RADARBONAG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian publik seiring memasuki musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Kalimantan.
Kali ini, sorotan datang dari aktivis lingkungan Aurélien Francis Brulé atau yang lebih dikenal sebagai Chanee Kalaweit, yang mengunggah rekaman udara memperlihatkan kepulan asap di kawasan hutan wilayah Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
Video tersebut kemudian beredar luas di media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @folkkalteng, dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.
Dalam rekaman itu terlihat asap putih pekat membumbung dari kawasan hutan yang masih didominasi vegetasi hijau, sehingga menimbulkan dugaan adanya kebakaran hutan maupun aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Meski demikian, hingga kini penyebab pasti munculnya kepulan asap tersebut masih menunggu hasil penyelidikan dari pihak berwenang.
Baca Juga: Galaxy S26 vs iPhone 17 vs Pixel 10, Siapa Raja Kamera Flagship 2026? Ini Perbandingan Lengkapnya
Rekaman Udara Perlihatkan Kepulan Asap di Kawasan Hutan Muara Teweh
Dalam unggahan yang dibagikan Chanee Kalaweit, terlihat beberapa titik mengeluarkan asap dari kawasan hutan yang berada di sekitar Muara Teweh.
Sebagai pendiri organisasi konservasi Yayasan Kalaweit, Chanee memang dikenal rutin melakukan pemantauan kondisi hutan melalui patroli udara menggunakan paramotor maupun pesawat ringan.
Pemantauan tersebut bertujuan mengawasi perubahan tutupan hutan, mendeteksi potensi kebakaran sejak dini, sekaligus mendokumentasikan kondisi habitat satwa liar yang dilindungi.
Dalam penerbangan terbarunya, ia memperlihatkan area yang diduga mengalami kebakaran, dengan sebagian kawasan tampak menghitam sementara titik lainnya masih mengeluarkan asap.
Unggahan tersebut segera menarik perhatian warganet dan para pegiat lingkungan karena musim kemarau dikenal sebagai periode dengan risiko karhutla yang meningkat.
Dugaan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar Kembali Mencuat
Beredarnya video tersebut memunculkan dugaan bahwa kebakaran terjadi akibat praktik pembukaan lahan menggunakan metode tebas-bakar.
Metode ini telah lama menjadi perhatian karena dinilai lebih murah dibandingkan pembukaan lahan secara mekanis.
Namun, praktik tersebut dilarang karena berpotensi memicu kebakaran yang meluas dan sulit dikendalikan.
Pola kemunculan asap pada beberapa titik di dalam kawasan hutan membuat sejumlah pihak menduga adanya aktivitas pembakaran.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum maupun instansi terkait yang memastikan penyebab kebakaran ataupun pihak yang bertanggung jawab.
Karena itu, dugaan tersebut masih memerlukan investigasi lebih lanjut agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Ancaman Serius bagi Ekosistem dan Satwa Liar
Apabila kebakaran benar terjadi di kawasan hutan alam, dampaknya tidak hanya berupa hilangnya vegetasi, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup berbagai satwa liar.
Pulau Kalimantan merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang dilindungi, termasuk orangutan, owa, bekantan, serta berbagai jenis burung dan mamalia lainnya.
Kebakaran hutan dapat menghancurkan sumber makanan, tempat berkembang biak, hingga jalur jelajah satwa sehingga meningkatkan risiko konflik antara manusia dan hewan liar.
Selain itu, proses pemulihan ekosistem hutan yang terbakar membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, tergantung tingkat kerusakan yang terjadi.
Karena itulah, pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menjaga kelestarian hutan tropis Indonesia.
Asap Berpotensi Memengaruhi Kesehatan Masyarakat
Selain kerusakan lingkungan, kebakaran hutan juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat.
Asap hasil pembakaran mengandung partikel halus yang dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Jika kebakaran meluas, kabut asap bahkan dapat menyebar hingga ke wilayah lain sehingga mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, hingga sektor pendidikan.
Pengalaman pada sejumlah kejadian karhutla di masa lalu menunjukkan bahwa kabut asap dapat menjadi persoalan lintas daerah apabila tidak segera ditangani.
Aktivis Lingkungan Mendorong Investigasi dan Pencegahan
Melalui unggahan tersebut, Chanee Kalaweit bersama sejumlah pegiat lingkungan berharap aparat serta pemerintah daerah segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan sumber asap, mengetahui penyebab kebakaran apabila memang terjadi, sekaligus mencegah titik api meluas ke kawasan hutan lainnya.
Selain penegakan hukum terhadap pelaku jika ditemukan unsur pelanggaran, pengawasan wilayah rawan kebakaran selama musim kemarau juga dinilai perlu diperkuat melalui patroli rutin dan sistem deteksi dini.
Keterlibatan masyarakat sekitar hutan juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan karhutla.
Edukasi mengenai bahaya pembakaran lahan serta pelaporan dini apabila menemukan titik api dapat membantu mempercepat penanganan sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar.
Peristiwa yang disoroti melalui rekaman udara Chanee Kalaweit kembali mengingatkan pentingnya menjaga hutan Indonesia dari ancaman kebakaran.
Selain menjadi penyangga kehidupan dan penyerap karbon alami, hutan juga merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, aparat, masyarakat, dan pegiat lingkungan menjadi kunci dalam menjaga kelestarian kawasan hutan, terutama saat musim kemarau tiba.
Editor : Muhammad Azlan Syah