RADARBONAG.ID — Fenomena kemunculan pocong yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial kini mulai memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.
Jika sebelumnya sosok pocong lebih identik dengan cerita mistis dan hiburan horor, kini fenomena tersebut dinilai telah bergeser menjadi medium untuk berbagai kepentingan, mulai dari konten viral, prank menakutkan, hingga dugaan tindak kriminal.
Dosen kajian budaya media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, menilai fenomena ini menunjukkan adanya krisis etika dan empati dalam produksi konten di ruang digital.
Menurutnya, penggunaan sosok pocong untuk menciptakan ketakutan kolektif sudah melampaui batas hiburan biasa.
“Kalau motifnya menciptakan ketakutan kolektif, seperti lelucon atau bahkan untuk tindakan tertentu, maka ini adalah cerita yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pembuat konten memiliki krisis etika dan empati, yang tentu saja menjadi masalah sosial yang sangat serius,” ujar Radius.
Pocong Kini Bukan Sekadar Cerita Horor
Belakangan, kemunculan pocong tiruan di sejumlah wilayah di Jawa Timur ramai menghiasi media sosial dan memicu berbagai reaksi publik.
Sebagian video memperlihatkan sosok menyerupai pocong muncul di jalanan pada malam hari, sengaja menakut-nakuti warga atau pengguna jalan demi mendapatkan perhatian dan viralitas.
Namun dalam beberapa kasus, fenomena tersebut juga dikaitkan dengan aksi kriminal seperti percobaan pembegalan hingga modus menakuti korban di tempat sepi.
Perkembangan ini membuat fenomena pocong tidak lagi dipandang sekadar hiburan receh atau konten horor biasa.
Ketakutan publik kini dianggap semakin mudah diproduksi dan diperbesar melalui media sosial.
Konten-konten semacam itu menyebar sangat cepat dan sering kali memancing kepanikan, terutama ketika dibumbui narasi mistis yang sulit diverifikasi.
Media Sosial Dinilai Mempercepat Penyebaran Ketakutan
Radius Setiyawan menilai media sosial memiliki peran besar dalam mempercepat penyebaran rasa takut di masyarakat.
Konten yang memanfaatkan unsur horor cenderung mudah menarik perhatian karena memancing rasa penasaran sekaligus emosi audiens.
Akibatnya, banyak kreator konten berlomba membuat video yang semakin ekstrem demi mendapatkan views dan interaksi tinggi.
Fenomena ini dinilai berbahaya ketika ketakutan mulai dijadikan alat untuk memanipulasi emosi publik.
Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi juga sasaran dari narasi yang sengaja dibangun untuk mengecoh atau menciptakan kepanikan.
Menurut Radius, kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana budaya digital saat ini sering kali lebih mengutamakan sensasi dibanding dampak sosial yang ditimbulkan.
Hiburan yang Berpotensi Membahayakan
Fenomena prank horor sebenarnya bukan hal baru di media sosial. Namun penggunaan simbol budaya seperti pocong dinilai memiliki dampak sosial yang lebih sensitif.
Selain berkaitan dengan kepercayaan dan ketakutan kolektif masyarakat, konten seperti ini juga berpotensi memicu trauma atau membahayakan orang lain secara langsung.
Tidak sedikit warga yang merasa resah akibat kemunculan sosok menyeramkan di jalanan pada malam hari.
Dalam situasi tertentu, prank semacam itu bahkan bisa memicu kepanikan berlebihan hingga menyebabkan kecelakaan atau konflik di lapangan.
Karena itu, Radius menilai fenomena ini tidak bisa lagi dianggap sebagai hiburan biasa.
Ia menyebut kasus tersebut sebagai alarm sosial yang menunjukkan pentingnya kesadaran etika dalam memproduksi dan menyebarkan konten digital.
Publik Diminta Lebih Kritis terhadap Konten Viral
Fenomena pocong viral kini menambah daftar panjang persoalan etika di media sosial.
Budaya viral demi perhatian sering membuat sebagian orang mengabaikan dampak sosial dari konten yang dibuat.
Pakar mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya atau ikut menyebarkan konten yang sengaja dibangun dengan narasi ketakutan dan sensasi.
Publik juga diminta lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar agar tidak terjebak dalam manipulasi emosi yang sengaja diciptakan demi popularitas maupun kepentingan tertentu.
Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin cepat, kesadaran etika dinilai menjadi hal penting agar media sosial tidak berubah menjadi ruang produksi ketakutan massal.
Fenomena pocong yang kini bergeser dari sekadar cerita mistis menjadi alat konten hingga dugaan modus kriminal menunjukkan bahwa batas antara hiburan dan keresahan sosial semakin tipis di era digital saat ini.