RADARBONAG.ID – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) disebut memiliki peran strategis dalam melindungi kesehatan anak Indonesia sekaligus menjadi fondasi penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Melalui program ini, jutaan anak mendapatkan akses pelayanan kesehatan mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan sesuai kebutuhan medis.
BPJS Kesehatan mencatat sepanjang tahun 2025 dana sebesar Rp25,32 triliun telah disalurkan untuk menjamin pelayanan kesehatan bagi anak usia 0 hingga 17 tahun.
Angka tersebut menunjukkan besarnya komitmen negara dalam memastikan setiap anak memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa terbebani biaya pengobatan.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih! Ini 8 Cara Membuat Nama Brand yang Mudah Diingat agar Bisnis Lebih Cepat Dikenal
Hingga pertengahan 2026, cakupan kepesertaan JKN untuk kelompok usia tersebut juga terus meningkat. Tercatat lebih dari 71 juta anak telah terdaftar sebagai peserta JKN di seluruh Indonesia.
JKN Berikan Akses Layanan Kesehatan dari Puskesmas hingga Rumah Sakit
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menjelaskan bahwa program JKN memberikan akses pelayanan kesehatan secara berjenjang, mulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas, klinik, atau dokter keluarga hingga Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) berupa rumah sakit.
Menurutnya, sistem pelayanan tersebut memastikan anak memperoleh penanganan sesuai indikasi medis sehingga proses pengobatan dapat dilakukan secara tepat dan efektif.
Ia menegaskan bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan sejak dini merupakan salah satu investasi penting dalam membangun generasi yang sehat dan produktif di masa depan.
Pembiayaan Rumah Sakit Masih Mendominasi
Data BPJS Kesehatan menunjukkan sebagian besar pembiayaan pelayanan kesehatan anak masih terserap di rumah sakit.
Sepanjang 2025, pembiayaan layanan di FKRTL mencapai sekitar Rp24,73 triliun, jauh lebih besar dibandingkan pembiayaan di FKTP yang tercatat sekitar Rp588,93 miliar.
Besarnya biaya yang dikeluarkan di rumah sakit menunjukkan masih tingginya jumlah kasus penyakit yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Menurut Rizzky, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa berbagai penyakit infeksi masih menjadi tantangan utama dalam menjaga kesehatan anak-anak di Indonesia.
ISPA dan Influenza Jadi Penyakit yang Paling Banyak Ditangani
Pada layanan kesehatan tingkat pertama, kasus influenza dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyebab kunjungan terbanyak.
Masing-masing penyakit tersebut tercatat mencapai lebih dari 7,38 juta kasus sepanjang periode yang dilaporkan.
Selain itu, sejumlah keluhan kesehatan lain juga mendominasi pelayanan di FKTP, seperti demam, gangguan pertumbuhan gigi, diare, batuk, radang tenggorokan, hingga berbagai masalah pada sistem pencernaan.
Tingginya angka kunjungan tersebut menunjukkan bahwa penyakit-penyakit umum masih menjadi tantangan kesehatan anak yang perlu mendapat perhatian serius dari keluarga maupun pemerintah.
Demam Berdarah hingga Pneumonia Banyak Ditangani di Rumah Sakit
Sementara itu, pada fasilitas kesehatan rujukan atau rumah sakit, sejumlah penyakit yang paling sering ditangani antara lain demam tifoid, gastroenteritis atau diare, demam berdarah dengue (DBD), bronkopneumonia, dispepsia, dan pneumonia.
Kasus-kasus tersebut umumnya memerlukan penanganan medis yang lebih intensif sehingga pasien harus dirawat di rumah sakit.
Hal itu pula yang menyebabkan pembiayaan layanan kesehatan di rumah sakit jauh lebih besar dibandingkan pelayanan kesehatan tingkat pertama.
JKN Dinilai Jadi Modal Penting Menuju Indonesia Emas 2045
Rizzky menegaskan bahwa keberadaan JKN menjadi salah satu pilar penting dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, akses layanan kesehatan yang cepat, mudah, dan berkesinambungan akan membantu memastikan anak-anak tumbuh sehat sehingga mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas pada masa mendatang.
Melalui JKN, setiap anak memiliki kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis tanpa terkendala biaya.
Keberadaan program ini juga memberikan rasa aman bagi orang tua karena dapat mengurangi beban finansial ketika anak membutuhkan perawatan.
Peran Orang Tua Tetap Menjadi Kunci
Meski perlindungan kesehatan melalui JKN telah tersedia, BPJS Kesehatan mengingatkan bahwa upaya pencegahan tetap menjadi langkah yang paling penting.
Rizzky mengajak para orang tua untuk membiasakan anak menjalani pola hidup sehat, menjaga kebersihan, memenuhi kebutuhan gizi, serta memastikan imunisasi dan pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara JKN dengan berbagai program pemerintah lainnya, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), guna memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi secara optimal.
Dengan dukungan layanan kesehatan yang mudah diakses, pola hidup sehat di lingkungan keluarga, serta pemenuhan gizi yang baik, diharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan siap mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : kompas.com