RADARBONANG.ID – Presiden Prabowo Subianto kembali menyoroti pandangannya mengenai kondisi ekonomi nasional yang telah ia tuliskan dalam sebuah buku lebih dari satu dekade lalu.
Dalam pernyataan terbarunya, Prabowo menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada profesor ekonomi yang mampu membantah analisis yang pernah ia sampaikan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan di Madura pada Selasa (23/6), sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden.
Dalam pidatonya, Prabowo mengakui bahwa dirinya bukan seorang ekonom profesional.
Namun ia menilai bahwa analisis yang pernah disusunnya tetap relevan karena didasarkan pada data, angka, dan perhitungan yang menurutnya dapat diuji secara rasional.
"Saya sudah katakan dalam buku saya belasan tahun yang lalu dan belum pernah dibantah sampai hari ini. Belum ada profesor-profesor ekonomi yang bisa bantah saya. Saya bukan ahli ekonomi. Tapi angka adalah angka, matematik adalah matematik," ujar Prabowo.
Tekankan Pentingnya Data dan Perhitungan
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa pembahasan mengenai ekonomi tidak bisa dilepaskan dari fakta-fakta yang dapat diukur.
Menurutnya, meskipun seseorang bukan akademisi atau pakar ekonomi, sebuah argumentasi tetap dapat dipertanggungjawabkan apabila didasarkan pada data dan perhitungan yang jelas.
Karena itu, ia menyebut bahwa pendekatan yang digunakannya selama ini berangkat dari angka-angka yang menurutnya dapat diverifikasi dan dianalisis secara objektif.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Prabowo tetap yakin terhadap berbagai analisis ekonomi yang pernah ia tulis dan sampaikan kepada publik sejak bertahun-tahun lalu.
Soroti Aliran Kekayaan Nasional ke Luar Negeri
Selain menyinggung soal analisis ekonominya, Prabowo juga kembali mengangkat isu yang selama ini sering ia bahas, yakni mengenai aliran kekayaan nasional yang disebut terus mengalir ke luar negeri.
Menurut Prabowo, fenomena tersebut merupakan persoalan yang telah lama menjadi perhatian dirinya dan pernah dijelaskan dalam buku yang ditulisnya belasan tahun silam.
Ia menyebut kondisi tersebut dengan istilah ekonomi internasional "net outflow of national wealth" atau aliran keluar kekayaan nasional.
"Apa yang saya sampaikan belasan tahun yang lalu yang terjadi di Indonesia ini adalah mengalir keluar kekayaan bangsa Indonesia ke luar negeri. Dalam bahasa yang keren, bahasa Inggris, yang terjadi adalah net outflow of national wealth," kata Prabowo.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu terus menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kemampuan negara dalam mengelola sumber daya dan hasil pembangunan untuk kepentingan masyarakat.
Singgung Laporan Internasional
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengaitkan pandangannya dengan sejumlah laporan internasional yang menurutnya menunjukkan besarnya potensi kerugian ekonomi yang dialami negara.
Ia menyebut adanya laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menunjukkan angka kerugian yang sangat besar dalam kurun waktu tertentu.
Prabowo menyampaikan bahwa berdasarkan laporan tersebut, nilai kerugian yang dialami negara disebut mencapai sekitar 908 miliar dolar AS atau setara kurang lebih Rp15.000 triliun selama empat tahun.
Pernyataan tersebut digunakan untuk memperkuat argumentasinya mengenai pentingnya menjaga kekayaan nasional agar tidak terus mengalir ke luar negeri.
Pandangan yang Kerap Disampaikan Sejak Lama
Isu kebocoran kekayaan nasional bukanlah hal baru dalam berbagai pidato maupun tulisan Prabowo.
Selama bertahun-tahun, ia kerap mengangkat tema tersebut dalam berbagai forum, baik ketika masih berada di luar pemerintahan maupun setelah menjabat sebagai kepala negara.
Menurut Prabowo, salah satu tantangan terbesar pembangunan nasional adalah memastikan hasil pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati secara optimal oleh masyarakat Indonesia.
Karena itu, ia berulang kali menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam, investasi, serta kebijakan ekonomi yang mampu memberikan manfaat maksimal bagi kepentingan nasional.
Dorong Diskusi Ekonomi Berbasis Fakta
Pernyataan terbaru Prabowo kembali menunjukkan pandangannya bahwa perdebatan ekonomi seharusnya dibangun di atas data dan fakta yang dapat diuji.
Ia menilai bahwa angka dan matematika memiliki peran penting dalam menjelaskan berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi suatu negara.
Dengan kembali mengangkat analisis yang pernah ditulisnya belasan tahun lalu, Prabowo ingin menegaskan bahwa isu aliran keluar kekayaan nasional masih relevan untuk dibahas dalam konteks pembangunan ekonomi Indonesia saat ini.
Pidato tersebut sekaligus memperlihatkan konsistensi pandangan Prabowo mengenai pentingnya menjaga kekuatan ekonomi nasional melalui pengelolaan sumber daya yang efektif, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat Indonesia.
Editor : Muhammad Azlan Syah