Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Rupiah Menguat Setelah Trump Sebut Negosiasi AS dan Iran Berjalan Konstruktif, Harga Minyak Ikut Turun

Siti Rohmah • Senin, 25 Mei 2026 | 16:59 WIB
Rupiah dibuka menguat setelah pasar merespons positif pernyataan Donald Trump soal negosiasi dengan Iran (ilustrasi)
Rupiah dibuka menguat setelah pasar merespons positif pernyataan Donald Trump soal negosiasi dengan Iran (ilustrasi)

RADARBONAG.ID - Nilai tukar rupiah memulai perdagangan awal pekan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sentimen positif dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pergerakan mata uang Garuda pada Senin pagi.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat menguat sebesar 21 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.696 per dolar AS.

Posisi tersebut lebih baik dibanding penutupan sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.717 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi setelah pasar merespons optimisme terkait peluang perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai mulai menunjukkan perkembangan positif.

Baca Juga: Waisak 2026 di Borobudur Diprediksi Meriah, Pengunjung Dibatasi dan Candi Ditutup Setelah Jam 2 Siang

Pernyataan Trump Jadi Perhatian Pasar Global

Sentimen pasar membaik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan secara konstruktif.

Pernyataan tersebut langsung mendapat perhatian pelaku pasar global karena konflik di Timur Tengah selama ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.

Trump mengungkapkan bahwa pembahasan untuk mengakhiri konflik dengan Iran sebagian besar telah dirampungkan dan kini memasuki tahap finalisasi.

Ia juga menyebut komunikasi dengan sejumlah pemimpin kawasan berlangsung cukup baik dalam upaya menyusun rancangan kesepakatan yang diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik di wilayah tersebut.

Harga Minyak Dunia Turut Mengalami Penurunan

Analis mata uang dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah turut dipengaruhi penurunan harga minyak mentah dunia.

Menurutnya, pasar melihat peluang perdamaian di Timur Tengah dapat membantu menurunkan risiko gangguan pasokan energi global, sehingga harga minyak mengalami tekanan turun.

“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS oleh harapan perdamaian di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang turun merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa perundingan dengan Iran berjalan secara konstruktif,” ujar Lukman.

Penurunan harga minyak biasanya memberikan sentimen positif bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia karena dapat membantu mengurangi tekanan terhadap inflasi dan neraca perdagangan.

Negosiasi AS dan Iran Masih Berlangsung

Meski pernyataan Trump memberi optimisme baru, proses negosiasi antara Washington dan Teheran disebut masih terus berlangsung.

Pembahasan dilakukan melalui mediasi Pakistan dan mencakup sejumlah isu penting, mulai dari pembukaan Selat Hormuz hingga penyelesaian program nuklir Iran.

Selain itu, negosiasi juga menyentuh kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Iran yang selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan hubungan kedua negara.

Pasar keuangan global kini terus memantau perkembangan pembicaraan tersebut karena hasil akhirnya dapat memberikan dampak besar terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi internasional.

Sentimen Domestik Dinilai Mulai Membaik

Selain faktor eksternal, kondisi pasar domestik Indonesia juga dinilai mulai menunjukkan perbaikan.

Lukman menyebut pasar saham Indonesia berhasil ditutup di zona hijau pada akhir perdagangan pekan lalu, yang memberikan tambahan sentimen positif terhadap pergerakan rupiah.

Penguatan pasar saham sering kali menjadi indikator meningkatnya minat investor terhadap aset-aset di dalam negeri.

Namun demikian, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih belum sepenuhnya hilang.

Defisit Neraca Transaksi Berjalan Masih Jadi Tekanan

Di tengah sentimen positif global, rupiah masih menghadapi tantangan dari sisi fundamental ekonomi domestik.

Data neraca transaksi berjalan Indonesia tercatat mengalami defisit cukup besar, kondisi yang dinilai masih memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Namun masih ada tekanan pada rupiah setelah data neraca transaksi berjalan yang menunjukkan defisit yang besar,” kata Lukman.

Defisit transaksi berjalan menunjukkan arus keluar devisa yang lebih besar dibanding arus masuk dalam transaksi internasional, sehingga dapat memengaruhi stabilitas mata uang domestik.

Karena itu, meski rupiah berhasil menguat pada awal perdagangan, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi volatilitas yang masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga: Harga Beras di Jepang Melonjak Tajam, Warga Mulai Beralih ke Mi Instan dan Roti untuk Hemat Pengeluaran

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.600-Rp17.750

Berdasarkan perkembangan sentimen global dan domestik saat ini, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, hingga data ekonomi dalam negeri sebagai faktor utama yang memengaruhi arah rupiah.

Penguatan rupiah pada awal pekan ini menunjukkan bahwa sentimen geopolitik global masih memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar keuangan Indonesia, terutama di tengah kondisi ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian.

 
Editor : Muhammad Azlan Syah
#Donald Trump Iran #rupiah menguat #kurs rupiah hari ini #negosiasi AS Iran #dolar as