Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Motif Penganiayaan Nelayan hingga Tewas di Makassar Terungkap, Berawal dari Konflik Anak

Ika Nur Jannah • Rabu, 22 April 2026 | 15:24 WIB
Seorang nelayan tewas ditusuk di Makassar setelah konflik anak memicu pertikaian orang tua yang berujung tragis. (Sumber Foto: Pinterest)
Seorang nelayan tewas ditusuk di Makassar setelah konflik anak memicu pertikaian orang tua yang berujung tragis. (Sumber Foto: Pinterest)

 

RADARBONANG.ID – Kasus penganiayaan yang menewaskan seorang nelayan di kawasan Pulau Kodingareng, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya mulai menemukan titik terang.

Polisi mengungkap bahwa insiden berdarah tersebut dipicu oleh persoalan sepele yang melibatkan anak-anak, namun berujung tragis karena emosi yang tidak terkendali.

Peristiwa ini terjadi pada Senin malam (20/4) di Pulau Kodingareng, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

 Korban diketahui berinisial MA (37), sementara pelaku adalah I (40), yang juga berprofesi sebagai nelayan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Rahasia Sukses Personal Branding: Pakar Sebut Visual Menarik Saja Tak Cukup, Harus Ada ‘Isinya’

Berawal dari Pertikaian Anak

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, konflik bermula dari pertikaian antara anak korban dan anak pelaku.

Korban diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap anak pelaku berinisial SL (11).

Tidak terima dengan perlakuan tersebut, anak pelaku kemudian mengadu kepada ayahnya.

Mendengar laporan tersebut, pelaku tersulut emosi dan berusaha mencari klarifikasi langsung kepada korban.

Namun, pertemuan antara kedua orang dewasa itu justru berubah menjadi pertengkaran hebat.

Ketegangan yang awalnya hanya sebatas persoalan anak-anak berkembang menjadi konflik fisik yang tidak terkendali.

Perkelahian Berujung Penusukan

Dalam kondisi emosi yang memuncak, pelaku akhirnya melakukan tindakan kekerasan yang fatal.

Ia menusuk korban menggunakan senjata tajam pada bagian perut.

Luka yang dialami korban tergolong sangat serius hingga menyebabkan organ dalam keluar.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut berusaha memberikan pertolongan, namun kondisi korban sudah kritis.

Korban akhirnya meninggal dunia akibat luka parah yang dideritanya.

Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta masyarakat sekitar yang tidak menyangka konflik kecil bisa berujung pada hilangnya nyawa.

Pelaku Serahkan Diri ke Polisi

Setelah kejadian, pelaku tidak melarikan diri. Ia justru memilih menyerahkan diri ke pihak berwajib dengan membawa barang bukti berupa pisau yang digunakan dalam aksi penganiayaan tersebut.

Pelaku kemudian diamankan di Polres Pelabuhan Makassar untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Sikap kooperatif pelaku menjadi salah satu faktor yang mempercepat proses penanganan kasus ini.

Sementara itu, jenazah korban dievakuasi oleh aparat kepolisian untuk dilakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian secara medis.

Polisi Ungkap Motif Murni Emosi

Kanit Pidana Satreskrim Polres Pelabuhan Makassar, Yudha Dewa, menjelaskan bahwa motif utama dalam kasus ini adalah persoalan pribadi yang dipicu oleh konflik anak.

Menurutnya, tidak ada unsur perencanaan dalam aksi tersebut. Tindakan pelaku murni dipengaruhi emosi sesaat yang tidak terkendali.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana konflik kecil dapat berkembang menjadi tragedi besar jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin.

Terancam Hukuman Penjara

Atas perbuatannya, pelaku kini harus mempertanggungjawabkan tindakannya secara hukum.

Ia dijerat dengan Pasal 466 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian.

Ancaman hukuman yang dihadapi pelaku mencapai tujuh tahun penjara. Saat ini, pelaku masih dalam proses penyidikan lebih lanjut untuk melengkapi berkas perkara.

Polisi juga terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi guna mendapatkan gambaran utuh mengenai kronologi kejadian.

Imbauan untuk Menahan Emosi

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya mengendalikan emosi, terutama dalam menghadapi konflik sehari-hari.

Persoalan yang melibatkan anak-anak seharusnya dapat diselesaikan secara bijak tanpa melibatkan kekerasan.

Peran orang tua dalam mengelola konflik menjadi sangat penting agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Baca Juga: Hari Buku Internasional, dan Memahami Perubahan Cara Membaca Generasi Sekarang

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mengedepankan komunikasi dan musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Tragedi yang Menjadi Pelajaran

Insiden ini menjadi pelajaran berharga bahwa konflik kecil sekalipun dapat berujung fatal jika tidak ditangani dengan baik.

Emosi yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang berujung penyesalan seumur hidup.

Dengan adanya penegakan hukum yang tegas, diharapkan kasus ini dapat memberikan efek jera sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menyelesaikan konflik secara damai.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#penganiayaan Makassar #nelayan tewas Makassar #konflik anak berujung maut #kasus penusukan Makassar #Polres Pelabuhan Makassar