Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Golkar Ajak Generasi Muda Hidupkan Nilai Pancasila Lewat Media Sosial dan AI, Bukan Sekadar Menghafal Lima Sila

Ika Nur Jannah • Rabu, 15 Juli 2026 | 15:19 WIB
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji (Sumber Foto: Instagram @m.sarmuji)
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji (Sumber Foto: Instagram @m.sarmuji)

RADARBONAG.ID – Partai Golkar mengajak generasi muda Indonesia untuk memaknai Pancasila lebih dalam, bukan hanya sebagai hafalan lima sila, tetapi sebagai pedoman yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut partai berlambang pohon beringin itu, nilai-nilai Pancasila akan tetap relevan jika mampu dihidupkan melalui budaya lokal sekaligus dikemas mengikuti perkembangan teknologi digital.

Ajakan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap bunyi lima sila Pancasila, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar diwujudkan dalam perilaku, pola pikir, dan kehidupan sosial.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi Pancasila di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Baca Juga: Merasa Hidup Tertinggal? Mungkin Kamu Hanya Sedang Berjalan di Jalur yang Berbeda, Bukan Kalah dari Orang Lain

Pancasila Berasal dari Akar Budaya Bangsa

Sarmuji mengingatkan bahwa Pancasila bukanlah ideologi yang diambil dari negara lain.

Sebaliknya, dasar negara Indonesia lahir dari hasil penggalian terhadap nilai-nilai yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Nusantara selama berabad-abad.

Ia mengutip pernyataan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menegaskan bahwa dirinya tidak menciptakan Pancasila, melainkan menggali nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa.

"Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara indah."

Berdasarkan pandangan tersebut, Sarmuji menilai istilah "membumikan kembali Pancasila" kurang tepat.

Baginya, Pancasila sejatinya sudah lahir dari bumi Indonesia sehingga yang perlu dilakukan adalah merawat dan menghidupkan kembali sumber nilai yang melahirkannya.

"Kalau Bung Karno mengatakan demikian, maka merawat Pancasila berarti juga merawat budaya, tradisi, dan nilai-nilai asli yang hidup di berbagai daerah di Indonesia. Jadi bukan hanya menghafalkan lima sila," ujarnya.

Kearifan Lokal Jadi Pondasi Nilai Pancasila

Lebih lanjut, Sarmuji menjelaskan bahwa berbagai daerah di Indonesia memiliki falsafah hidup yang sejalan dengan semangat Pancasila.

Ia mencontohkan ajaran Aja Adigang, Adigung, lan Adiguna dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV yang mengajarkan pentingnya rendah hati dan tidak menyalahgunakan kekuasaan.

Selain itu, terdapat falsafah Siri' na Pacce dari masyarakat Bugis-Makassar yang menanamkan nilai harga diri, solidaritas, dan empati terhadap sesama.

Di Bali, masyarakat mengenal konsep Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Sementara masyarakat Batak memiliki falsafah Dalihan Na Tolu, yang mengajarkan keseimbangan hubungan sosial, penghormatan kepada keluarga, serta pentingnya gotong royong.

Menurut Sarmuji, keberagaman nilai tersebut menunjukkan bahwa Pancasila sesungguhnya tumbuh dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

AI dan Media Sosial Harus Jadi Sarana Menyebarkan Nilai Pancasila

Selain menjaga akar budaya, Sarmuji juga menilai cara menyampaikan nilai-nilai Pancasila perlu mengikuti perkembangan zaman.

Jika dahulu pendidikan karakter dilakukan melalui dongeng, tembang, pertunjukan wayang, maupun cerita rakyat, maka saat ini media penyampaiannya perlu diperluas ke platform digital.

Ia mendorong pemanfaatan media sosial, film, musik, konten digital, hingga teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai media yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

Menurutnya, teknologi bukanlah ancaman bagi Pancasila. Justru teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan dengan pendekatan yang lebih kreatif dan menarik.

"Persoalannya bukan menolak teknologinya, tetapi bagaimana nilai-nilai luhur bangsa dapat dikemas semenarik konten-konten yang selama ini memenuhi ruang digital," kata Sarmuji.

Dengan strategi tersebut, pesan-pesan kebangsaan diharapkan mampu menjangkau anak muda yang sehari-harinya aktif mengakses berbagai platform digital.

BPIP Diminta Menjadi Fasilitator, Bukan Satu-satunya Sumber Narasi

Dalam kesempatan itu, Sarmuji juga mengusulkan perlunya penyusunan strategi kebudayaan baru agar penguatan nilai-nilai Pancasila lebih efektif.

Ia menilai upaya tersebut perlu melibatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama berbagai lembaga negara, akademisi, budayawan, komunitas kreatif, hingga pelaku industri digital.

Namun, menurutnya, lembaga negara tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang memproduksi narasi mengenai Pancasila.

Peran utama mereka adalah sebagai perumus arah kebijakan sekaligus fasilitator agar masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam menyebarkan nilai-nilai tersebut.

Pancasila Harus Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Sarmuji menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menghadirkan Pancasila secara nyata dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Semifinal Piala Dunia 2026 Versi Primbon Jawa, Spanyol dan Argentina Disebut Lebih Diunggulkan Berdasarkan Weton

Nilai-nilai seperti toleransi, gotong royong, keadilan, persatuan, hingga musyawarah perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun media sosial.

Menurutnya, jika generasi muda mampu mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam aktivitas sehari-hari, maka Pancasila tidak hanya menjadi simbol negara, tetapi benar-benar menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.

Karena itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga warisan nilai luhur bangsa dengan pendekatan yang lebih kreatif, inklusif, dan sesuai dengan karakter generasi digital saat ini.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : nasional.kompas.com
Pancasila Sarmuji AI dan Pancasila partai golkar generasi muda