Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Harga Energi Terancam Melonjak, IEA Peringatkan Permintaan Minyak Global Mulai Melemah Akibat Konflik Timur Tengah

Siti Rohmah • Minggu, 24 Mei 2026 | 08:58 WIB
Peta Selat Hormuz yang diterbitkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Iran, 4 Mei 2026 (Screenshot/X/@IranIntl_En)
Peta Selat Hormuz yang diterbitkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Iran, 4 Mei 2026 (Screenshot/X/@IranIntl_En)

RADARBONAG.ID - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengungkapkan bahwa permintaan minyak global mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan kondisi pasar energi dunia saat ini berada dalam situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Menurutnya, lonjakan harga energi akibat terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia berpotensi menekan konsumsi global dalam beberapa waktu ke depan.

“Kami melihat permintaan minyak global mulai menurun. Jika harga terus melonjak, maka penurunan konsumsi akan semakin nyata,” ujar Birol dalam acara yang digelar oleh Chatham House.

Baca Juga: Kepala BGN Tegaskan Program MBG Tetap Prioritaskan ASI, Susu Formula Hanya untuk Kondisi Tertentu

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar energi global mulai mengalami tekanan serius akibat konflik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Distribusi Energi Dunia

IEA menilai kondisi pasar energi berpotensi memburuk apabila jalur distribusi utama di kawasan Teluk Persia, yakni Selat Hormuz, belum kembali dibuka sepenuhnya.

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair menuju pasar internasional.

Birol menjelaskan akhir Juni hingga awal Juli biasanya menjadi periode peningkatan konsumsi energi global karena memasuki musim liburan di berbagai negara.

Namun di tengah tingginya kebutuhan energi tersebut, distribusi minyak dari Timur Tengah justru mengalami gangguan akibat situasi geopolitik yang memanas.

“Permintaan minyak biasanya meningkat saat musim liburan, sementara pasokan dari Timur Tengah masih terhambat. Situasi ini berpotensi membawa pasar energi memasuki zona krisis,” katanya.

Gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk Persia membuat banyak negara mulai khawatir terhadap lonjakan harga bahan bakar dan terganggunya aktivitas industri.

IEA Sebut Krisis Energi Kali Ini Lebih Besar

Dalam keterangannya, Birol bahkan menyebut krisis energi saat ini memiliki dampak yang lebih besar dibanding gabungan sejumlah krisis energi sebelumnya.

Menurut data IEA, pasar global kini kehilangan sekitar 14 juta barel minyak per hari akibat terganggunya rantai distribusi energi.

Angka tersebut disebut lebih tinggi dibandingkan krisis minyak pada era 1970-an yang kala itu menyebabkan gangguan pasokan sekitar 10 juta barel minyak per hari.

Tidak hanya minyak, pasokan gas dunia juga mengalami tekanan besar. IEA mencatat hilangnya suplai gas global kini telah melampaui 130 miliar meter kubik.

Situasi tersebut membuat banyak negara mulai mengambil langkah darurat untuk menjaga stabilitas energi domestik mereka.

Cadangan Minyak Darurat Mulai Terkuras

Sebelumnya, pasar energi global masih mampu bertahan karena adanya cadangan minyak yang cukup besar serta kondisi surplus pasokan di beberapa negara produsen.

Namun seiring berjalannya waktu, cadangan tersebut mulai mengalami penurunan akibat tingginya kebutuhan pasar.

Negara-negara anggota IEA bahkan telah melepaskan stok minyak darurat untuk membantu menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan energi tetap tersedia.

Selain itu, beberapa negara juga mulai menerapkan kebijakan penghematan energi domestik guna menekan dampak krisis.

Meski demikian, Birol menilai langkah-langkah tersebut belum cukup kuat untuk mengatasi tekanan besar yang saat ini terjadi di pasar energi global.

“Satu-satunya solusi utama adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” tegasnya.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Krisis energi global saat ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Situasi memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut memicu kerusakan infrastruktur dan menimbulkan korban sipil, sehingga memperburuk hubungan antarnegara di kawasan.

Baca Juga: Rahasia UMKM Bertahan dan Untung: Bos Roti Cokro Ungkap Pentingnya Pisahkan Uang Pribadi dan Usaha

Pada 7 April, Amerika Serikat dan Iran sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.

Namun hingga kini, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan final.

Situasi tersebut akhirnya memicu blokade de facto di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.

Akibatnya, banyak negara kini menghadapi lonjakan harga bahan bakar, kenaikan biaya logistik, hingga meningkatnya biaya produksi industri akibat terganggunya rantai pasok energi global.

Kondisi ini membuat dunia internasional terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah karena dampaknya dinilai dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global dalam jangka panjang.

 
Editor : Muhammad Azlan Syah
#krisis Timur Tengah #IEA #permintaan minyak global #harga energi dunia #selat hormuz