Panas Ekstrem di Afrika Makin Mengkhawatirkan, Kini Unta yang Dijuluki Kapal Gurun Ikut Tumbang Akibat Suhu yang Terus Memecahkan Rekor

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:04 WIB
Bahkan unta yang dikenal sebagai hewan paling tangguh di gurun kini mulai tumbang akibat panas ekstrem. Apa yang sebenarnya terjadi di Afrika, dan mengapa ilmuwan menyebutnya sebagai alarm serius bagi dunia? (ilustrasi unta)
Bahkan unta yang dikenal sebagai hewan paling tangguh di gurun kini mulai tumbang akibat panas ekstrem. Apa yang sebenarnya terjadi di Afrika, dan mengapa ilmuwan menyebutnya sebagai alarm serius bagi dunia? (ilustrasi unta)

RADARBONAG.ID – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Afrika kini menghadirkan fenomena yang mengejutkan.

Hewan yang selama ini dikenal paling tangguh bertahan hidup di gurun, yakni unta, mulai mengalami penderitaan akibat suhu yang semakin tinggi.

Selama berabad-abad unta dijuluki sebagai "kapal gurun" karena kemampuannya bertahan dalam kondisi panas, kekurangan air, dan perjalanan jauh di padang pasir.

Namun, perubahan iklim yang membuat suhu semakin ekstrem ternyata telah melampaui batas kemampuan alami hewan tersebut.

Sejumlah peternak di kawasan Tanduk Afrika melaporkan meningkatnya kasus unta yang mengalami kelelahan akibat panas, luka pada telapak kaki, hingga kematian, terutama pada anak-anak unta.

Baca Juga: Formula Rahasia Xabi Alonso: Skenario Taktis yang Bisa Menyulap Mykhailo Mudryk Menjadi 'Monster' di Chelsea

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa dampak perubahan iklim kini tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa yang selama ini dianggap paling tahan terhadap lingkungan gurun.

Unta Mulai Mengalami Luka Akibat Pasir yang Terlalu Panas

Menurut laporan BBC, suhu permukaan pasir kini dapat menjadi sangat panas sehingga menyebabkan telapak kaki unta melepuh.

Beberapa peternak bahkan mengaku menemukan kulit kaki unta mengelupas akibat terus berjalan di atas pasir yang suhunya jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu.

Tak hanya itu, suhu udara yang ekstrem juga membuat unta mengalami stres panas. Kondisi tersebut menyebabkan hewan kehilangan energi lebih cepat, sulit mencari makan, hingga mengalami dehidrasi meski dikenal mampu bertahan tanpa minum dalam waktu lama.

Seorang peternak mengaku telah kehilangan beberapa anak unta dalam beberapa bulan terakhir karena tidak mampu bertahan menghadapi panas yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Perubahan Iklim Mengubah Kehidupan Masyarakat Penggembala

Di berbagai negara Afrika Timur seperti Kenya, Ethiopia, hingga Somalia, unta merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarakat.

Hewan ini menjadi sumber susu, daging, transportasi, sekaligus penopang ekonomi keluarga.

Ketika populasi unta mulai menurun akibat cuaca ekstrem, masyarakat pun kehilangan salah satu sumber penghidupan utama mereka.

Selain panas yang semakin tinggi, musim kemarau berkepanjangan membuat rumput dan tanaman pakan semakin sulit ditemukan.

Akibatnya, unta harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan makanan, sementara kondisi tubuh mereka sudah melemah akibat suhu yang terus meningkat.

Fenomena tersebut menciptakan lingkaran masalah yang semakin sulit diputus karena perubahan iklim memengaruhi hampir seluruh rantai kehidupan masyarakat penggembala.

Hewan Gurun Ternyata Memiliki Batas Ketahanan

Selama ini banyak orang menganggap unta sebagai hewan yang hampir tidak mungkin kalah oleh cuaca gurun. Faktanya, kemampuan adaptasi tersebut tetap memiliki batas.

Pakar menjelaskan bahwa paparan suhu ekstrem dalam waktu lama dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh unta.

Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit, infeksi, hingga gangguan reproduksi.

Anak unta menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem tubuhnya belum berkembang sempurna sehingga lebih mudah mengalami dehidrasi maupun kelelahan akibat panas.

Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin populasi unta di beberapa wilayah akan mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa dekade mendatang.

Gelombang Panas Terjadi Semakin Sering

Afrika menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini mengalami kombinasi antara kekeringan berkepanjangan, suhu udara yang terus meningkat, serta musim hujan yang tidak menentu.

Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memperoleh air bersih, hasil pertanian menurun, dan ternak menghadapi tekanan lingkungan yang semakin berat.

Ilmuwan menyebut gelombang panas kini terjadi lebih sering dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Selain lebih sering muncul, durasi panas juga semakin panjang dengan suhu yang lebih tinggi.

Akibatnya, berbagai spesies yang selama ini mampu bertahan di lingkungan ekstrem mulai menunjukkan tanda-tanda kesulitan beradaptasi.

Menjadi Alarm bagi Dunia

Kisah unta yang mulai menderita akibat suhu ekstrem dinilai menjadi simbol nyata bahwa perubahan iklim telah memasuki fase yang semakin serius.

Baca Juga: Dulu Takut Kekar Kini Jadi Tren: Mengapa Latihan Strength Training Makin Populer di Kalangan Wanita Kota Besar

Jika hewan yang dikenal paling tahan terhadap panas saja mulai kewalahan menghadapi kondisi cuaca saat ini, maka ancaman terhadap manusia, peternakan, pertanian, dan ekosistem tentu jauh lebih besar.

Para ilmuwan mengingatkan bahwa upaya menekan emisi gas rumah kaca, menjaga ekosistem, dan memperkuat adaptasi terhadap perubahan iklim perlu terus dilakukan agar dampak yang lebih besar dapat dicegah.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan di berbagai belahan dunia.

Kondisi unta di Afrika menjadi salah satu bukti nyata bagaimana pemanasan global kini menyentuh makhluk hidup yang selama ini dianggap paling mampu bertahan menghadapi kerasnya alam.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : detik.com
panas ekstrem Afrika unta Afrika gelombang panas krisis iklim global perubahan iklim