor penting.

Program tersebut memang sempat memberikan keuntungan bagi sebagian petani ketika harga komoditas tinggi dan dukungan pemerintah masih tersedia.

Namun, ketika bantuan berkurang dan biaya produksi beralih ke petani, tantangan menjadi jauh lebih terasa.

Karena itu, keberhasilan food estate tidak hanya seharusnya diukur dari berapa hektare lahan yang dibuka atau berapa ton hasil panen yang diperoleh.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah petani benar-benar mendapatkan kehidupan yang lebih sejahtera, memiliki kendali atas lahannya, serta mampu bertahan ketika bantuan pemerintah dan harga komoditas berubah.

Jika persoalan air, biaya produksi, diversifikasi tanaman, dan akses pasar dapat dibenahi, food estate masih memiliki peluang memberikan manfaat.

Namun tanpa perbaikan tersebut, program yang awalnya diharapkan menjadi jalan menuju ketahanan pangan justru berisiko menambah beban petani.

SEO Keyword: food estate NTT, food estate Belu, petani Nusa Tenggara Timur, masalah food estate, pertanian NTT

Meta Description: Food estate NTT awalnya menjanjikan keuntungan, tetapi petani kini menghadapi biaya produksi tinggi, sulit air, dan harga komoditas tak stabil.

Caption: Awalnya berharap untung dari food estate, petani NTT kini justru menghadapi biaya produksi tinggi, sulit air, hingga harga panen yang tak pasti.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : mongabay.co.id
food estate NTT food estate Belu petani Nusa Tenggara Timur masalah food estate pertanian NTT