Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Strategi Unik Bertahan Hidup: Demi Menolak Kawin, Capung Betina Aeshna Juncea Nekat Berpura-pura Mati

Amaliya Syafithri • Senin, 1 Juni 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi capung betina pura-pura mati. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi capung betina pura-pura mati. (RADARTUBAN/AI)

RADARBONANG.ID- Dunia serangga menyimpan sejuta keunikan perilaku yang terus digali oleh para peneliti. 

Sebuah studi perilaku hewan menyingkap fakta menakjubkan mengenai cara bertahan hidup capung betina dari spesies Aeshna juncea. 

Berdasarkan hasil observasi mendalam, serangga betina jenis ini diketahui memiliki taktik pertahanan diri yang sangat radikal, yakni sengaja berpura-pura mati (thanatosis) demi menghindari kejaran dan paksaan kawin dari capung jantan.

Riset unik ini pertama kali dipelajari dan didokumentasikan oleh seorang ahli biologi bernama Rassim Khelifa saat melakukan penelitian lapangan di kawasan Pegunungan Alpen, Swiss. 

Baca Juga: Capung Sebagai Bioindikator: Mengapa Serangga Ini Menjadi Penanda Kualitas Lingkungan?

Dalam pengamatannya, ketika seekor capung betina yang sudah bertelur dikejar-kejar oleh capung jantan yang sedang bersemangat mencari pasangan, si betina akan tiba-tiba menjatuhkan dirinya secara sengaja dari udara ke atas tanah atau permukaan daun, lalu berbaring terbalik tanpa bergerak sedikit pun.

Strategi dramatis ini terbukti sangat efektif dalam mengelabui lawan jenisnya. 

Capung jantan yang mengira mangsa kawinnya telah mati akan segera kehilangan minat dan terbang menjauh untuk mencari target lain. 

Begitu kondisi lingkungan dirasa sudah benar-benar aman dari gangguan, capung betina yang tadinya kaku seketika akan "hidup kembali", membalikkan badannya, lalu terbang dengan cepat untuk melanjutkan aktivitasnya mencari makan atau meletakkan sisa telur-telurnya.

Perilaku pura-pura mati ini sejatinya merupakan bentuk adaptasi evolusioner yang krusial bagi kelangsungan hidup sang induk. 

Proses perkawinan berulang yang dipaksakan oleh pejantan berpotensi merusak organ reproduksi betina dan menguras energi mereka secara drastis, bahkan hingga mengancam nyawa. 

Taktik cerdik ini membuktikan bahwa mekanisme proteksi diri di alam liar tidak hanya terbatas pada penyamaran fisik atau racun, melainkan juga lewat tindakan teatrikal yang penuh tipu daya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Serangga #capung betina #aeshna juncea #thanatosis