Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Susu Formula Bukan Kebutuhan Primer Bayi? Ketua AIMI Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Strategi Marketing Global

Nadia Nur Riyadotul Aicha • Rabu, 22 April 2026 | 10:33 WIB
AIMI menegaskan pentingnya ASI sebagai standar emas nutrisi bayi di tengah kuatnya pengaruh pemasaran susu formula. (sumber : freepik)
AIMI menegaskan pentingnya ASI sebagai standar emas nutrisi bayi di tengah kuatnya pengaruh pemasaran susu formula. (sumber : freepik)

 

RADARBONANG.ID – Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, Nia Umar, menyoroti bagaimana pemasaran susu formula menjadi salah satu strategi marketing paling sukses di dunia.

Menurutnya, promosi yang masif telah mengubah cara pandang masyarakat hingga produk tersebut seolah menjadi kebutuhan utama bagi bayi.

Padahal, dalam kondisi normal, susu formula tidak dapat menggantikan peran Air Susu Ibu (ASI) yang memiliki fungsi biologis jauh lebih kompleks.

Pergeseran persepsi ini dinilai berbahaya karena dapat memengaruhi keputusan orang tua dalam memberikan nutrisi terbaik bagi anak sejak awal kehidupan.

Baca Juga: IPK Tinggi, Tapi Tidak Siap Kerja: Potret Kesenjangan Pendidikan dan Dunia Industri

Empat Pilar Standar Emas Nutrisi Bayi

Mengacu pada pedoman World Health Organization, Nia menjelaskan bahwa terdapat empat pilar utama dalam pemenuhan nutrisi bayi yang dikenal sebagai standar emas.

Pilar tersebut meliputi Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) rumahan, serta melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.

Menurutnya, standar ini bukan sekadar anjuran, melainkan fondasi penting dalam membentuk kesehatan, imunitas, serta perkembangan kognitif anak secara optimal sejak dini.

ASI: Cairan Hidup yang Tak Tergantikan

Lebih dari sekadar sumber nutrisi, ASI memiliki keunggulan yang tidak bisa ditiru oleh produk buatan.

Salah satunya adalah kemampuannya menyesuaikan komposisi secara otomatis sesuai kebutuhan bayi.

Nia Umar menjelaskan bahwa kandungan antibodi dalam ASI dapat berubah mengikuti kondisi kesehatan bayi, sehingga memberikan perlindungan alami terhadap berbagai penyakit, mulai dari infeksi ringan hingga gangguan serius.

Keunggulan ini menjadikan ASI sebagai “cairan hidup” yang bersifat dinamis, bukan sekadar makanan statis seperti susu formula.

Risiko Penggunaan Susu Formula

Penggunaan susu formula tanpa indikasi medis yang jelas berpotensi menimbulkan berbagai risiko kesehatan.

Dalam jangka pendek, bayi dapat mengalami alergi, gangguan pencernaan, hingga infeksi akibat penyiapan yang tidak higienis.

Sementara dalam jangka panjang, risiko yang muncul bisa lebih serius, seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan metabolisme lainnya.

Tak hanya itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan dampak yang lebih luas.

Salah satu studi kohort di Brasil menemukan bahwa anak yang mendapatkan ASI secara optimal cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi serta peluang ekonomi yang lebih baik saat dewasa.

Tantangan: Dominasi Industri dan Edukasi

Di balik masifnya penggunaan susu formula, terdapat tantangan besar berupa dominasi industri dan strategi pemasaran yang agresif.

Iklan yang menyasar emosi orang tua sering kali membentuk persepsi bahwa susu formula adalah solusi praktis dan setara dengan ASI.

Nia Umar mengungkapkan bahwa konflik kepentingan antara industri dan tenaga kesehatan kerap memengaruhi rekomendasi kepada ibu, bahkan dalam kondisi yang sebenarnya tidak membutuhkan susu formula.

Ia menegaskan bahwa perjuangan AIMI bukan untuk menyalahkan ibu, melainkan untuk meluruskan informasi yang beredar agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kebutuhan medis, bukan tekanan pasar.

Pentingnya Dukungan Sistemik

Keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga sistem yang mendukung.

Kebijakan seperti cuti melahirkan yang memadai, ruang laktasi di tempat kerja, serta ketersediaan bank ASI menjadi faktor penting.

Tanpa dukungan tersebut, ibu bekerja akan kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi anak melalui ASI, meskipun memiliki keinginan kuat untuk menyusui.

Selain itu, menyusui juga memberikan manfaat besar bagi kesehatan ibu, termasuk menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium, serta membantu pemulihan pasca persalinan.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Diproyeksi Melambat pada 2026 Menurut IMF, Konsumsi Domestik Jadi Penopang Utama

Investasi untuk Masa Depan Generasi

Pada akhirnya, menyusui bukan hanya soal pilihan pribadi, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.

Generasi yang mendapatkan nutrisi optimal sejak bayi cenderung tumbuh lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Nia Umar menegaskan bahwa keberhasilan menyusui membutuhkan peran kolektif dari keluarga, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.

“Ini bukan hanya tanggung jawab ibu, tapi tanggung jawab bersama sebagai bangsa,” pungkasnya. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#ASI eksklusif #AIMI Indonesia #Nia Umar #nutrisi bayi WHO #susu formula bayi