RADARBONANG,ID - Republik Rakyat China kembali mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin global dalam pengembangan teknologi energi terbarukan.
Melalui terobosan terbaru, negara tersebut berhasil mengoperasikan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) termal canggih berbasis cermin atau Concentrated Solar Power(CSP).
Sistem pemanen energi matahari skala raksasa ini diklaim mampu menyuplai pasokan listrik secara konstan dan bebas hambatan bagi sekitar 76.000 rumah tangga sekaligus, memicu decak kagum dunia internasional atas efisiensinya.
Berbeda dengan panel surya fotovoltaik konvensional yang kinerjanya langsung drop saat matahari terbenam atau tertutup awan, teknologi CSP cermin ini bekerja dengan cara merefleksikan dan memusatkan cahaya matahari ke satu titik menara penerima pusat.
Baca Juga: Sejarah PLTA Nglirip Tuban. Kalau Sejarahnya Berhasil Ditelusuri, Bisa Menjadi Identitas Baru
Panas ekstrem yang terkumpul kemudian disimpan dalam media garam cair (molten salt).
Keunggulan utama dari media penyimpanan termal ini adalah kemampuannya menahan panas dalam waktu yang sangat lama, sehingga turbin generator tetap dapat berputar menghasilkan listrik sepanjang malam.
Fleksibilitas operasional yang dimiliki oleh pembangkit listrik tenaga surya termal ini membuatnya dijuluki sebagai salah satu teknologi energi abadi yang minim risiko padam (blackout).
Infrastruktur raksasa tersebut sengaja dibangun di kawasan gurun yang gersang namun kaya akan paparan sinar matahari sepanjang tahun.
Proyek ambisius ini menjadi pilar krusial bagi ambisi China dalam memangkas emisi karbon global secara masif dan mengurangi ketergantungan industri mereka pada bahan bakar fosil atau batu bara.
Melalui keberhasilan proyek ini, raksasa Asia tersebut membuktikan bahwa keterbatasan energi terbarukan di malam hari kini sudah memiliki solusi konkret.
Pemanfaatan garam cair sebagai penyimpan daya termal terbukti menjadi alternatif yang jauh lebih ekonomis dan tahan lama dibandingkan penggunaan baterai lithium skala besar.
Langkah revolusioner ini diharapkan dapat menginspirasi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengoptimalkan potensi energi surya secara maksimal demi masa depan bumi yang lebih hijau. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni