RADARBONANG.ID - Hubungan historis antara Indonesia dan Singapura ternyata telah terjalin sangat erat jauh sebelum kedua negara modern ini mendeklarasikan kemerdekaannya.
Salah satu bukti otentik dari jalinan kultural tersebut dapat dilihat dari rekam jejak migrasi suku Bawean, sebuah pulau kecil di wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang merantau ke Singapura sejak ratusan tahun lalu.
Komunitas perantau yang dikenal oleh warga lokal Singapura dengan sebutan "Orang Boyan" ini memegang peranan penting dalam sejarah perkembangan awal pelabuhan dan transportasi di Singapura.
Tradisi merantau atau merantau ke seberang merupakan bagian tak terpisahkan dari falsafah hidup pemuda Bawean.
Gelombang migrasi besar-besaran tercatat mulai terjadi pada awal abad ke-19, di mana para pria Bawean memanfaatkan kemahiran navigasi bahari mereka untuk mengarungi Laut Jawa menuju Semenanjung Malaya.
Setibanya di Singapura, modal ketangguhan fisik dan mental serta reputasi mereka sebagai pelaut yang jujur membuat komunitas Bawean banyak dipercaya bekerja di sektor maritim, pengemudi kereta kuda, hingga pengelola sistem transportasi air di pelabuhan utama.
Untuk menjaga rasa kebersamaan dan mempertahankan akar budaya di tanah rantau, komunitas perantau ini mendirikan sistem rumah singgah komunal yang dinamakan Pondok.
Di dalam bangunan Pondok inilah, sesama perantau asal Bawean saling membantu memberikan tempat tinggal sementara bagi pendatang baru, mencarikan lapangan pekerjaan, serta mengumpulkan dana sosial untuk dikirimkan ke kampung halaman.
Pondok juga menjadi pusat pelestarian tradisi, bahasa, dan nilai keagamaan Islam khas Bawean di tengah keberagaman budaya Singapura.
Seiring berjalannya waktu, kontribusi Orang Boyan diakui secara resmi oleh pemerintah Singapura, di mana salah satu kawasan pemukiman historis mereka kini diabadikan menjadi nama jalan, yaitu Kampong Boyan.
Meski kini sebagian besar keturunan suku Bawean telah menjadi warga negara Singapura penuh, warisan nilai kerja keras, ketangguhan bahari, dan ikatan silaturahmi yang mereka bawa dari tanah Nusantara tetap membekas kuat dalam narasi sejarah multikulturalisme di Singapura. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni