20 Tahun Hidup Berdampingan dengan Tambang, Warga Rantau Bakula Mengaku Kehilangan Air Bersih hingga Lahan Pertanian Rusak

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:08 WIB
Hampir 20 tahun hidup berdampingan dengan aktivitas tambang, warga Desa Rantau Bakula mengaku menghadapi berbagai persoalan, mulai dari air bersih yang semakin sulit, jalan rusak, hingga kekhawatiran terhadap kesehatan. (Ilustrasi)
Hampir 20 tahun hidup berdampingan dengan aktivitas tambang, warga Desa Rantau Bakula mengaku menghadapi berbagai persoalan, mulai dari air bersih yang semakin sulit, jalan rusak, hingga kekhawatiran terhadap kesehatan. (Ilustrasi) 

RADARBONAG.ID – Di balik aktivitas pertambangan yang terus berjalan, tersimpan cerita panjang dari warga Desa Rantau Bakula, Provinsi Kalimantan Selatan.

Selama hampir 20 tahun, masyarakat di desa tersebut mengaku harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang mereka nilai semakin membebani kehidupan sehari-hari.

Wilayah yang dahulu dikenal sebagai kawasan yang tenang dengan sumber air melimpah dan lahan pertanian produktif, perlahan berubah sejak aktivitas pertambangan mulai beroperasi.

Bagi sebagian warga, perubahan itu bukan hanya mengubah bentang alam, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, kesehatan, hingga mata pencaharian mereka.

Baca Juga: Mengapa Boomers dan Gen Z Punya Pandangan Berbeda tentang Childfree? Ternyata Dipengaruhi Ekonomi, Mental, dan Perubahan Zaman

Kekecewaan masyarakat kembali mencuat setelah kisah mereka diangkat dalam tayangan kanal YouTube MalakaProject.id, yang menampilkan berbagai kesaksian warga mengenai dampak aktivitas pertambangan di desa tersebut.

Berawal dari Pembangunan Mess, Berujung Aktivitas Pertambangan

Berdasarkan penuturan warga yang disampaikan dalam tayangan tersebut, aktivitas perusahaan mulai masuk ke Desa Rantau Bakula sekitar tahun 2007.

Pada awal kedatangannya, perusahaan disebut menyampaikan rencana pembangunan fasilitas penunjang berupa perkantoran atau mess.

Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas yang berkembang di kawasan itu justru mengarah pada pembangunan terowongan dan eksploitasi batu bara.

Sejak saat itu, kehidupan masyarakat disebut berubah secara drastis.

Deru alat berat, lalu lalang kendaraan operasional, hingga aktivitas industri menjadi bagian dari keseharian warga yang sebelumnya hidup di lingkungan pedesaan yang relatif tenang.

Air Bersih dan Lahan Pertanian Disebut Ikut Terdampak

Selain perubahan suasana desa, warga juga mengaku mulai merasakan dampak terhadap lingkungan.

Salah satu persoalan yang paling sering disampaikan adalah semakin sulitnya memperoleh sumber air bersih.

Padahal sebelumnya, kebutuhan air masyarakat dinilai relatif mudah dipenuhi dari sumber-sumber alami yang ada di sekitar desa.

Di sisi lain, warga juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghasilan utama sebagian besar masyarakat.

Menurut mereka, pembangunan tanggul limbah di dekat kawasan permukiman dan area pertanian menyebabkan air mudah menggenang ketika hujan turun.

Genangan tersebut disebut berdampak terhadap produktivitas lahan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil kebun dan sawah, kondisi tersebut dinilai semakin memperberat beban ekonomi.

Jalan Rusak dan Debu Jadi Keluhan Sehari-hari

Keluhan lain yang terus disampaikan warga berkaitan dengan kondisi infrastruktur desa.

Lalu lintas kendaraan bertonase besar yang melintasi jalan desa setiap hari disebut menyebabkan banyak ruas jalan mengalami kerusakan.

Lubang-lubang besar muncul di sejumlah titik sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.

Ketika musim kemarau tiba, kendaraan yang melintas memunculkan debu pekat yang beterbangan hingga ke rumah-rumah warga.

Sementara saat musim hujan datang, jalan berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat yang setiap hari menggunakan akses jalan tersebut.

Warga Khawatir Dampak Terhadap Kesehatan

Tidak hanya lingkungan dan infrastruktur, warga juga mulai mengkhawatirkan dampak terhadap kesehatan keluarga mereka.

Menurut pengakuan masyarakat, gangguan saluran pernapasan menjadi salah satu keluhan yang cukup sering dialami, terutama oleh anak-anak dan kelompok lanjut usia.

Selain itu, rusaknya ekosistem di sekitar desa juga dikhawatirkan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap keberlangsungan sektor pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat.

Berbagai persoalan tersebut membuat sebagian warga merasa kehidupan mereka semakin jauh dari kondisi yang dijanjikan ketika aktivitas perusahaan pertama kali hadir.

Warga Meminta Pemerintah Melakukan Audit Perizinan

Dalam tayangan YouTube MalakaProject.id, tokoh masyarakat Rantau Bakula, Mariadi, menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang dialami warga.

Ia meminta pemerintah melakukan audit terhadap proses perizinan perusahaan serta mengambil langkah tegas apabila ditemukan adanya pelanggaran.

"Harapan kami pemerintah segera mengaudensi perizinannya dan bertanggung jawab atas segala kerusakan dan kerugian yang kami alami dan mencabut izin usahanya kalau ditemukan terbukti bersalah. Kami sangat berharap kepada pemerintah pusat untuk melakukan itu semua secepatnya supaya penderitaan dan keresahan kami ini tidak berlarut-larut," ujar Mariadi.

Menurutnya, masyarakat hanya menginginkan kepastian hukum, perlindungan terhadap lingkungan, serta penyelesaian atas berbagai persoalan yang mereka rasakan selama bertahun-tahun.

Persoalan yang terjadi di Desa Rantau Bakula tidak hanya dipandang sebagai sengketa mengenai aktivitas pertambangan atau perizinan usaha.

Lebih dari itu, warga menilai isu tersebut berkaitan dengan hak masyarakat untuk memperoleh lingkungan hidup yang sehat, aman, dan layak dihuni.

Baca Juga: Benarkah Pakai Tumbler Bisa Selamatkan Bumi? Ini Fakta tentang Krisis Iklim yang Sering Disalahpahami

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat melakukan pengawasan secara objektif terhadap seluruh aktivitas pertambangan yang berlangsung di wilayah mereka.

Di sisi lain, perusahaan juga diharapkan dapat menunjukkan komitmen dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dikeluhkan masyarakat apabila memang ditemukan dampak yang perlu ditangani.

Hingga kini, harapan terbesar warga Rantau Bakula tetap sama, yakni agar suara mereka tidak berhenti sebagai keluhan yang berulang dari tahun ke tahun.

Setelah hampir dua dekade hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan, mereka berharap ada solusi nyata yang mampu menghadirkan kembali rasa aman, lingkungan yang lebih baik, serta kepastian bagi masa depan generasi berikutnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@rory.asyari
Rantau Bakula tambang batu bara PT MMI warga Rantau Bakula dampak tambang