Sering Ngorok Jangan Dianggap Sepele, Pakar Tidur Ungkap Bisa Jadi Tanda Sleep Apnea yang Memicu Penyakit Mematikan

Ika Nur Jannah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 11:33 WIB
Masih menganggap ngorok saat tidur sebagai hal biasa? Pakar kesehatan tidur dr. Andreas Prasadja mengungkap kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda sleep apnea yang berisiko memicu penyakit jantung, stroke, hingga kematian jika tidak ditangani. (Sumber Foto: Tangkapan layar YouTube @radityadika)
Masih menganggap ngorok saat tidur sebagai hal biasa? Pakar kesehatan tidur dr. Andreas Prasadja mengungkap kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda sleep apnea yang berisiko memicu penyakit jantung, stroke, hingga kematian jika tidak ditangani. (Sumber Foto: Tangkapan layar YouTube @radityadika) 

RADARBONAG.ID – Banyak orang berlomba menerapkan pola makan sehat dan rutin berolahraga demi menjaga kebugaran tubuh.

Namun, ada satu aspek penting yang sering kali terlupakan, yakni kualitas tidur.

Padahal, tidur yang cukup dan berkualitas merupakan fondasi utama untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Hal tersebut disampaikan oleh pakar kesehatan tidur, dr. Andreas Prasadja, dalam perbincangannya bersama Raditya Dika melalui sebuah podcast.

Menurutnya, pola hidup sehat tidak akan memberikan hasil maksimal apabila seseorang masih mengabaikan kualitas tidurnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa beberapa kebiasaan yang dianggap biasa saat tidur, seperti mendengkur atau mengorok, justru dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang serius.

Baca Juga: Kisah Horor Desa Way Bluru Viral, Berawal dari Kematian Bayu hingga Warga Ramai-Ramai Tinggalkan Kampung

Ngorok Bisa Menjadi Gejala Sleep Apnea

Dalam podcast tersebut, dr. Andreas menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap mendengkur sebagai kondisi normal, terutama pada orang dengan berat badan berlebih atau obesitas.

Padahal, menurutnya, semua jenis ngorok tetap perlu mendapat perhatian karena berpotensi menjadi gejala sleep apnea, yaitu gangguan tidur yang menyebabkan napas berhenti berulang kali saat seseorang sedang terlelap.

Gangguan ini membuat tubuh kekurangan oksigen selama tidur sehingga kualitas istirahat menjadi sangat buruk meskipun durasi tidurnya cukup.

"Jika didiamkan, sleep apnea dapat memicu berbagai penyakit kronis, mulai dari hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, hingga impotensi dan depresi. Bahkan dalam kasus tertentu, ini bisa berakibat fatal hingga kematian," jelas dr. Andreas.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh kebiasaan mendengkur yang terjadi secara rutin, terlebih jika disertai rasa lelah berlebihan setelah bangun tidur.

Durasi Tidur Bukan Satu-satunya Penentu

Selain membahas sleep apnea, dr. Andreas juga menyoroti kebiasaan sebagian orang yang terlalu fokus mengejar durasi tidur ideal tanpa memperhatikan kualitas istirahat itu sendiri.

Menurutnya, tubuh membutuhkan proses transisi sebelum benar-benar tertidur. Proses tersebut dikenal sebagai winding down, yaitu fase ketika tubuh dan pikiran mulai rileks sebelum memasuki tidur.

Memaksa diri untuk segera terlelap justru dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang semakin sulit tidur.

"Semakin dipaksa tidur, justru tubuh menjadi lebih tegang sehingga kualitas tidurnya menurun," ungkapnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat memberikan waktu beberapa menit untuk relaksasi sebelum tidur agar tubuh lebih siap memasuki fase istirahat.

Lakukan Aktivitas Santai Sebelum Tidur

Sebagai bagian dari proses relaksasi, dr. Andreas menyarankan melakukan aktivitas ringan yang dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang.

Beberapa kegiatan sederhana yang dapat dilakukan antara lain mendengarkan musik dengan tempo pelan, menikmati podcast, membaca buku ringan, atau melakukan teknik pernapasan santai.

Aktivitas tersebut dinilai mampu membantu otak beralih dari kondisi aktif menuju fase istirahat sehingga tidur menjadi lebih nyenyak.

Sebaliknya, penggunaan gawai secara berlebihan atau mengonsumsi informasi yang memicu stres menjelang tidur sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu proses tersebut.

Kualitas Tidur Anak Tak Boleh Diabaikan

Dalam kesempatan yang sama, dr. Andreas juga memberikan perhatian khusus terhadap pola tidur anak-anak.

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak membiasakan anak tidur terlalu larut malam hanya karena mengikuti aktivitas orang dewasa atau bermain gawai.

Menurutnya, fase tidur dalam memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi otak anak.

Pada fase inilah hormon pertumbuhan diproduksi secara optimal sehingga berpengaruh terhadap perkembangan tubuh dan kemampuan belajar anak.

Karena itu, menjaga jadwal tidur yang teratur sejak dini menjadi investasi penting bagi kesehatan anak di masa depan.

Kenali Tanda Gangguan Tidur Sejak Dini

Dr. Andreas menegaskan bahwa masyarakat perlu lebih peka terhadap berbagai tanda gangguan tidur yang sering kali diabaikan.

Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain sering mengantuk pada siang hari meskipun merasa sudah tidur cukup, bangun tidur dalam kondisi tidak segar, sulit berkonsentrasi, serta mendengkur dengan suara keras hampir setiap malam.

Baca Juga: Bertemu 150 Periset Unggulan, Prabowo Paparkan Arah Riset Nasional hingga Borong Sepatu Hasil Inovasi BRIN

Apabila gejala-gejala tersebut muncul secara terus-menerus, ia menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis dan menjalani pemeriksaan di laboratorium tidur guna mengetahui penyebabnya secara pasti.

Menurutnya, deteksi dini sangat penting agar gangguan tidur dapat ditangani sebelum berkembang menjadi penyakit kronis yang lebih serius.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan berolahraga dan mengatur pola makan.

Tidur yang berkualitas juga merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat yang tidak boleh diabaikan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@radityadika
bahaya ngorok saat tidur dr Andreas Prasadja kesehatan tidur sleep apnea gangguan tidur