RADARBONAG.ID – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong percepatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pondok pesantren.
Menurutnya, hingga saat ini cakupan program tersebut di pesantren masih sangat terbatas, padahal lembaga pendidikan berbasis keagamaan itu menjadi salah satu pihak yang membutuhkan perhatian lebih.
Nasaruddin mengungkapkan bahwa baru sekitar 1 persen pondok pesantren di Indonesia yang telah tersentuh Program Makan Bergizi Gratis.
Karena itu, ia berharap koordinasi antara Kementerian Agama dan Badan Gizi Nasional (BGN) dapat semakin diperkuat agar penyaluran program berjalan lebih cepat dan merata.
Baru Sebagian Kecil Pesantren yang Menerima Program MBG
Dalam keterangannya, Nasaruddin menyebut pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki jumlah santri sangat besar sehingga memerlukan dukungan pemenuhan gizi secara berkelanjutan.
Namun, berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Agama, jumlah pesantren yang telah memperoleh manfaat Program MBG masih sangat kecil.
"Pondok pesantren ini boleh dikatakan mungkin yang paling memerlukan sentuhan, tetapi ternyata baru satu persen yang bisa tersentuh," ujar Nasaruddin.
Ia menilai kondisi tersebut perlu segera diperbaiki agar santri di berbagai daerah dapat memperoleh manfaat yang sama seperti peserta didik pada sektor pendidikan lainnya.
Menag Minta Percepatan Bersama Badan Gizi Nasional
Untuk memperluas jangkauan program, Kementerian Agama berkomitmen meningkatkan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut Nasaruddin, kerja sama yang lebih intensif diperlukan agar berbagai kendala dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di lingkungan pesantren dapat segera diatasi.
"Insya Allah kami akan lebih proaktif untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga kita nanti, ya BGN. Diharapkan persoalan-persoalan yang dihadapi, terutama di pondok pesantren, bisa segera diselesaikan," katanya.
Ia berharap percepatan tersebut mampu membuat pelaksanaan MBG di pesantren tidak tertinggal dibandingkan target pada sektor pendidikan lainnya.
Apresiasi Penyelarasan Data Penerima Manfaat
Selain mendorong percepatan, Menag juga memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan baru Badan Gizi Nasional.
Ia menilai dalam waktu yang relatif singkat telah terjadi kemajuan dalam proses pencocokan data penerima manfaat antara BGN dan Kementerian Agama.
Menurut Nasaruddin, sinkronisasi data yang lebih akurat menjadi langkah penting untuk memastikan bantuan benar-benar diterima oleh pihak yang berhak.
"Kami merasakan adanya perubahan data yang sangat relevan dengan data yang kami miliki dibandingkan sebelumnya. Saya anggap ini suatu hal yang sangat baik karena dalam waktu yang sangat singkat kita bisa melakukan pencocokan data," ujarnya.
Data Akurat Jadi Kunci Keberhasilan Program
Nasaruddin menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan.
Ia menjelaskan, data yang valid akan mempermudah pemerintah dalam menentukan sasaran penerima manfaat sekaligus menyelesaikan berbagai kendala di lapangan.
Sebaliknya, apabila data yang digunakan tidak akurat, proses penyaluran berpotensi mengalami hambatan dan tidak tepat sasaran.
Karena itu, proses pembaruan dan validasi data akan terus dilakukan agar pelaksanaan Program MBG semakin efektif.
Program MBG Diharapkan Menjangkau Lebih Banyak Santri
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, termasuk peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.
Melalui program ini, pemerintah berharap kebutuhan gizi anak-anak dan santri dapat terpenuhi sehingga mendukung kesehatan, pertumbuhan, dan proses belajar mereka.
Dengan jumlah pondok pesantren yang mencapai puluhan ribu di berbagai daerah, perluasan cakupan Program MBG dinilai menjadi langkah penting agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Kementerian Agama bersama Badan Gizi Nasional pun diharapkan mampu mempercepat implementasi program tersebut melalui penyelarasan data, penguatan koordinasi, serta penyelesaian berbagai kendala teknis di lapangan sehingga semakin banyak pesantren yang memperoleh akses terhadap Program Makan Bergizi Gratis.
Sumber : kompas.com