RADARBONANG.ID - Pemerintah Indonesia mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi fenomena El Nino 2026 yang diprediksi berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang dibanding biasanya.
Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa seluruh jajaran pemerintah dan pihak terkait diminta tidak lengah terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa meningkat selama periode kemarau.
Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli Antoni dalam Sidang ke-21 Forum Kehutanan Persatuan Bangsa-Bangsa atau UNFF21 yang digelar di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
Dalam forum internasional tersebut, Raja Juli Antoni menekankan bahwa Indonesia saat ini tengah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya potensi kemarau panjang akibat El Nino.
Baca Juga: Facial Express 30 Menit Jadi Gaya Hidup Baru, Solusi Kulit Glowing di Tengah Aktivitas Padat
“Tahun ini kita harus lebih berhati-hati. Dengan potensi kemarau yang lebih panjang akibat El Nino, kita harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar Raja Juli Antoni dalam keterangannya.
Fenomena El Nino sendiri merupakan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi pola cuaca global, termasuk menyebabkan curah hujan menurun di wilayah Indonesia.
El Nino Diprediksi Mulai Terasa pada Juni 2026
Berdasarkan analisis data cuaca yang disampaikan pemerintah, Indonesia diperkirakan akan mengalami fenomena El Nino dengan intensitas rendah hingga moderat mulai Juni 2026.
Meski tidak diprediksi berada pada level ekstrem, dampak El Nino tetap berpotensi memperpanjang musim kemarau di berbagai daerah.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kemarau panjang sering kali meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki area gambut luas.
Selain berdampak pada lingkungan, kemarau panjang juga dapat memengaruhi sektor pertanian, kualitas udara, hingga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Karena itu, pemerintah meminta seluruh pihak untuk meningkatkan pengawasan dan patroli di daerah rawan kebakaran.
“Saya meminta seluruh jajaran dan mitra terkait untuk tidak lengah dan terus meningkatkan patroli serta pemantauan di wilayah-wilayah rawan,” tegas Menteri Kehutanan.
Langkah antisipasi dini dinilai sangat penting agar kebakaran hutan tidak berkembang menjadi bencana besar seperti yang pernah terjadi pada beberapa tahun sebelumnya.
Indonesia Klaim Berhasil Tekan Angka Karhutla Hingga 86 Persen
Dalam kesempatan yang sama, Raja Juli Antoni juga memaparkan capaian Indonesia dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan selama satu dekade terakhir.
Menurutnya, Indonesia berhasil menurunkan luas karhutla hingga 86 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Pencapaian tersebut disebut sebagai hasil dari berbagai upaya penguatan sistem pencegahan kebakaran yang dilakukan pemerintah secara berkelanjutan.
Beberapa langkah yang diterapkan meliputi penguatan sistem peringatan dini, patroli terpadu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan, hingga pendekatan berbasis masyarakat di tingkat lokal.
“Selama satu dekade terakhir, Indonesia telah berhasil mengurangi luas kebakaran hutan dan lahan sebesar 86 persen,” kata Raja Juli Antoni.
Capaian itu juga diklaim terus berlanjut pada periode 2024 hingga 2025, di mana angka kebakaran hutan tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Keberhasilan tersebut dinilai menjadi salah satu bukti komitmen Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global sekaligus menjaga kelestarian ekosistem hutan.
Kolaborasi Jadi Kunci Cegah Kebakaran Hutan
Meski capaian pengendalian karhutla menunjukkan hasil positif, pemerintah menegaskan bahwa ancaman kebakaran hutan tetap harus diwaspadai, terlebih saat memasuki musim kemarau panjang akibat El Nino.
Raja Juli Antoni menilai upaya pencegahan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah pusat semata.
Menurutnya, keberhasilan menekan angka karhutla membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, masyarakat, hingga seluruh pemangku kepentingan terkait.
Baca Juga: Mengenal Buah Dewandaru, Buah Mistis dari Tanah Jawa yang Diyakini Membawa Rezeki dan Ketenteraman
Keterlibatan masyarakat dianggap sangat penting karena mereka menjadi pihak yang paling dekat dengan wilayah rawan kebakaran.
Melalui patroli berbasis komunitas dan peningkatan kesadaran masyarakat, potensi kebakaran dapat dideteksi lebih cepat sebelum meluas.
“Kolaborasi dan kesiapsiagaan adalah kunci. Kita harus memastikan bahwa angka karhutla dapat terus ditekan demi menjaga kelestarian hutan dan memastikan kualitas udara yang sehat bagi masyarakat,” ujar Raja Juli Antoni.
Pemerintah berharap kesiapan sejak dini dapat membantu Indonesia menghadapi ancaman El Nino 2026 tanpa memicu lonjakan kebakaran hutan besar seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
Editor : Muhammad Azlan Syah