RADARBONANG.ID – Aktivis perempuan Kalis Mardiasih mengungkapkan dirinya mengalami tekanan setelah menyampaikan kritik terhadap program makan bergizi gratis (MBG).
Ia menyebut bahwa intimidasi yang diterima tidak hanya terjadi di ruang digital, tetapi juga berdampak hingga ke lingkungan keluarganya.
Kalis menjelaskan bahwa tekanan mulai dirasakan setelah ia mengunggah pandangan terkait dugaan kasus keracunan massal yang dikaitkan dengan program tersebut di sejumlah daerah.
Baca Juga: Fenomena Semua Orang Jadi Penjual di Era Digital: Peluang Besar atau Persaingan yang Makin Ketat?
Serangan Digital hingga Kehidupan Pribadi
Menurut Kalis, setelah menyampaikan kritik melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, ia mulai menerima berbagai respons negatif.
Serangan tersebut datang dari sejumlah akun yang tidak dikenal, yang kemudian berkembang menjadi tekanan yang lebih luas.
Ia menilai fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital masih menjadi tempat yang rentan terhadap serangan terhadap individu yang menyampaikan kritik.
Disampaikan dalam Forum Publik
Pernyataan tersebut disampaikan Kalis dalam sebuah diskusi daring yang digelar oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Senin (4/5).
Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya ruang aman bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan pendapat, terutama terkait isu publik yang menyangkut keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Soroti Dugaan Keracunan dan Minimnya Respons
Kalis mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sejumlah laporan dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program MBG di berbagai daerah.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan respons yang jelas, baik berupa pernyataan resmi maupun langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa.
Namun, hingga saat ini, ia menilai belum terlihat adanya kejelasan mengenai mekanisme evaluasi maupun bentuk pertanggungjawaban atas kasus-kasus tersebut.
Kasus Disebut Terjadi di Sejumlah Daerah
Aktivis yang juga tergabung dalam kelompok masyarakat sipil “Suara Ibu Indonesia” di Yogyakarta ini menyebut bahwa dugaan kasus tidak hanya terjadi di satu wilayah.
Beberapa daerah seperti Blora, Pati, Kudus, Grobogan, hingga Yogyakarta disebut turut melaporkan kejadian serupa.
Bahkan, ia mengaku salah satu anggota keluarganya sempat mengalami gejala yang diduga terkait keracunan dan harus menjalani perawatan medis.
Kritik terhadap Sistem Pengawasan Program
Lebih lanjut, Kalis juga menyoroti aspek desain dan tata kelola program MBG yang dinilai belum memiliki sistem pengawasan yang memadai.
Ia menilai aspek keamanan pangan serta distribusi masih perlu diperkuat.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua terkait keamanan anak-anak saat mengikuti kegiatan sekolah yang melibatkan program tersebut.
Kekhawatiran Orang Tua Meningkat
Seiring munculnya berbagai laporan, kekhawatiran masyarakat pun meningkat.
Orang tua mulai mempertanyakan jaminan keamanan makanan yang diberikan kepada anak-anak mereka.
Hal ini dinilai menjadi perhatian penting, mengingat program MBG bertujuan untuk meningkatkan gizi anak, namun justru dihadapkan pada isu keamanan yang perlu segera ditangani.
Pentingnya Ruang Aman untuk Kritik
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kritik terhadap kebijakan publik merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat.
Oleh karena itu, penting untuk memastikan adanya ruang aman bagi masyarakat dalam menyampaikan pendapat tanpa tekanan.
Di sisi lain, transparansi dan evaluasi program juga menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik serta memastikan tujuan program dapat tercapai secara optimal.