RADARBONANG.ID – Pemerintah Iran resmi menutup seluruh sekolah di berbagai wilayah menyusul dampak perang yang semakin meluas.
Kebijakan ini diambil setelah banyak bangunan pendidikan mengalami kerusakan akibat serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Langkah ini menjadi salah satu keputusan darurat terbesar di sektor pendidikan, mengingat skala kerusakan yang terjadi tidak lagi memungkinkan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara normal.
Ratusan Gedung Sekolah Rusak Parah
Kementerian Pendidikan Iran melaporkan bahwa lebih dari 640 gedung pendidikan di 17 provinsi mengalami kerusakan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 250 sekolah membutuhkan perbaikan total, sementara 15 lainnya harus dibangun ulang dari awal.
Kerusakan ini tidak hanya mengganggu aktivitas pendidikan, tetapi juga menunjukkan dampak besar konflik terhadap infrastruktur sipil yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Pembelajaran Dialihkan ke TV dan Platform Daring
Sebagai solusi darurat, pemerintah mulai mengalihkan proses belajar mengajar ke metode jarak jauh sejak 21 April.
Siswa kini mengikuti pelajaran melalui siaran televisi pemerintah yang dikenal sebagai Iran TV School serta platform daring khusus.
Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi yang belum stabil, meskipun tidak sepenuhnya mampu menggantikan pembelajaran tatap muka.
Situasi Keamanan Masih Tidak Stabil
Kondisi di Iran masih diliputi ketegangan meskipun telah ada gencatan senjata yang bersifat rapuh selama enam minggu terakhir.
Ancaman serangan udara lanjutan membuat pemerintah harus mengambil langkah antisipatif, termasuk menutup sekolah demi keselamatan siswa dan tenaga pengajar.
Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari tersebut dilaporkan menelan korban dari kalangan pelajar dan guru, sekaligus merusak berbagai fasilitas umum.
Krisis Kemanusiaan Ancam Generasi Muda
Pemerintah Iran menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan yang berdampak langsung pada generasi muda.
Terhambatnya akses pendidikan dalam jangka panjang dikhawatirkan akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Selain itu, kondisi psikologis siswa juga menjadi perhatian, mengingat mereka harus belajar dalam situasi penuh tekanan dan ketidakpastian.
Tantangan Internet dan Akses Teknologi
Meski pembelajaran telah dialihkan ke sistem daring, tantangan baru muncul akibat pembatasan akses internet.
Sejak 21 April, pemantauan oleh NetBlocks menunjukkan adanya pemadaman internet nasional di Iran.
Akses ke jaringan global terputus dan digantikan dengan intranet lokal yang memiliki keterbatasan.
Hal ini membuat banyak siswa kesulitan mengikuti pembelajaran, terutama bagi mereka yang tidak memiliki perangkat digital yang memadai.
Upaya Bertahan di Tengah Keterbatasan
Dalam kondisi serba terbatas, pemerintah tetap berupaya memastikan layanan penting tetap berjalan.
Beberapa layanan dasar masih dapat diakses, namun banyak platform digital dan media sosial sebelumnya telah diblokir.
Situasi ini menggambarkan kompleksitas krisis yang dihadapi, di mana sektor pendidikan harus beradaptasi dengan cepat di tengah keterbatasan infrastruktur dan tekanan konflik.
Ke depan, keberlanjutan pendidikan di Iran akan sangat bergantung pada stabilitas keamanan serta kemampuan pemerintah dalam memulihkan infrastruktur yang rusak.
Hingga saat ini, pembelajaran melalui televisi dan platform daring menjadi satu-satunya solusi agar proses pendidikan tetap berjalan di tengah situasi darurat.
Editor : Muhammad Azlan Syah