RADARBONAG.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (27/7/2026).
Mata uang Garuda dibuka melemah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengejutkan pelaku pasar.
Pergerakan rupiah ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter nasional.
Para investor kini menunggu kepastian mengenai sosok yang akan memimpin Bank Indonesia secara definitif setelah Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya.
Rupiah Langsung Tertekan di Awal Perdagangan
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah dibuka di kisaran Rp17.976 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Pelemahan tersebut terjadi tak lama setelah pemerintah mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI.
Meski pelemahannya belum terlalu besar secara persentase, posisi rupiah kembali mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.
Analis menilai sentimen domestik menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah kali ini.
Sebelumnya, rupiah diperkirakan memiliki peluang menguat seiring meredanya ketegangan geopolitik global. Namun, perubahan mendadak di pucuk pimpinan bank sentral mengubah arah sentimen pasar.
Pengunduran Diri Perry Warjiyo Mengejutkan Pasar
Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran dirinya, sementara Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga gubernur definitif ditetapkan. Pemerintah menyebut alasan pengunduran diri tersebut bersifat pribadi.
Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena Perry dikenal sebagai sosok yang telah memimpin Bank Indonesia sejak 2018 dan kembali dipercaya untuk periode kedua pada 2023.
Selama kepemimpinannya, Perry menghadapi berbagai tantangan ekonomi, mulai dari pandemi COVID-19, tekanan inflasi global, hingga gejolak nilai tukar akibat ketidakpastian ekonomi dunia.
Investor Khawatir terhadap Independensi Bank Indonesia
Bukan hanya pergantian figur yang menjadi perhatian pasar, tetapi juga keberlanjutan independensi Bank Indonesia.
Sejumlah ekonom menilai sosok Perry Warjiyo selama ini dianggap mampu menjaga kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas rupiah, serta menentukan arah suku bunga acuan.
Karena itu, kabar pengunduran dirinya memunculkan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter ke depan dapat berubah, tergantung siapa yang akan dipilih sebagai gubernur baru.
Pelaku pasar kini menunggu keputusan pemerintah mengenai calon pengganti yang dinilai mampu mempertahankan kepercayaan investor terhadap Bank Indonesia.
IHSG Ikut Tertekan
Tak hanya nilai tukar rupiah, pasar saham Indonesia juga langsung merespons kabar tersebut.
Pada awal perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka di zona merah sebelum bergerak lebih stabil.
Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang memilih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kepemimpinan BI dan arah kebijakan ekonomi nasional.
Meskipun demikian, sebagian analis menilai kondisi pasar masih berpotensi pulih apabila pemerintah segera memberikan kepastian mengenai proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia.
Bank Indonesia Pastikan Stabilitas Tetap Terjaga
Menanggapi situasi tersebut, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa seluruh tugas dan fungsi Bank Indonesia tetap berjalan normal.
Bank Indonesia akan terus menjalankan mandatnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sesuai praktik terbaik yang selama ini diterapkan.
Pernyataan tersebut diharapkan mampu memberikan ketenangan kepada pelaku pasar di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Pasar Menunggu Keputusan Pemerintah
Dalam beberapa hari ke depan, perhatian investor diperkirakan akan tertuju pada langkah pemerintah dalam menentukan Gubernur Bank Indonesia yang baru.
Selain itu, pasar juga akan mencermati berbagai agenda ekonomi global, termasuk rilis data ekonomi Amerika Serikat dan kebijakan bank sentral utama dunia yang dapat memengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selama belum ada kepastian mengenai kepemimpinan baru di BI, volatilitas rupiah dan pasar keuangan domestik diperkirakan masih akan cukup tinggi.
Namun, banyak pihak berharap proses transisi berjalan lancar sehingga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : kompas.com