RADARBONANG.ID – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah kondisi Bendung Katulampa di Kota Bogor, yang mencatat penurunan drastis Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Ciliwung hingga mencapai 0 sentimeter.
Penurunan debit air tersebut terjadi setelah kawasan hulu Sungai Ciliwung mengalami minim curah hujan selama beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Bendung Katulampa selama ini berperan penting sebagai salah satu titik pemantauan aliran air menuju wilayah hilir, termasuk Jakarta.
Selain menjadi penanda musim kemarau yang mulai menguat, penyusutan debit air juga memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan air baku, kebutuhan irigasi, hingga kualitas air sungai di wilayah hilir.
Tinggi Muka Air Menyentuh Nol Sentimeter
Musim kemarau yang mulai berlangsung sejak awal Juli menyebabkan pasokan air dari kawasan hulu Sungai Ciliwung terus berkurang.
Akibatnya, Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa mengalami penurunan signifikan hingga mencapai angka nol sentimeter.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aliran air yang masuk ke bendung berada pada level yang sangat rendah.
Di sekitar bendung, bebatuan berukuran besar yang biasanya terendam derasnya aliran sungai kini terlihat jelas di permukaan.
Pemandangan ini menjadi gambaran nyata berkurangnya volume air akibat minimnya hujan di kawasan pegunungan yang menjadi daerah tangkapan air Sungai Ciliwung.
Seluruh Aliran Air Dialihkan untuk Irigasi
Di tengah kondisi debit yang terus menyusut, pengelola Bendung Katulampa mengambil langkah dengan mengalihkan seluruh sisa aliran air menuju saluran irigasi Kali Baru.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan irigasi pertanian di wilayah Bogor tetap terpenuhi serta menjaga ketersediaan air baku bagi masyarakat.
Konsekuensinya, tidak ada lagi limpasan air yang mengalir menuju hilir melalui jalur utama Sungai Ciliwung.
Situasi ini berbeda dengan kondisi saat musim hujan, ketika Bendung Katulampa menjadi salah satu titik penting dalam memantau potensi banjir akibat meningkatnya debit air yang mengalir ke Jakarta.
Kini, pada musim kemarau, bendung justru menghadapi tantangan yang berlawanan, yakni menjaga agar pasokan air tetap tersedia untuk kebutuhan masyarakat.
Jadi Alarm Dini bagi Wilayah Hilir
Turunnya debit air hingga mencapai nol sentimeter menjadi sinyal penting bagi daerah-daerah yang berada di sepanjang aliran Sungai Ciliwung, terutama wilayah hilir seperti Daerah Khusus Jakarta.
Minimnya pasokan air berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih yang bersumber dari sungai.
Selain itu, debit yang rendah juga dapat menyebabkan penurunan kualitas air karena kemampuan sungai untuk mengencerkan limbah menjadi berkurang.
Dalam kondisi seperti ini, pencemaran air berisiko lebih mudah terjadi apabila limbah domestik maupun industri tetap masuk ke badan sungai tanpa pengelolaan yang memadai.
Oleh karena itu, pemantauan kondisi sungai selama musim kemarau menjadi semakin penting untuk mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin muncul.
Kemarau Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Daerah Resapan
Fenomena penyusutan debit air di Bendung Katulampa juga kembali mengingatkan pentingnya menjaga kawasan hulu sebagai daerah resapan air.
Wilayah pegunungan di sekitar Puncak, Bogor, memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan debit Sungai Ciliwung sepanjang tahun.
Alih fungsi lahan, berkurangnya tutupan vegetasi, hingga meningkatnya pembangunan di kawasan hulu dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.
Akibatnya, saat musim hujan risiko banjir meningkat karena limpasan air semakin besar, sedangkan pada musim kemarau cadangan air tanah menjadi lebih cepat berkurang.
Keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pembangunan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Pengelolaan Air Perlu Dilakukan Secara Terpadu
Kondisi Bendung Katulampa menunjukkan bahwa tantangan pengelolaan air tidak hanya berkaitan dengan banjir, tetapi juga kekurangan air saat musim kemarau.
Para ahli menilai pengelolaan daerah aliran sungai harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kawasan hulu hingga hilir.
Upaya tersebut meliputi perlindungan kawasan resapan, pembangunan infrastruktur penyimpanan air, efisiensi penggunaan air di sektor pertanian, hingga peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan air secara bijak.
Dengan pengelolaan yang terintegrasi, dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air dapat diminimalkan.
Perubahan Iklim Memperbesar Tantangan
Perubahan pola cuaca akibat perubahan iklim global juga menjadi salah satu faktor yang semakin memengaruhi siklus hidrologi di berbagai daerah.
Musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang dengan curah hujan yang lebih sedikit, sementara musim hujan berpotensi menghadirkan hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan sumber daya air menjadi semakin kompleks dan membutuhkan kesiapan dari berbagai pihak.
Pemerintah, pengelola sumber daya air, pelaku usaha, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan air di tengah perubahan iklim yang terus berlangsung.
Penyusutan debit air Bendung Katulampa hingga menyentuh angka nol sentimeter menjadi pengingat bahwa air merupakan sumber daya yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Selain mengantisipasi dampak kemarau terhadap kebutuhan masyarakat, kondisi ini juga menegaskan pentingnya menjaga kawasan hulu, memperkuat konservasi lingkungan, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air agar ketersediaannya tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Sumber : instagram.com/infobogor