Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Raksasa Otomotif Honda Rugi Perdana Sejak 1957, Bisnis EV dan Penjualan China Jadi Biang Kerok

Muhammad Azlan Syah • Sabtu, 16 Mei 2026 | 10:24 WIB
Strategi mobil listrik yang terlalu agresif disebut jadi penyebab utama. Target EV dibatalkan, proyek raksasa dihentikan, dan penjualan di China anjlok tajam. (AI)
Strategi mobil listrik yang terlalu agresif disebut jadi penyebab utama. Target EV dibatalkan, proyek raksasa dihentikan, dan penjualan di China anjlok tajam. (AI)

RADARBONANG.ID - Honda mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham pada 1957 atau hampir 70 tahun lalu.

Pabrikan otomotif asal Jepang tersebut membukukan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar US$2,6 miliar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Sebelumnya, Honda masih mencatat laba hingga 1,2 triliun yen pada periode tahun sebelumnya.

Kerugian besar ini menjadi salah satu pukulan terbesar dalam sejarah perusahaan dan langsung memicu perhatian industri otomotif global.

Baca Juga: Googlebook Resmi Meluncur, Tapi Google Pastikan Chromebook Belum Tamat dan Tetap Dapat Dukungan

Strategi Kendaraan Listrik Jadi Beban Berat

Kerugian Honda disebut dipicu oleh besarnya biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Total beban terkait bisnis EV disebut mencapai lebih dari US$9 miliar.

Permintaan kendaraan listrik global yang tidak sekuat perkiraan membuat strategi agresif Honda di sektor EV justru berubah menjadi tekanan besar bagi perusahaan.

Honda bahkan mengakui total kerugian terkait EV bisa mencapai sekitar 2,5 triliun yen dalam dua tahun terakhir.

Target Ambisius EV Resmi Dibatalkan

Akibat tekanan tersebut, CEO Honda, Toshihiro Mibe, memutuskan membatalkan sejumlah target besar perusahaan di sektor kendaraan listrik.

Honda resmi mencabut target agar EV menyumbang 20 persen penjualan mobil baru pada 2030.

Selain itu, perusahaan juga membatalkan rencana transisi penuh ke kendaraan listrik dan fuel-cell pada 2040.

Keputusan ini menunjukkan bagaimana industri otomotif global mulai lebih realistis terhadap laju pertumbuhan pasar kendaraan listrik.

Proyek EV Rp180 Triliun di Kanada Ditunda

Honda juga menghentikan sementara proyek besar kendaraan listrik di Kanada senilai sekitar US$11 miliar atau setara ratusan triliun rupiah.

Proyek tersebut sebelumnya dirancang menjadi investasi terbesar Honda untuk produksi mobil listrik dan baterai EV di Kanada.

Penundaan proyek ini memperlihatkan perusahaan kini lebih berhati-hati dalam ekspansi bisnis kendaraan listrik.

Penjualan Honda di China Anjlok Tajam

Selain masalah EV, Honda juga menghadapi tekanan besar di pasar China.

Penjualan Honda di China dilaporkan turun hingga 48,3 persen pada April 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Persaingan ketat dari produsen mobil listrik lokal China membuat sejumlah model Honda mengalami penurunan penjualan drastis.

Beberapa dealer bahkan disebut memberikan diskon besar untuk menghabiskan stok kendaraan yang tersisa.

Kebijakan AS Ikut Tekan Bisnis Honda

Perubahan kebijakan di Amerika Serikat juga disebut menjadi faktor tambahan yang memperberat kondisi Honda.

Penghapusan insentif pajak kendaraan listrik di AS serta kebijakan tarif impor membuat pasar EV semakin sulit bagi produsen otomotif Jepang tersebut.

Kondisi geopolitik global dan kenaikan harga bahan baku turut memberikan tekanan terhadap laba perusahaan.

Bisnis Sepeda Motor Jadi Penyelamat

Meski bisnis mobil mengalami tekanan besar, Honda masih ditopang oleh penjualan sepeda motor yang kuat, terutama di India dan Brasil.

Honda bahkan menargetkan penjualan motor mencapai rekor baru sebesar 22,8 juta unit tahun ini.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bermain, Burung Gagak Gunakan Semut untuk Membersihkan Parasit dan Menjaga Kesehatan Tubuh

Divisi roda dua disebut menjadi salah satu faktor penting yang membantu perusahaan bertahan di tengah krisis bisnis EV.

Industri Otomotif Global Mulai Ubah Strategi

Kasus Honda menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik ternyata tidak semulus yang diperkirakan banyak produsen otomotif.

Sejumlah perusahaan kini mulai mengurangi target ambisius EV dan kembali fokus pada kendaraan hybrid sebagai solusi transisi yang lebih realistis.

Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana pasar otomotif global sedang mengalami perubahan besar akibat persaingan teknologi, kebijakan pemerintah, dan perubahan perilaku konsumen.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Honda rugi #bisnis EV Honda #penjualan Honda China #Toshihiro Mibe #mobil listrik honda