RADARBONAG.ID — Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Lebanon pada Selasa, 26 Mei 2026, meskipun kesepakatan gencatan senjata antara militer Israel dan kelompok Hizbullah masih berlaku.
Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 31 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, korban tewas mencakup sedikitnya tiga anak-anak dan tiga perempuan.
Selain korban jiwa, sekitar 40 orang lainnya dilaporkan mengalami luka akibat rentetan serangan yang terjadi di sejumlah wilayah Lebanon Selatan.
Baca Juga: Trump Klaim Perundingan dengan Iran Hampir Rampung, Analis Prediksi Posisi Netanyahu Bisa Melemah
Warga Sipil Jadi Korban Terbesar
Data dari otoritas kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sebagian besar korban berasal dari kalangan sipil.
Serangan udara disebut menghantam beberapa area permukiman sehingga memicu kepanikan warga di wilayah terdampak.
Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran internasional terhadap meningkatnya korban sipil dalam konflik yang terus berlangsung di kawasan perbatasan Israel-Lebanon.
Anak-anak dan perempuan menjadi kelompok paling rentan dalam serangan terbaru tersebut.
Situasi kemanusiaan di wilayah selatan Lebanon juga dilaporkan semakin memburuk akibat intensitas serangan yang terus berulang dalam beberapa bulan terakhir.
Gencatan Senjata Kembali Dilanggar
Serangan terbaru Israel dinilai sebagai pelanggaran baru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah dicapai melalui mediasi Amerika Serikat pada 17 April 2026.
Meski kesepakatan damai masih berlaku secara resmi, serangan militer di kawasan perbatasan tetap terus terjadi.
Israel sebelumnya menegaskan akan terus menargetkan lokasi-lokasi yang dianggap berkaitan dengan Hizbullah di Lebanon Selatan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan disebut telah memerintahkan militer untuk melanjutkan operasi terhadap target-target tertentu meskipun proses gencatan senjata masih berjalan.
Keputusan tersebut memicu kritik dari berbagai pihak karena dinilai memperburuk ketegangan regional.
Ribuan Pelanggaran Gencatan Senjata Tercatat
Konflik antara Israel dan Hizbullah memang belum benar-benar mereda meski upaya diplomatik terus dilakukan.
Sejak November 2024, United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran udara dan darat yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon.
Pelanggaran tersebut meliputi serangan udara, operasi militer lintas batas, hingga aktivitas pengintaian di wilayah yang masuk dalam pengawasan pasukan perdamaian PBB.
Tingginya jumlah pelanggaran memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di kawasan tersebut.
Meski beberapa kali dilakukan mediasi internasional, bentrokan dan serangan militer masih terus terjadi.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas
Serangan terbaru ini kembali memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Dugaan Ledakan Pabrik PT Merak Chemical Indonesia Bikin Warga Cilegon Sesak dan Iritasi Mata
Banyak pihak menilai eskalasi serangan berpotensi memicu respons lebih besar dari Hizbullah maupun kelompok lain yang berafiliasi di kawasan tersebut.
Selain dampak militer, konflik berkepanjangan juga memperburuk kondisi kemanusiaan bagi warga sipil di Lebanon Selatan.
Ribuan warga dilaporkan hidup dalam ketakutan akibat ancaman serangan udara yang terus terjadi sewaktu-waktu.
Sementara itu, komunitas internasional terus mendesak semua pihak agar menahan diri dan kembali menghormati kesepakatan gencatan senjata demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil.
Namun hingga kini, situasi di perbatasan Israel dan Lebanon masih belum menunjukkan tanda-tanda stabil sepenuhnya.
Editor : Muhammad Azlan Syah